Rayakan Nama (julukan) mu

nickname-main-image

gambar dari sini

Sudah nonton salah satu video campaign-nya Coca cola Indonesia? Kalau belum tonton di sini ya. Inti video itu: kita gak boleh loh mem-bully orang lain dengan memberi nama julukan yang melecehkan atau merendahkan. Karena pada intinya setiap anak terlahir ke bumi diberi nama yang di dalam nama itu terselip doa mulia dan harapan yang baik-baik untuk sang anak.

Betul sekali kalau ada campaign dari Coca Cola ini, karena banyak loh di sekeliling kita orang-orang memanggil dengan nama julukan yang berbau penghinaan. Tapi…saya mau flash back sedikit ke belakang waktu saya SD dan SMP.

Dulu saya dan teman-teman juga punya nama panggilan ledekan loh. Waktu SD saya dipanggil Landak. Karena rambut saya kaku mekar sedikit jigrag. Mungkin terlihat seperti landak buat teman-teman. Wahahahaha kalo inget lagi sekarang malah lucu sendiri. Jadi ceritanya dalam satu geng saya itu (cewek semua) kita saling memanggil dengan julukan nama binatang. Teman saya yang namanya Yulia, anak pak camat setempat malah dipanggil Bebek. Trus ada juga kalo gak salah yang mendapat julukan Tikus. Belum selesai sampai di situ, jaman SD dulu juga ngetrend memanggil dengan nama bapak masing-masing. Hahahaha….kurang ajar sekali ya kami. Tapi the truth is ya emang begitu keadaaan jaman itu. Rasanya bukan cuma SD saya aja deh yang anak-anaknya suka becanda dengan memanggil nama bapaknya. Contoh saya, nama bapaknya Tarno. Jadi anak-anak lain kalo manggil saya ya bukan Imel, melainkan Tarno.

Di bangku SMP juga begitu. Saling memanggil dengan nama bapaknya. Ledek-ledekan. Plus saya juga dapat julukan lagi di geng saya. Jabrik. Itulah nama julukan saya. Penyebabnya rambut saya ini tipikal yang mekar diguncang prahara bo, makanya keliatan jabrik kemana-mana.
Dalam geng saya, ada lima nama panggilan: Jabrik, Jurik (padahal nama aslinya Juni), Dhukun (nama aslinya Fera), Nenek (nama aslinya Isye) dan Demit (nama aslinya Devi). Ada sejarah di balik penamaan nama-nama itu. Tapi….kacaunya…saya lupa sejarahnya. Ohh pemirsaaah maafkanlah kapasitas otak manusia awam nan menua ini *nunjuk jidat sendiri*

Pas kami reuni SMP, mau saling memanggil dengan nama bapak masing-masing….aaaah pamali. Karena sebagian dari para bapak sudah berpulang ke Rahmatullah. Jahat banget kan kalo masih asik-asik manggilin nama mereka.

Mungkin buat sebagian orang, nama julukan adalah bentuk bullying. Anehnya buat saya dan mungkin beberapa teman seangkatan….itu adalah panggilan sayang. Unik dan cuma kita yang punya. It’s fun and nostalgic. Saat Juni memanggil saya dengan Jabrik bukan Imel, ada kedekatan emosional yang kuat terasa di sana, kenangan, nostalgia, yang gak akan dirasa kalau dia atau orang lain memanggil saya dengan nama asli. Sampai saat ini masih suka ketawa ketiwi dengan nama-nama julukan semasa kecil dan remaja itu πŸ™‚ Mungkin juga karena pada saat kami kecil dulu ga ada istilah baper (bawa perasaaan) jadi apapun ledekan yang disematkan ke kita, ya dibawa santai aja.

Setiap orang punya pemikiran dan pendapatnya sendiri-sendiri. Kalau saya merasa senang sementara buat orang lain sebaliknya, sah-sah saja kok πŸ™‚

Aku rayakan nama julukanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s