Kopi mana kopi…?

Kopi. Kalau menyebut kata itu jaman sekarang, seketika pikiran sedikit banyak terarah pada aktivitas manusia modern nan kekinian. Walaupun ya kopi mah ada di mana-mana. Malah orang-orang di desa/kampung juga sama addictnya ngopi dengan orang-orang kota metropolitan, dan sudah melakukannya sejak jaman baheula pisan.
Tulisan ini bukan mau membahas tentang sejarah kopi. Terus tentang apa?
Ikuti aja ya *senyum2rahasia*

Jpeg
Karena tinggal di Jakarta, jadi saya bisa dengan mudahnya menemukan cafe-cafe yang menu utamanya kopi a.k.a coffee cafe. Wuih kayak jamur, makin hari jumlahnya! Awal-awal ngopi sembari ngafe jadi trend, yang muncul barulah kedai kopi Starbuck dan sejenisnya (baca: yang mahal-mahal dan impor). Terus muncul istilah “ngopi-ngopi cantik”. Kegiatan ngopi sambil chitchat, kongkow, whatever you name it sudah menjadi trend di kalangan orang-orang menengah ke atas, terutama pekerja kantoran. Pulang kantor nongki-nongki dulu di kafe sambil ngopi-ngopi sudah menjadi hal yang lumrah.
Makin ke sini, coffee cafe makin banyak dan  segmennya makin “merakyat”. Banyak cafe lokal-lokal tiba-tiba muncul di seantero ibukota Indonesia ini. Pengunjungnya juga gak kalah banyak sama yang impor. Tempatnya di pinggir-pinggir jalan, bahkan bukan jalan utama nan ramai. Dan bukan cuma nongkrong, ngalor ngidul, coffee cafe juga dijadikan banyak pekerja terutama freelancer, untuk tempat yang asyik buat bekerja. Kopi adalah pengusir stress, pengusir bete dan pembangkit mood. Mengawali pagi dengan secangkir kopi sudah menjadi hukum wajib bagi banyak orang. Pernah saya lagi jalan-jalan ke Puncak trus pas parkir, ada mobil di sebelah saya orang-orangnya lagi pada ngobrol dan di tengah obrolan ada yang ngomong: “gue mah gak bisa kalo gak pagi-pagi kopi duluan. Orang-orang keliatan jelek semua kalo gue belon ngopi. Kalo udah (ngopi) waaah terang dunia. Kece semua keliatannya, hahahaha…” Begitu dia bilang.

Di kantor-kantor pun, apalagi kalo kerjanya seputaran agency iklan, event organizer, media dan perusahaan-perusahaan swasta dan non swasta ternama, kebiasaan ngopi nyambi kerja juga menjadi trend. Gak sah kayaknya kalo kita kerja di depan laptop tanpa secangkir kopi di samping laptop tersebut. Teringat pada adegan-adegan film Hollywood, di mana pekerja kantoran mondar-mandir keliatan sibuk dengan setumpuk kertas di tangan, mulut berbicara dengan rekan kerja dan tangan yang satunya lagi megang gelas berisi kopi. Familiar with that scene? Hehehe….sama saya juga familiar kok 🙂
Keren gak keliatannya? Wow, keren doooong….kekinian skali lah pokoknya.

Ngopi adalah lifestyle kekinian.

Nah itu kan bicara masalah para pekerja ya. Kalo buat ibu rumah tangga maupun ibu pekerja, bisa beda ceritanya. Menghadapi anak-anak yang masih kecil/balita, yang selalu berganti-ganti teriak setiap lima menit sekali, yang membuat “si-ibu-gak-pernah-beres-melakukan-apapun-karena-barusan-yang-gede-numpahin-sekotak-susu-UHT- dan-baru-diberesin-yang-kecil-udah-bikin-“kehancuran”- lain-berupa-ceceran remah-biskuit”, kopi bisa jadi senjata ampuh. Buat orang-orang kekinian kopi adalah trend dan lifestyle nan keren, buat ibu-ibu macam saya mah bermakna obat ampuh pengusir emosi menghadapi anak-anak aja. “Nanti lo rasain deh kalo udah punya anak. Pasti lo bakal butuh kopi buat peredam amarah dan bete lo pas ngadepin keadaan chaos rumah lo berantakan. Percaya deh.” Seorang teman pernah berkata begitu. Daaaan….jangan harap ngopinya sembari duduk cantik di cafe ya cyiiin. Boro-boro. Kadang ngopinya nyambi nyuci baju, nyambi ngepel, atau bebenah. Hehehehe….pathetic but true ya pemirsah…..

Akhirnya saya yang punya masalah lambung ini pun menjadi pencicip kopi dalam kategori “emak-emak butuh peredam amarah”. Padahal tiap minum kopi lambung mah sakit, krucuk-krucuk bunyinya, tapi ya mau bagaimana lagi? Rasa kopi itu nikmat, efek sesudah minum pun alhamdulilah banget bisa jadi mood booster dan semangat lagi ngadepin rumah berantakan dan anak yang pada gak bisa dikasih tau samasekali a.k.a gak mau nurut-nurut. Kopi item tubruk sudah pasti saya gak bisa minum. Dijamin langsung pusing dan lambung sakit. Yang bisa diterima sama badan saya seputaran kopi putih yang kadar asamnya tidak sebanyak kopi hitam.

Biasanya saya konsumsi Luwak White Coffee. Banyak sih kopi putih berbagai merk sekarang dijual di pasaran, tapi pilihan tetap jatuh di kopi ini. Karena rasa manisnya pas, rasa kopinya dapet dan gak ada ampasnya (ada loh kopi putih lain yang berampas). Nah alhamdulilahnya lagi Luwak White Coffee sekarang ngeluarin varian produk yang less sugar. Waaah penting bangets ini mah buat ibu-ibu menjelang 40an macam saya. Jaga-jaga biar gak diabetes gitu maksudnya 🙂
Tapi sayangnya yang varian less sugar ini baru bisa didapat di supermarket besar aja. Di minimarket belum ada. Dan ada tulisan “Export to USA”nya. Harganya juga mirip banget kok sama yang varian Luwak White Coffee biasa, cuma beda seratus Rupiahan gitu.

Jpeg

Aaaah…..si kecil numpahin teh manis lagi di lantai dan si kakak asik-asikan percobaan sains dan ngabisin satu botol sabun cair di kamar mandi. Tidaaaaaaaaaaakkk….! Duh…duh…duh….kopi mana kopi?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s