Saya dan Social Media

social_media

gambar dari sini

Jamannya sosial media. Aaaah…jaman yang membuat semuanya jadi mudah. Yang jauh menjadi super dekat berkat bantuan sosial media. Teman-teman yang menghilang satu per satu dengan mudah kita temukan jejak keberadaannya berkat hadirnya sosmed. Seneng ya? Silaturahmi lagi. Reuni lagi sama teman sekolah atau teman kuliah. Bahkan sama teman-teman masa kecil di kota nun jauh di pedalaman sana, bisa terlaksana berkat sosmed juga.

Kalo ngobrolin sosmed bukan hanya soal menyambungkan kembali tali silaturahmi tetapi juga pasti soal postingan. Posting di FB, Twitter, Path, dll dll. Biasanya apa sih yang sering kita posting? Jawaban pasti beragam. Beda orang, ya beda pula postingannya. Ada yang cuma suka posting link lagu atau berita. Ada yang suka posting curhatan pribadi. Ada pula yang marah-marah. dan bahkan ada pula yang gak posting apa-apa alias punya sosmed cuma dibuka buat mantau-mantau keadaaan terkini/trend dan kabar teman-temannya di luar sana. Macam-macamlah pokoknya.

Bagaimana dengan saya? Ha? Saya? Berhubung ini blog pribadi, boleh dong ya bahas tentang saya. Abis mau jadi artis/public figure belum kesampaian, mumpung ada fasilitas blog gratisan begini, jadilah rada menggila. Gila pengen tenar dan ngebahas diri sendiri, wahahahaha…..rada-rada narsis najis gimana gitu yaaaa…. *kibas rambut Sunsilk*

Saya cuma punya 2 sosmed. FB dan Twitter. Mungkin karena pengaruh gen (saya gen X) jadi gak mudah ikut-ikutan trend masa kini (yaelaaah bilang aja emang kudet van kuper, Mel. Pake muter-muter kemana-mana pula). Buat saya, cukup punya 2 tapi ter-maintain dengan baik. Daripada punya 8 tapi malah sibuk kalang kabut sendiri untuk maintain ini semuanya. Nah dulu waktu awal-awal punya FB, saya postingannya rada ehm…yaaaa gitu deh. Kalo dibaca-baca lagi sekarang, kayak gak mutu gitu, hehe….. Ya kadang posting link tapi nyambi dikasih komen yang sok idealis dan lebay. Belum lagi lebay pas punya anak. Masa tiap anaknya nambah umur tiap bulan mosting di FB: sudah 4 bulan usiamu sekarang. Sayang selalu dari bapak dan ibu untukmu, nak dll dll dll……Yaaah orang yang baca juga males kali yeeee….ngebosenin dan gak menghasilkan banyak komen juga model posting beginian (eciyeeeee tetep yeee ujung-ujungnya pengen banget banyak yang komen *hasrat ngartis*).
Belum lagi postinganya yang rada-rada nge-judge orang. Pernah juga dilakukan. Memang benar kata orang-orang: kalau mau main sosmed, mendingan jangan pas esmosi, karena ujung-ujungnya nanti negatif. Trus baru nyesel pas udah kelar posting dan dapat komen-komen gak enak dari teman-teman. Belum lagi kalo telat nyadar belakangan “oooh iya di friendlist gue kan ada guru sekolah anak gue, ada tante gue, istrinya bos gue dll dll…..yaaaah…nasi udah menjadi bubur ayam Jalan Barito deeeh.” Eh emang bener sih bubur ayam Barito itu endes dan layak banget diantriin banyak orang. *ngomong uopo ikii?*

Untung masih punya pak suami. Yang bijak dan senantiasa mengingatkan. “Kamu kan lulusan S1, bersikaplah sebagaimana layaknya lulusan S1”. *salim dulu sama pak suami…..sekalian minta uang belanja*

Maksud dia, kita udah sekolah tinggi-tinggi, capek-capek sekolah, kalo manner dan attitudenya masih memble, rugi bener. Gak kasian sama orangtua yang udah bersusah payah membiayai kita sampe bisa lulus dan pake toga? Mikir dooong, mikirrrr *tunjuk jidat sendiri*. Nah nasihat pak suami senantiasa terngiang-ngiang di telinga saya. Dan sekitar pertengahan 2013, saya pun mulai mikir-mikir sebelum klik tombol “post” di sosmed pribadi saya. Baca lagi, kira-kira bakal ada yang tersinggung gak ya baca postingan saya? Gimana nanti efek postingan saya buat friendlist saya walaupun mereka gak komen? Bisa jadi gak komen tapi ngomongin saya behind my back dengan sesama temen lain. “iiih si Imel kok gitu ya orangnya? Dll dll…” Siapa sih yang seneng diomongin dan digosipin negatif? *tadi katanya pengen jadi artezz? Artezz mah kudu siap ama digosipin atuh, hahahaha. Makin pengen dipentung pake tongkat kasti ya*

Berubah menjadi lebih bijak, menjadi pribadi yang lebih baik dalam bersosmed. Menghindari penyesalan di akhir. Mungkin malah banyak juga yang melecehkan, karena terlihat munafik, sok bijak, jaim dan lain-lain. Buat banyak orang, menjadi pribadi apa adanya, blak-blakan dan gak menutup-nutupi sesuatu even di sosmed yang dibaca ratusan orang, itu adalah yang terbenar. Hmmm….entahlah. Namun buat saya kita tetaplah harus punya batasan dalam bersosmed ria.

Sekarang di friendlist saya sudah ada kepala sekolah dan guru-guru anak saya, teman-teman pak suami, vendor yang kenal dekat, om dan tante dan beberapa sesepuh keluarga saya. Semakinlah harus dipikir-pikir ulang sebelum klik “post”. Dan tiap mau posting selalu merapal mantra: postinglah sesuatu yang bermanfaat dan positif. Karena energi negatif yang kau tularkan bisa jadi membuat dunia bukannya bertambah baik, malah akan merugikan dirimu sendiri.

Aaaah….sudah panjang tulisan ini. Semoga menginspirasi 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s