Wisata Sejarah Gunung Merapi

Saat libur lebaran kemarin ketika berkunjung ke rumah sepupu di Sleman, kami sekeluarga diajak untuk sekalian main-main ke Gunung Merapi. Minimal melihat-lihat Petilasan Mbah Maridjan. Wisata sejarah, ceritanya.

Sepupu saya bahkan menawarkan diri menjadi guide kami semua. Akhirnya berangkatlah kami dari Sleman, menempuh perjalanan sekitar 45 menit untuk sampai ke lokasi wisata Gunung Merapi. Ketika sudah mendekati tujuan, nampaklah sang gunung berdiri kokoh nan agung, menjulang hampir 3.000 meter di depan mata kami. Saat itu masih siang, sehingga puncaknya masih terlihat jelas walau dari kejauhan. Merinding rasanya, apalagi asap tipis masih tampak keluar dari mulut kawahnya.

Di pintu masuk, setiap pengunjung dikenakan tarif Rp3.000,- per orang.

Setelah memarkir mobil, mulailah kami berjalan kaki menanjak ke arah Petilasan. Petilasan sendiri kurang lebih artinya adalah ‘peninggalan’. Jadi sebenarnya yang akan kami tuju adalah bekas rumah alm.Mbah Maridjan, yang terletak di Dusun Kinahrejo di lereng Gunung Merapi.


Di pintu masuk lokasi wisata, banyak ojek yang menawarkan jasa mengantar ke Petilasan. Harganya cukup mahal (menurut saya), Rp30.000,- untuk pulang-pergi per orang. Jarak tempuh dari pintu masuk ke Petilasan sendiri kurang lebih hanya 1,4 km, untuk sekali jalan dikenakan Rp10.000,-. Uniknya, ojek-ojek di Merapi banyak yang ibu-ibu loh.

Awalnya kami masih berusaha jalan kaki saja. Begitu banyak ojek menawarkan jasanya, namun kami tetap memilih jalan. Padahal kaki sudah sangat lelah, karena tanjakan yang cukup tinggi (walau sudah beraspal bagus) lumayan membuat betis ini rasanya tak sanggup menahan beban tubuh.

Akhirnya kami menyerah, sudah tak kuat lagi berjalan. Kami pun menggunakan jasa ojek sekali antar ke Petilasan setelah 5 menit berusaha berjalan kaki. Jadi hanya bayar Rp10.000,-. Di sepanjang jalan, kami melihat banyak wisatawan  lain yang tetap memilih berjalan kaki, termasuk para wisatawan asing.

Sampai di Petilasan, banyak yang dapat disaksikan. Pertama, sudah pasti bekas rumah almarhum Mbah Maridjan yang konon waktu wedhus gembel datang, habis tak bersisa. Di atas bekas rumah tersebut dibangun semacam pendopo untuk mengingatkan tempat tinggal sang juru kunci Merapi tersebut.

Di samping rumah dibuat semacam museum sederhana. Di dalamnya dipamerkan seperangkat gamelan milik almarhum.


Kemudian juga ada mobil APV dan motor yang merupakan saksi bisu satu-satunya kendaraan bermotor yang membantu proses evakuasi saat Merapi meletus. Semua habis dipanggang keganasan sang wedhus gembel.

Tak lupa pula dipajang beberapa perabotan dan alat-alat masak yang juga sudah habis terpanggang di dapur rumah almarhum.


Di museum tersebut juga dipasang poster besar yang menjelaskan kronologis detik-detik meletusnya Merapi hingga meninggalnya sang juru kunci. Di depan bekas rumah, anak almarhum membuka warung yang menjual aneka suvenir, makanan dan minuman ringan.

Tak puas sampai di situ, kami mengikuti serombongan wisatawan lain turun ke bawah menuju Kali Opak. Namanya saja kali, namun penampakannya kering kerontang dan hanya dipenuhi bebatuan besar dan kecil hasil lontaran saat gunung Merapi meletus. Berada di bekas rumah, museum, dan Kali Opak rasanya sama merindingnya. Tidak terbayang kondisi ketika letusan terjadi, berton-ton batu, lava, dan lahar super panas dimuntahkan dari kawah gunung Merapi. Berdiri di Kali Opak, diri ini rasanya sangat kecil di hadapan sang Pencipta.

Di Kali Opak, banyak wisatawan asyik ber-selfie ria. Sebenarnya semua orang di situ sangat ingin mendapatkan selfie berlatar belakang puncak Merapi, namun apa daya, hari menjelang sore dan menurut penduduk setempat sudah seminggu puncak selalu tertutup kabut di sore hari.

Setelah puas berada di Kali Opak, kami naik kembali ke Petilasan. Membeli suvenir berupa kaos dan mendapatkan kantong plastik yang menurut saya spesial karena hanya terdapat di Kinahrejo, penampilannya seperti ini:

Dari Petilasan, kami pun turun kembali menuju parkiran mobil kembali. Ojek banyak yang menawarkan mengantar turun tetapi kami keukeuh jalan kaki saja. Karena jalannya menurun, yakin tidak bakal capek. Ini foto suami dan anak sedang turun.


Sampai di parkiran, kami beristirahat sejenak, membeli minum di warung. Banyak operator penyewaan jeep dan motor trail untuk mengantar para wisatawan tour keliling seputaran Merapi namun kami kurang tertarik karena arenanya off road sementara kami membawa balita. Sudah pasti agak ngeri ya membayangkan anak kecil terguncang-guncang dalam jeep seperti itu. Bahkan di salah satu track, seperti pada  foto berikut ini, track-nya berbasah-basahan ria.


Bagi yang tertarik mengikuti jeep tour, para operator ini menerapkan tarif kurang lebih Rp250 ribu per jam untuk satu jeep (1 jeep = 4 orang+1 driver).

Karena hari semakin sore, menjelang waktu maghrib akhirnya kami pun pulang. Meninggalkan sang gunung yang semakin tertutup kabut. Walau tak dapat menikmati indahnya pemandangan pundak Merapi, namun senang rasanya sudah pernah berkunjung ke lereng gunung yang menjadi saksi bisu wafatnya sang juru kunci.

Tulisan ini sudah dimuat di http://theurbanmama.com/articles/wisata-sejarah-gunung-merapi.html tanggal 17 Oktober 2015

Advertisements

2 thoughts on “Wisata Sejarah Gunung Merapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s