Letter for my Friends

“Hare genee? Surat menyurat? Hahahaha….e-mail aja kaleee”

Sering gak denger candaan model begitu? Candaan yang ditujukan untuk orang-orang yang sampai saat ini masih setia ke kantor pos, menempelkan perangko di amplop surat. entah surat untuk teman, saudara, kerabat atau pacar. Di era serba digital begini? Oh nooo…..

Saya sebenarnya ingin menulis salah satu hobi masa kecil saya. Terlahir di era 70-an akhir, wajar kalau hobi saya bukan main gadget tapi gak jauh-jauh dari main lompat karet, membaca dan….menulis surat. Waktu SD, saya sampai mengirimkan foto dan biodata ke rubrik Sahabat Pena di salah satu majalah anak-anak yaitu ANANDA. Pas data diri saya dimuat, senangnya aujubilah. Dan sejak saat itu ada beberapa sahabat pena yang rajin surat menyurat dengan saya. Khas anak-anak, kami saling bercerita tentang pengalaman sehari-hari di dalam surat kami. Salah satu teman saya bahkan menjadikan saya sahabat pena-nya karena dia punya nama yang sama dengan saya.Hihihihi…..
Bukan hanya dengan sahabat, saya pun kerap bersurat-suratan ria dengan saudara-saudara seumur yang tinggal di luar Jawa. Jaman dulu mah mana ada WA, chat, sms. Jadi ya kalo mau haha hihi dan sekedar ngobrol ya mesti nulis surat. Kenapa sih hobi nulis-nulis? Emang gak pegel ya? Entahlah….yang pasti saya menikmati prosesnya. Menikmati juga lembar demi lembar surat yang didapat dari orang lain. Kalau dapat selembar malah rasanya gantung, kalau isinya tiga lembar atau lebih nah itu baru top *situ bikin cerpen?*

Beranjak remaja, masuk SMP, hobi itu masih ada. Tapi semakin hari semakin menjarang, seiring dengan beralihnya fokus ke aktivitas lain. Entah bermain ke rumah teman, nonton TV swasta yang jumlahnya baru 1 di tanah air, dan membaca majalah remaja.

Masuk bangku kuliah, entah kenapa tetiba punya pikiran: berasa keren sejagat deh kalo punya temen dari luar negeri. Hohohoho….ciri khas orang Indonesia skali bukaaaaan? Apa-apa ngukurnya pake luar negeri. Emang kalo punya temen dari negeri sendiri kenapa kakaaaa…? *pites pala sendiri*

Hobi ini sempat terhenti, karena obsesi cupu tadi dan ketiadaan akses untuk “luar negeri” itu sendiri. Gimana mau dapat penpals dari negeri lain? Dapat datanya dari siapa coba?

Masuk dunia kerja, internet masih sulit diakses. Jamannya warnet waktu itu. Iseng browsing, ketemulah situs yang diperuntukkan bagi orang-orang yang ingin punya teman dari berbagai belahan dunia. Dulu belum ada smartphone canggih. Nah trus gimana mau naro foto pribadi di biodata di situs itu? Pergi ke photobox dong aaah…ngetrend gila di jaman itu haha. Abis punya foto, fotonya numpang scan di warnet jadi bisa diupload deh ke internet.

Di situs itu kita bisa pilih teman dari beragam negara dan beragam umur. Awalnya email-emailan. Trus kalau ada yang tertarik untuk bersurat-suratan ria, ya saling kasih alamat. Beberapa akhirnya bersurat-suratan ria dengan saya. Kalau disuruh sebut nama dan negara mereka sekarang, saya lupa. Kenapa? Karena ‘one hit wonder” (ini istilah buat artis yang cuma punya satu lagi hits, trus ngilang) alias cuma satu kali semangat saling menyurati, sudah itu entah kemana dia pergi. Tsaaaah…..maksud lo? Hahaha…iyaaa…maksudnya ya saking kelamaan kali ya untuk saling menunggu surat itu datang dari negeri seberang, udah cape jiwa sendiri dan akhirnya turun semangat. Sebagai contoh, saya mengirim surat ke Yunani, butuh waktu 2 minggu sampai ke negeri itu. Kalau langsung dibalas, bisa dua minggu lagi sampai ke tanah air. Kalau gak langsung dibalas piye? Bisa dua bulan dong baru dapat surat lagi dari dia nun jauh di sana. Cape batin, gaaan *nepuk2 dada*.

Ada rasa tersendiri tiap mendapat surat dari teman-teman negeri lain. Mulai dari tampilan amplop, perangko, style tulisan tangan yang khas orang sana (ga pernah ada yang rapi kayak orang Indonesia karena mereka gak ada kurikulum belajar nulis halus di sekolahnya hehe), kertas yang dipakai. Emotional feeling yang gak akan kita dapat kalau cuma ber email-emailan ria yang semuanya dikerjakan mesin. Ketika masih semangat bersurat ria dengan orang negeri nun jauh di sana, sebagian dari surat mereka masih saya simpan bagai menyimpan aset berharga đŸ™‚ Seiring waktu berjalan, satu per satu hilang entah ke mana.

Jpeg

Jpeg
Kemudian hobi ini surut kembali. Tahun 2009, saya lupa apa pemicunya. Saya kembali daftar di situs yang menyediakan jutaan orang yang ingin menjalin friendship all over the world. Nama situsnya http://www.interpals.net. Kalau di situs ini lebih terperinci lagi. Kita bisa pilih apakah kita ini mau yang bersurat-suratan ria atau hanya sekedar email. Istilah yang digunakan untuk surat-suratan manual adalah “snail mail”. Karena sungguh lambat bagai siput kali ya untuk mengirim dan mendapatkan surat dari manca negara, makanya istilahnya seperti itu. Lagi-lagi saya one hit wonder. Di awal daftar sungguh semangat. Orang-orang manca negara yang saya tuju tak kalah semangatnya. kami pun ber-snail mail ria. Ada yang di Inggris, Rusia, dan entah mana lagi. Untuk rentang usia, saya pilih yang seusia dan lebih tua dari saya.

Setelah punya anak, saya tak kuasa lagi. Tak ada waktu untuk membalas surat-surat dari teman luar negeri. Sudah sibuk dengan urusan anak plus bekerja kantoran. Account di interpals.net masih ada, tapi ya pemiliknya gak aktif lagi.

Untuk teman-temanku di negeri seberang sana…..maafkan sikapku ini ya. Hobi itu sudah lama terlupakan sejalan dengan bertambahnya kesibukanku sendiri. Hiks hiks….sorry kalau mengecewakan kalian.

Saya kini tidak tau, kapan hobi ini bisa ditekuni kembali. Mungkinkah kalau saya sudah tua dan pensiun nanti? Entahlah….saya pun belum bisa menjawabnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s