Bermain di Alun-alun Kota Wates

Di berbagai kota di Indonesia, yang namanya alun-alun selalu digunakan masyarakat untuk menjadi pusat keramaian atau berkumpul, dengan beragam aktivitas. Tak terkecuali di alun-alun Kota Wates, Yogyakarta.

Alun-alun yang terletak di jantung kota ini, cukup besar. Luas pastinya saya kurang tahu berapa hektar, namun yang pasti ada lapangan bola juga di samping alun-alun utama. Alun-alun ini dikelilingi oleh beberapa kantor pemerintahan dan juga rumah dinas Bupati Kulon Progo. Selain lapangan bola, di dalamnya ada pula dinding buatan untuk olahraga panjat tebing, dan juga lapangan basket. Tak lupa pula ada mainan perosotan untuk anak-anak.

Aktivitas yang cukup meriah berlangsung pada malam hari di sini. Di seberang alun-alun ada sisi yang khusus diperuntukkan bagi para penjual makanan kaki lima. Memanfaatkan trotoar yang tersedia para pedagang berjualan aneka makanan mulai dari pecel lele, soto, nasi goreng, gudeg dan masih banyak lagi. Sayang saya tidak sempat mengabadikan deretan pedagang kaki lima ini.

Di bagian taman alun-alun, tersedia aneka mainan anak-anak . Sepintas mirip di pasar malam rakyat. Berikut beberapa di antaranya:

1. Memancing ikan


Bukan ikan sungguhan yang dipancing. Melainkan ikan-ikanan yang bisa ditangkap dengan pancingan magnet ataupun jaring. Kolam-kolaman di-setting untuk berarus sehingga tak mudah untuk memancing. Untuk permainan ini dikenakan tarif Rp5.000,- sampai puas.

2. Odong-odong

Ada yang odong-odong abang-abang menggunakan tenaga angin/sepeda dan ada pula yang menggunakan listrik. Yang listrik berputar satu arah layaknya carousel. Sekali bermain dikenakan tarif Rp4.000,- sampai puas juga.

3. Skuter, dikenakan biaya sekitar Rp10.000,- untuk per 20 menit. Skuter ini hanya bisa untuk anak-anak usia 5 tahun ke atas. Sayang saya tak sempat mengabadikan foto pas Alun naik skuter.

4. Motor trail anak beroda empat.


Tarifnya agak mahal, Rp15.000,- per 10 menit. Dengan motor trail mini ini, anak-anak bisa merasakan sensasi nge-trail layaknya orang dewasa, tentunya dengan kecepatan yang sudah di set untuk tidak terlalu kencang. Permainan ini dimainkan di area lapangan bola. Abang-abang pemiliknya akan membantu setiap anak untuk belajar tombol-tombol terlebih dahulu sebelum mulai bermain. Semacam training kecil-kecilanlah.

5. Kereta-keretaan

Per anak dikenakan tarif Rp5.000,-. Saya juga heran karena abangnya membiarkan anak saya naik kereta ini sepuasnya, tidak dibatasi waktu. Lumayan ya, harganya murah.

6. Mobil-mobilan aki

Untuk anak yang kecil usia 2-3 tahun yang belum bisa mengendalikan mobilnya, tersedia mobil plusguide yang bisa membantu me-remote. Jadi anak tinggal duduk manis di dalam mobil. Sementara untuk anak yang lebih besar, mobil akinya tanpa remote, jadi bisa disetir sendiri. Sepuluh ribu rupiah untuk 10 menit. Namun sayang, area untuk bermain mobil-mobilan ini agak sempit karena harus berbagi dengan permainan lainnya.

Sebenarnya masih ada beberapa permainan lagi di sini seperti ayunan yang bisa dinaiki beramai-ramai dan  rumah balon mini. Tapi anak saya tidak sempat menikmati kedua permainan tersebut, mengingat waktu yang semakin malam.

Sebagai penutup, kami pun menikmati satu yang khas dari alun-alun Wates ini. Apalagi kalau bukan becak hias. Belakangan saya baca dan lihat di media, becak hias juga ternyata ada di beberapa kota selain Wates. Becak ini merupakan kendaraan modifikasi yang diberi ornamen dan bentuk aneka ragam, dan dilengkapi dengan lampu hias plus sound system pemutar musik untuk semakin menarik perhatian. Satu becak bisa dinaiki 4-5 orang. Penumpang adalah sekaligus pengayuh becak. Pedal kayuhan disediakan di kursi depan dan belakang. Sementara setirnya dibuat sama seperti setir mobil untuk memudahkan penumpang mengarahkan becak. Tarif becak hias ini Rp20.000,- untuk satu kali putaran mengelilingi alun-alun. Yang unik, rute becak ini khusus di kanan jalan. Memang dibuat seperti itu agar tidak tabrakan dengan kendaraan umum lain yang berseliweran di jalanan lingkar alun-alun. Jadi kalau mulai mengayuh, harus selalu disetir di kanan jalan. Saat kami di Wates, jumlah becak yang dioperasikan adalah 7 unit. Kalau sedang banyak pengunjung, ya harus antre.

Pedagang jajanan dan minuman juga banyak di alun-alun ini. Yang saya suka dari alun-alun ini adalah tingkat kebersihannya. Selama berada di sana, saya jarang sekali melihat sampah berceceran di tanah padahal pengunjung juga lumayan padat. Senang rasanya berada di lingkungan yang bersih begitu.

Kekurangan alun-alun ini adalah belum ada fasilitas MCK. Sejauh mata saya memandang tidak nampak satupun WC. Harapannya, mudah-mudahan Pemda setempat tidak hanya berhasil fokus menjaga kebersihan alun-alun tapi juga memenuhi fasilitas umum yang cukup penting itu.

Tulisan ini sudah dimuat di http://theurbanmama.com/articles/bermain-di-alun-alun-kota-wates.html  tanggal 29 November 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s