Challenge and Reward

chocolate

gambar dari sini

Kalo namanya jadi orang tua apalagi yang punya anak di jaman sekarang, duh mesti pinter-pinter muter otak. Karena makin ke sini, anak semakin kritis, semakin pinter-pinter *amiiiin pake toa mesjid* dan tingkah lakunya …..(agak) semakin susah diatur. Tantangannya beratlah kalo orangtua jaman sekarang mah. Jaman saya kecil dulu, apa-apa manut ama orangtua. Mau nakal atau bandel sedikit, hukuman sudah pasti menunggu.

Apalagi dulu jaman Orde Baru yee boo…duuuh kaku-kaku deh ah pola dan cara mendidik dan mengasuh anak. Saya dulu ngerasain kok, nakal dikit, maka gagang rotan yang ada di kemoceng alamat mendarat di betis. Sakitnya maknyusss cyiiin….hahahaha, ya abis bandel sih disuruh mandi sore kaga mandi-mandi, malah main siram-siraman air sama kakak. Itu yang di rumah. Kalo di sekolah, familiar kan sama yang namanya disetrap pak dan bu guru kalo melakukan kesalahan entah lupa ngerjain pe-er atau becandaan melulu dalam kelas? Ah untunglah kalo soal yang satu ini saya gak punya pengalaman *sok anak baik-baik abis*.

Mendidik Alun dan Lintang pun demikian. Pengennya punya anak sehat, giginya gak keropos gegara kebanyakan makan manis-manis, apa daya caranya masih ada yang kurang tepat. Di rumah orangtuanya sibuk membatasi makan cokelat, permen, dan aneka snack gurih dan manis model Chiki Snack dan kawan-kawan. Sibuk mendoktrin dan separo ngancem bahwa kebanyakan makan model begituan bakal gampang sakit gigi dan kurang bagus untuk kesehatan tubuh. Berusaha kasih contoh dengan makan buah-buahan dan sayur mayur di depan anak supaya mereka mencontoh. Apa daya…………..pengaruh peer group di sekolahnya jauh lebih kuat. Ini yang kami (saya dan pak suami) kelewat. Anaknya juga kan kritis, jadi ya dengan mudahnya protes, kenapa temannya dibeliin dia gak boleh. Kenapa ibu dan bapak payah banget gak ngijinin makan cokelat. Harga cokelat berapa sih, emang ibu gak punya uang (pernah sampai dia ngomong begini dan keukeuh buka dan ngoprek dompet saya). Enggak dengan mudahnya nurut-nurut macam saya kecil jaman dulu. Duh kebayang kalo saya pas kecil ngomong kayak gitu ke ortu. Pasti langsung dipelototin, dilabrak “masih kecil tau apa kamu tentang uang??” Hahahahaha……

Jadi singkat cerita, karena jarang dibelikan choki-choki, cokelat batang dan sejenisnya, Alun jadi iri dengan teman-teman di sekolah. Tidak menyalahkan para orangtua teman-temannya yang membiarkan anak mereka membawa bekal snack Chiki-chikian dan cokelat-cokelatan. Karena pola asuh dikembalikan ke masing-masing orangtua. Siapalah saya berani men-judge ini bagus dan tidak bagus.

Susah payah kami berdua mencontohkan makan sayur dan buah, tapi tetap Alun menuntut untuk lebih banyak disediakan makanan dan snack manis. “Bu aku beliin Momogi dong, si X selalu bawa ke sekolah. Aku kan belum pernah makan”. Ini salah satu contoh permohonan Alun.

Kemudian tibalah laporan kurang mengenakkan dari wali kelas Alun ke kami. Alun berusaha merampas dan mengejar seorang temannya yang kebetulan membawa beberapa buah Choki-choki ke kelas dan kebetulan Alun gak kebagian karena jumlahnya memang cuma sedikit. Huhuhuhu…..langsung gemeteran emaknya ini. Beragam pikiran mampir di kepala “Duh pasti anakku dicap rakus dan kampungan karena ortunya beliin choki-choki aja kagak pernah”, dll.

Melalui diskusi santai, wali kelasnya menyarankan supaya bikin semacam perjanjian aja. Misalnya boleh makan cokelat dan kawan-kawan setiap hari Sabtu dan Minggu. Saya manggut-manggut waktu itu. Tapi pak suami gak rela ngasih cokelat begitu aja. Dia menyarankan: ok, boleh kita kasih apa yang dia mau even itu jajanan kurang sehat, tapi berikan itu sebagai reward atas tantangan dari kita yang berhasil ia lewati. Misalnya, akan dibelikan cokelat kalau dalam satu hari jadi anak soleh, enggak berantem sama adik dan mau mengerjakan pe-er tanpa mengeluh. Itu contoh saja. Pak suami yang otaknya jauh lebih encer nan jagoan kalo soal beginian akhirnya bikin challenges untuk Alun. Contoh yang sudah dijalani:

1. Alun kalo ke sekolah pengennya diantar bapak, bukan sama mbak. OK boleh. Syaratnya: Alun harus melewati tantangan makan pepaya bangkok/california walau hanya beberapa potong. Kenapa ini tantangan? Karena Alun bilang dia gak suka blas sama buah pepaya (heran deh, padahal manis kan ya?). Anaknya ndilalah manut. Dengan susah payah dia berjuang makan demi diantar bapaknya.

2. Akhirnya ibunya ikutan bikin challenge: ibu mau belikan cokelat atau mau copy-in video excavator kesukaan alun kalau Alun mau makan semangka dan sayur (sejauh ini sayur yang Alun suka hanya wortel).

Akhirnya kami menerapkan aktivitas ini di rumah. Manfaat lain yang didapat: dia akan mengerti arti berjuang. Bahwa mendapatkan apa yang kita mau itu ada prosesnya, ada nilai fight-nya, gak instan.

Semoga tetap bisa istiqomah. Pola challenges and rewards ini semoga tetap bisa kami jalankan selamanya. Manfaatnya dapat, dan harapannya laporan-laporan kurang enak dari wali kelasnya akan jauh berkurang, bahkan hilang samasekali. Bismillah……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s