Belajar Empati dari Abang Ojek

empathy

gambar dari sini

Sejak maraknya ojek online beroperasi, saya pun mendadak jadi pelanggan setia. Ganti-gantian aja antara Grabbike atau Gojek. Belum pernah nyoba yang lain karena aplikasi yang paling stabil menurut saya ya hanya dua itu tadi. Mana yang promonya seru, itu yang dipakai. Ahay…mental promo bener ya?

Hehehe…gak papa dong ah, namanya juga ibu-ibu, sukanya kan gak jauh-jauh dari diskon dan promo-promo ceria ūüôā *benerin rambut*

Saya pergi pulang kantor praktis sekarang selalu menggunakan ojek online. Terkadang saat memesan, pas lagi hoki, dapatnya abang ojek yang posisinya dekat dengan rumah atau kantor saya, terus abangnya pun ngerti jalan. Jadi gak butuh waktu lama, dia hadir di depan mata. Senangnya….apalagi kalau si abang sangat kooperatif dan hafal jalan-jalan tikus di Jakarta ini. Bonus banget buat pelanggan .

Kebalikannya, kalau si abang ojek posisinya sebenernya gak jauh dari rumah/kantor tapi berhubung enggak seberapa paham daerah tempat dia narik, akhirnya nyari alamat kita mesti muter-muter dulu. sering juga saya dapat abang yang model begini. Di peta dia sudah terlihat dekat, tau-tau dia muter ke arah yang menjauh. Sudah ditelepon si abang dan kita jelaskan dengan detil arahannya, tetep aja si abang enggak bisa nemuin posisi kita. Gemes, kesel, campur jadi satu di hati. Mengikuti arah dia bergerak menjauh di peta aplikasi, semakin membuat saya¬†terkadang jadi emosi. Ujung-ujungnya merutuk dalam hati “duh si abang, ketauan banget newbie deh, enggak ngerti daerah. Apa susahnya sih dia tanya-tanya kek ke orang sekitar! Dicancel aja deh!”

Tapi…….alhamdulilah niat itu terkadang saya urungkan. Kenapa gak jadi cancel? Padahal kadang hampir 20 menit saya habiskan cuma nungguin si abang datang. Karena sambil narik nafas nahan emosi, otak mulai mikir: “abang itu usaha nyari rumah saya, muter-muter, cuma untuk meraup 34 ribu Rupiah (ongkos non promo untuk tujuan rumah ke kantor dan sebaliknya). Buat saya mungkin uang segitu gak seberapa, tapi buat dia? Siapa tau di rumah dia punya anak yang butuh biaya sekolah, istri yang butuh uang beli beras, atau dia sendiri yang mau bayar cicilan motor yang belum lunas.¬†Apa rasanya kalau saya cancel orderannya?”

Belajar empati. Belajar berada di posisi abang ojek tadi. Yang gak setiap saat bisa dapat uang, dapat orderan, apalagi persaingan ojek online makin ke sini makin ketat. Lebih-lebih kalau sudah sampai di depan kita ternyata abangnya sopan dan ramah sembari¬†berkata: “mbak mohon maaf sekali saya kelamaan muter-muter nyari rumah mbak”.

Daripada emosi, mending energinya di”buang” dengan berbagi kebahagiaan ke keluarga si abang yang menunggu di rumah, lewat cara tidak mencancel orderannya.

*tulisan ini bukan bagian dari promosi atau product review ojek online ya. Ditulis hanya untuk berbagi. Siapa tau menginspirasi*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s