Setu Babakan

Kalau lagi tanggal tua, rasanya pengen berlibur atau sekedar ngajak anak-anak jalan-jalan kok ya mikir sampe 100 kali? Karena tanggal tua kan identik dengan menipisnya dompet para ortunya dong ya 🙂

Nah, sepertinya tempat yang satu ini bisa menjadi pilihan para orang tua saat menjelang akhir bulan. Ya, Setu Babakan.

Setu Babakan adalah sebuah danau yang terletak di Srengseng Sawah Jakarta Selatan. Tepatnya di Jalan RM Kahfi II, Jagakarsa. Danau ini luasnya kurang lebih 32 hektar, dan sejak tahun 2004 ditetapkan sebagai kawasan Cagar Budaya oleh Pemerintah. Mengapa? Karena di sekeliling danau ini adalah perkampungan Betawi asli, di mana kita masih bisa mendapati dan menyaksikan segala sesuatu yang berbau kebudayaan Betawi. Mulai dari rumah adat, makanan, apparel/baju khas dan aksesorisnya, sampai pertunjukan seni budaya Betawi, semua bisa ditemukan di sini.

Bagi yang hobi memancing, silakan datang juga ke sini, karena pemancing bebas memancing tanpa dipungut biaya.

Kami memutuskan mencoba datang ke Setu Babakan pada hari libur nasional. Untuk masuk, hanya dikenakan biaya parkir kendaraan. Dua ribu Rupiah untuk parkir motor, dan terserah berapa Rupiah untuk mobil. Eh bener loh, abang parkirnya ngomong gitu pas kami bawa mobil. Akhirnya suami membayar Rp10,000 untuk satu kali parkir mobil. Jalanan di sekeliling Setu ini, sudah di paving block, walaupun di beberapa titik ada paving block yang sudah rusak juga dan belum diperbaiki.

Saya merasa mirip pergi ke pasar malam, di mana kanan dan kiri jalan diisi oleh aneka ragam pedagang. Bukan hanya makanan minuman, tapi juga mainan anak-anak, baju, sandal, topi bahkan ikan hias dan hamster plus kandangnya pun ada yang menjual. Belum lagi warung sembako sederhana, wah banyak deh di sini.

Khusus di bagian persis pinggir Setu, yang berjajar adalah para penjual makanan, yang tempat duduknya terbuka. Sehingga pengunjung dapat menikmati suasana danau sembari ditiup angin sepoi-sepoi, di bangku dan meja kayu. Makanan di sini otomatis harganya sangat terjangkau. Segala jenis penjual/abang-abang gerobak (istilah saya) ada. Mulai dari kue rangi, kue ape, es potong, es goyang, es doger, es selendang mayang, tumplek blek. Harga yang mereka pasang tentunya sama seperti saat kita membeli dagangan mereka di luar kawasan wisata ini.  Setu Babakan juga dilengkap dengan mushola dan toilet.

Karena anak-anak sudah tidak sabar lagi, untuk pertama kami mencoba naik delman. Satu kali keliling hanya dikenakan tarif Rp20,000.

Setelah naik delman, kami mencoba naik sepeda air (bebek-bebekan). Oya untuk tips aja nih: jam 12.00-13.00 WIB, loket karcis sepeda air tutup karena petugasnya juga beristirahat. Jadi kalau mau naik di jam segitu harap tunggu dulu ya. Untuk tarifnya sendiri: orang dewasa Rp7,500/orang, balita Rp5,000/orang. Lumayan gempor naik sepeda air ya karena mengayuh keliling seperempat danau. Kok seperempat danau? Ya, sebab jalur sepeda air ini sudah dibatasi dengan tali sepanjang kurang lebih seperempat luas total danau, sehingga semua wisatawan harus mengayuh mengikuti jalur yang sudah ditentukan tersebut. Untuk safety, setiap sepeda air dilengkap dengan 1 buah life jacket. Sementara di darat, guide selalu memantau setiap orang yang berada dalam sepeda air dengan menggunakan pengeras suara/toa. Jadi kalau ada sepeda air yang keluar atau tidak sesuai jalur, dengan sigap guide tersebut mengarahkan melalui instruksi dari darat.

Selesai naik sepeda air, kami makan siang. Selesai makan, kami sholat dzuhur sambil menikmati pemandangan rumah adat khas Betawi. Kalau sedang beruntung katanya sering ada pertunjukan entah lenong atau pun tari-tarian khas Betawi. Namun saat kami datang tidak ada, yang ada hanya lomba grup kasidah saja.

Sebenarnya masih ada dua wahana lain yang belum kami coba yaitu naik perahu naga dan carousel. Untuk perahu naga sendiri, ada 4 orang operator pendayung (dalam 1 perahu) yang siap mendayung membawa penumpang  mengelilingi danau. Sedangkan untuk carousel di Setu Babakan ini sama persis seperti yang sering kita temui di pasar malam. Bapaknya anak-anak belum berani mengijinkan kami menaikinya, karena terlihat gak terlalu safety dan muternya rada kencang 🙂

Karena hari sudah semakin siang dan anak-anak terlihat lelah, maka kami memutuskan untuk pulang. Asik juga wisata ke Setu Babakan. Kapan-kapan ingin ke sini lagi bukan hanya untuk menikmati wisata airnya tapi……kulineran dong yaaa 🙂

Tulisan ini sudah dimuat di http://www.liburananak.com/id/parents-stories/08-2015/41/setu-babakan#.VmqCRkqLTIU tanggal 6 Agustus 2015.

Advertisements

2 thoughts on “Setu Babakan

  1. rini says:

    Oalah ketemu setu babakan wkwkwk.
    Kemarin itu pas rini ke jakarta, mau ke sini. Tapi kayaknya waktunya nggak cukup.
    Rini mau nabung, mau ke setu babakan. Hahaha. Habisnya, penasaran banget sama kampung betawi. Katanya ada gitu yang sampai pelosok pelosok itu, suku betawi pedalaman. Penasaraann, di tengah kota besar gitu :’)

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s