The Battle That (Hopefully) Will End

ART saya malam itu menerima telepon. Dari anaknya di kampung. Si anak perempuan usianya baru 6 tahun, baru mau masuk SD. Terjadilah obrolan ibu anak. Standar seperti menanyakan kabar, sudah makan atau belum , lagi main apa dan lain-lain.

Terlintas dalam hati…..betapa sedihnya kalau saya harus jadi dia. Meninggalkan 2 anak di kampung demi mencari tambahan biaya anaknya sekolah. Suaminya bukan tidak bekerja. Kerja kok, di perkebunan kelapa sawit di daerah Lampung-Sumatera. cuma ya memang kalau hanya mengandalkan nafkah dari suami, tidak cukup untuk anak sekolah plus biaya hidup sehari-hari.
Suatu hari pernah ART bercerita bahwa anaknya telepon siang-siang, dan ART memberikan telepon ke anak saya yang usianya juga sama-sama 6 tahun, supaya mereka ngobrol.

Anak saya: mbak Ria lagi ngapain?
Anak ART: lagi main. Kalo kamu ngapain?
Anak saya: aku juga lagi main. Mbak Ria mamanya mana?
Anak ART: mamaku kan lagi kerja di rumah Alun, lagi ngurus kamu.

Mendengar cerita soal obrolan mereka di malam hari sepulang saya dari kantor, membuat saya tersenyum sekaligus berkata dalam hati: ah anaknya ART nampaknya sudah lebih dewasa dalam bertindak dan bersikap. Alih-alih dia menangis, dengan polos khas anak-anak dia rela berkata bahwa ibunya sedang kerja di rumah saya, mengurus anak saya. Padahal harusnya dialah yang lebih berhak diurus ibunya.

Sering ya kita lihat banyak sekali wanita harus bekerja di luar rumah, bahkan harus meninggalkan keluarganya berbulan-bulan lamanya seperti para pekerja domestik rumah tangga di Jakarta.  Yang nasibnya lebih beruntung ya tidak sampai pergi berbulan-bulan, bisa pulang hari tapi ya tetap bekerja. Siapa mereka? Banyak. Ada perawat/suster di RS, guru TK, bidan, dokter kandungan, dan masih banyak lagi. Sering pula, bahkan sampai kiamat saya rasa, banyak pertempuran antara mana yang lebih baik antara ibu rumah tangga dan ibu bekerja. Dua kubu sama-sama saling cibir, saling nyinyir, dan merasa paling benar. Memang sampai saat ini yang “kelihatan” lebih menang ya kubu ibu rumah tangga.

Ada baiknya mari merenung. Tarik nafas dalam-dalam. Hidupkan empati. Buat yang ibu rumah tangga, tanyakan pada diri kita sendiri, maukah kalau guru sekolah TK anak kita laki-laki semua di mana mereka bukan hanya harus mengajar anak  tapi juga membantu membersihkan ketika anak kita buang air besar dan kecil di sekolah?

Bersediakah ketika harus memeriksa kehamilan ditangani oleh bidan laki-laki, atau ketika harus dirawat di rumah sakit terpaksa harus berhadapan setiap hari dengan perawat laki-laki? Waktu saya mau melahirkan anak kedua, di rumah bersalin itu ada bidan yang sedang handle pasien yang sudah bukaan 7 dan sang bidan kebetulan membawa anaknya ke tempat kerjanya, mungkin karena pas di rumah sedang tidak ada yang bisa mengurus. Alih-alih membelai dan memeluk anaknya yang kebetulan merengek minta sesuatu, dengan terpaksa sang bidan menitipkan anak itu ke petugas admin rumah bersalin sementara ia berjibaku membantu proses kelahiran pasien tadi. Sudah kebayang kok kalau misalnya si ibu yang bukaan 7 tiba-tiba di-offer ke bidan laki-laki (kalau misalnya memang ada ya di dunia bidan laki-laki) apa yang akan terjadi.

Atau maukah kita dibantu di rumah oleh asisten rumah tangga laki-laki? Jika suatu saat misalnya sampai pemerintah mengganti kebijakan dan mengharuskan semua guru TK adalah laki-laki, pernahkah kita bayangkan bahwa kita akan tampil sebagai the number one protester? Pernahkah  membayangkan, betapa sedihnya seorang guru TK harus pergi mengajar sementara anaknya ditinggal di rumah? Atau seperti ART saya yang harus begitu lama tidak berada di samping anaknya yang masih kecil yang harusnya masih butuh begitu banyak bimbingan dan perawatan dari tangan seorang ibu?

Di satu sisi kita nyinyir terhadap ibu bekerja, di sisi lain kok membutuhkan mereka bekerja ya? Sekali lagi, mari hidupkan empati, buka hati dan nurani, walau tak bisa 100% tulus, minimal berupaya meredam agar “pertempuran” yang sudah sejak lama ada ini tidak berlarut-larut. Bahkan bisa berakhir! Oh indahnya dunia 🙂

Empathy is seeing with the eyes of another, listening with the ears of another, and feeling with the heart of the another. (Alfred Adler).

Advertisements

2 thoughts on “The Battle That (Hopefully) Will End

  1. Hastira says:

    banyak yang suka nyinyir sama ibu bekerja, tapi aku sih da kerja juga, tapi alasan yang mbak tulis gak pernah kepikiran oleh daku ya, Wah , yuk perlu ibu2 kuat dan mental baja yang mau bekerja di luar

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s