After 27 Years

Saya SD tiga kali pindah. Oh…bayangkan…anak sekecil itu sudah harus sering beradaptasi dengan teman-teman baru, selama 3 kali. SD pertama di Kalimantan. Kemudian pindah ke Jakarta. Dan terakhir di sebuah kota kecil bernama Citeureup di Kabupaten Bogor.

Ijazah SD saya, SDN IV Citeureup. Kenapa bisa sampai 3 kali pindah? Maklum, anaknya PNS. kemana bapak dipindah dinas, di situ kami sekeluarga ikut berpijak.

Karena SD negeri, satu kelas diisi 40 murid. Bahkan lebih. Naik ke kelas 5 kemudian 6, jumlah siswa baru yang masuk bertambah. Anak-anak pindahan, seperti saya. Dan dulu sekolah kami hanya menyediakan satu kelas untuk tiap jenjang. Jadi kelas 1 ya hanya ada satu kelas. Tidak ada kelas 1 A, 1 B dan seterusnya. Begitu terus sampai kelas 6. Ruangan kelas penuh sesak. Jangan bayangkan ada penerangan cukup dan AC layaknya sekolah swasta yaa….Yang ada kami duduk bersempit-sempitan ria, terkadang bangku diputar membentuk kelompok-kelompok CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang dulu rasanya kok ya gak siswa aktif deh (kayaknya gak ngaruh sistemnya, hahahaha…..)

Suka duka kami lalui bersama. Dulu bahkan saat EBTA, ada ujian menari! Apaaa?? Menari? Laki-laki juga harus menari. Ahahahaha…. Jadi kami diwajibkan berkelompok, minimal 2 orang dan membuat tarian lengkap dengan baju adatnya. Tariannya bukan modern dance ala anak-anak jaman kekinian loh yaaa. Tari daerah hehe 🙂
Sudahlah soal menari. Pernah pula kami ada pelajaran memasak bersama. Masak kue, bawa-bawa kompor minyak ke sekolah *kompor minyak merk Butterfly. Yang anak 80-an pasti tau haha*.
Masih banyak lagi kenangan masa kecil kami. Kalau diceritakan satu per satu postingan ini kepanjangan dan yang baca alamat bosan pastinya. Yang sedih….saat itu kamera adalah barang super mahal. Jadilah kami ini tidak punya kenangan apapun. Foto bersama boro-boro kami punya.

Lulus dari SD, kami terpisah-pisah. Ada yang masih sekolah bareng di satu SMP, ada pula yang berbeda sekolah. Sampai akhirnya benar-benar terpisah, hilang kontak dan entah di mana. Yang berdomisili di Citeureup, masih seringlah mereka bertemu, walau sekedar papasan di jalan. Tapi yang sudah merantau ke mana-mana? Susah untuk mengumpulkannya lagi. Sampai di tahun 2014, tiba-tiba teman SD sekaligus teman satu SMP, meng-add saya di grup bbm. Pas saya liat grup apa, senangnya bukan main. Ternyata grup kelas saya di SD Citeureup IV! Pengen sebenernya marah-marah ke mereka karena ternyata selama ini mereka masih asik-asik silaturahmi satu sama lain, sementara saya baru bisa gabung sekarang. Tapi ah sudahlah, daripada marah-marah, mendingan langsung tancap gas mengenang masa lalu. Kami pun ber bbm ria, terkadang sampai tengah malam. Emang dasar koplak ya, jadi pembicaraan kami benar-benar becanda semua isinya. Jangan harap bisa membahas hal serius di grup. Rule number 1-nya: kalau mau bahas yang serius, japri aja, jangan di grup. Percuma!

Saat gabung di grup itu kebetulan posisi saya lagi gak ada ART+saya harus kerja kantoran+ada 2 anak balita yang lagi aktif-aktifnya yang terpaksa mereka setiap hari ikut ke kantor bapaknya yang wiraswasta agar terurus.  Jadi saya selalu tidur larut malam. Ngapain kalo malam-malam? Nyetrika segunung baju kakaaaa….dan sambil ditemani ratusan tang tung tang tung bunyi chat yang masuk ke bbm saya…dari grup SD.  *ha?Tang tung? Kok kayak bunyi gendang?*
Sangat terhibur. Maklum, masih euforia karena baru banget silaturahmi walaupun lewat chatting. Seru, ketawa melulu sampe sakit perut, sampai ke pembicaraan di tahap “kita-harus-cari-teman-yang belum-ketemu-lewat-internet”. Maksudnya, untuk teman sekelas yang benar-benar sudah hilang jejak, kita bahu membahu cari lewat channel social media tentunya.

Ujung-ujungnya kalau sudah kayak gini cuma satu: reuni. Pertemuan pertama saya gak bisa ikutan. Yang ikut cuma cowok-cowok, itupun jumlahnya sedikiiit sekali. sampai akhirnya pertemuan kedua, yang ikut semakin nambah. Pertemuan ketiga pun demikian. Jejak teman-teman lain yang belum bisa ditemukan, membuat kami pasrah pada akhirnya.

Satu hal yang ingin dihighlight di sini…….waktu membuat orang berubah. Dulu kami semua sama-sama anak lugu dan ingusan yang bersekolah di sekolah yang sama, di sebuah kota kecil. Ada yang berasal dari keluarga kaya maupun kurang berada, tapi kami disatukan dalam satu kumpulan yang hanya dibedakan atas dasar prestasi, bukan materi. Prestasi akademik tentunya. Sesudah kami beranjak dewasa dan berkeluarga seperti sekarang ini…..ternyata ada beberapa teman yang nampaknya kurang berkenan bergabung kembali bernostalgia bersama kami. Ada yang sudah jadi dokter spesialis di rumah sakit ternama, ada yang dokter umum, dan ada yang career woman yang super duper sukses dengan serangkaian penghargaan dan gaya hidup kelas atas. Kami senang mereka sudah sedemikian sukses, namun sekaligus terselip sedikit rasa sedih karena sikap mereka pun berubah. Padahal semuanya sama-sama punya ijazah yang dikeluarkan dari sekolah yang sama pula. Tumbuh besar bersama, di bangunan sekolah yang sederhana dan jauh dari kemewahan. Saya tidak menyalahkan mereka. Siapalah saya berani men-judge orang. Lha wong sama-sama manusia bukan Tuhan. (walau sampai sekarang masih suka bertanya-tanya sendiri, kenapa mereka menjauh? Mungkin karena materi becandaan kami yang dinilai kampungan atau hal lainnya? Ah sudahlah…)

Sudah hampir 27 tahun berlalu. Kami sudah makin tua, mendekati usia 40. Tapi tetap ceria dan tetap menjaga silaturahmi lewat chat grup. Inilah sebagian kecil dari kami:

sd 4

Dari kiri ke kanan:

Mariano a.k.a Minang. Dipanggil Minang karena orang Padang asli. sekarang sudah sukses menjadi juragan ikan. Usaha tambak ikannya di daerah Ciomas bogor terbilang sukses.

Hartoyo a.k.a Otoy. Sukses menjadi career man di BUMN Jasamarga.

Retno. Dia sekarang menjadi guru sekolah dasar sembari kuliah S2. Semoga sukses terus bu guru 🙂

Syahrijal a.k.a Slowman. Dipanggil slowman karena waktu SD dulu gerak geriknya agak lambat. Sekarang pun sukses menjadi seorang career man di perusahaan IT.

Yoce. satu-satunya yang masih menjomblo hahahaha….Dia bassist keren yang selalu “ngamen” di berbagai acara dan perhelatan di daerah Bogor.

Donny a.k.a Donay. Gak bisa jauh-jauh dari permotoran dan seputarnya. Hobinya touring menjelajah Indonesia dengan menggunakan motor bersama klubnya.

Saya. Ah gak usah dibahaslah kalo yang punya blog mah.

Euis (jilbab ungu, nyempil). Ibu rumah tangga yang masih asik diajak ngumpul. Fleksibel dan gak ngerasa kebebanan sama urusan anak saat ikutan reuni. Kalo ngomong suka powerfull alias suaranya kuenceng poll, hahahaha…..

Jefri (pakai topi). Juragan burung. Pekerjaan dan hobinya memang seputar memelihara dan jual beli burung.

Ade (sebelah Jefri, berjilbab). Ibu rumah tangga yang sukses dengan usaha rental PSnya.

Ferdiah (jilbab hitam di belakang). Ibu rumah tangga yang sama seperti Euis, gak pernah kebebanan diajak kumpul-kumpul.

Agus a.k.a Nyanyung. Teman Cina kami yang mualaf dan sekarang sukses dengan usaha jual beli handphone-nya.

Masih sedikit ya? Semoga ke depannya foto ini akan bertambah sesak dengan hadirnya teman-teman yang berhasil kami temukan jejaknya dan kami ajak reunian. Doakan kami yaaaa…… 🙂

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s