Berpijak pada Realita

fallin in love

gambar dari sini

Kemarin pas pindah-pindah channel TV, stasiun TV swasta NET sedang menayangkan program Melamar. Memang saya sudah lama tau ada acara ini di NET tapi ya gak pernah tertarik menontonnya. Gak tau deh, saban berhadapan dengan reality show, mindset saya udah negatif duluan : “ah semua hanya setting-an belaka”. Jangan ditiru mindsetnya ya pemirsaaa, hehe.

Balik lagi ke acara tadi. Gak niat nonton tapi kepo juga pas liat-liat sekilas, a.k.a curi-curi pandang. Itu acara sudah mau penghabisan kayaknya. Si cewek dilamar di atas semacam yacht. Ceweknya terkejut, trus singkat cerita ngomong ke si cowok yang sudah berlutut sambil nyodorin cincin (khas orang-orang bule ya? 🙂 )

Cewek: Kamu kan gak romantis orangnya, kok kamu ngelakuin semuanya gini ?(maksudnya mempersiapkan surprise lamaran sampe di kapal pesiar dll dll)

Cowok: (tersenyum penuh harap sambil tetep nyodorin cincin.)

Cewek: Akankah ini (romantisnya maksudnya) selamanya?

Cowok: i will

Cewek: really?

Cowok: (mengangguk sambil tetap tersenyum.)

Oh mbak mbak dan mas mas sekalian yang belum menikah dan baru mau memasuki jenjang itu…… berpijaklah pada realita. Si cowok sama saja berjanji bahwa ia akan romantis untuk selamanya? *Ih situ nyinyir ya? Biarin deh ah orang mau bersayang-sayangan ria, romantis-romantis srigala (nebeng nama sinetron nan ngetop ituh). Situ sirik ya?*

Romantis silakan. Hak semua orang. Namun tetap sewajarnya kalau boleh kasih saran. Dunia pacaran sama pernikahan beda bumi langit maliiiih….!

Pas pacaran, rasanya dunia cuma milik berdua. Segenap perhatian cinta dan kasih sayang hanya untuk si dia seorang. Bila perlu di expose ke semua sosmed yang kita punya. Oh indahnya duniaaa…..
Begitu masuk pernikahan? Hmmmm…..

Ada yang baru satu minggu menikah sudah banyak mengalami konflik, ada pula yang sudah berpuluh-puluh tahun baru mengalami konflik. Ada yang pacaran 5 tahun, nikahnya cuma 6 bulan, habis itu cerai. Menyatukan dua kepala yang berbeda jangan dikira perkara gampang. Bukan dua kepala malah, tetapi berbelas dan berpuluh kepala. Ya, karena saat nikah, kita bukan hanya menikah dengan pacar kita tapi juga dengan berpuluh-puluh orang keluarga dari kedua belah pihak.  Saat mengarungi pernikahan, akan selalu ada gonjang ganjingnya. Kalau ada yang bilang suami/istrinya selalu romantis setiap saat dan setiap hari, saya kok gak pernah mau percaya ya? Hehe…. Back to reality (again) kakaaa…. Saat kita pacaran, kita lagi berada dalam kondisi jatuh cinta. Ada rasa rindu, kangen, karena ketemu juga gak tiap hari. Ada rasa dag dig dug setiap kali berada dekat si dia. Semua kelakuan kita blinded by love. Hormon dopamine bekerja lebih “gila” ketika kita pacaran. (sumber dari sini )

Saat menikah? Setiap hari ketemu dengan orang yang sama, ada rasa bosan yang sangat manusiawi, dan terkadang kita pun harus menelan pil pahit ketika harapan-harapan yang kita ingin capai ternyata tidak bisa didapat, padahal kondisinya kita sudah menikah dengan pasangan kita. dulu pas pacaran mah tinggal di rumah ortu masing-masing, gak ngalamin kan yang namanya genteng bocor, AC rusak dan apa-apa harus ngeluarin uang untuk memperbaikinya? Ada juga siiih, tapi pasti sifatnya lebih ke membantu orangtuanya dengan mensupport sejumlah uang untuk perbaikan. Nah, begitu berumah tangga dan harus ngurusi rumah sendiri? Pengen ganti AC baru, hape baru, atau sekedar mau benerin tegel di teras rumah, gak bisa karena suami bilang bulan ini kita kudu kencengin ikat pinggang dulu karena usahanya lagi seret pemasukan. Konflik ujung-ujungnya. Eh yang barusan itu cerita contoh aja ya, bukan kejadian di saya, alhamdulilaaah……

Belum lagi kalau sudah punya anak. Terkadang perhatian sepenuhnya sudah tercurah ke anak. Soal perhatian ke suami/istri mah udah di nomor seratus berapa tau. Semua untuk anaklah pokoknya.

Itu sebabnya suami sejak kami pacaran selalu mengingatkan untuk tidak mengumbar romantisme kami ke sosmed. Apa rasanya ketika semua dunia sudah tau betapa mesranya kita, kemudian tiba-tiba kami berantem? Huhuhuhu….mau ditaro di mana muka inih?

Jalani sewajarnya. Banyak-banyak bergaul dengan mereka yang sudah berpengalaman dalam pernikahan. Ga usah nyari jauh-jauh. Pasti banyak saudara kita yang sudah lebih dulu menikah. Belajar aja dari mereka. Pernikahan yang sehat justru yang ada konflik dan problem di dalamnya. Karena dari berkonflik maka kita jadi belajar. Belajar untuk jadi lebih dewasa, dan lebih prepare dalam menghadapi segala sesuatu.

Selamat hari senin semua 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s