Ujung Utara yang Berbenah

Pantai Ancol.

Apa yang terlintas kalau mendengar kata-kata ini? Kalau saya, semuanya yang mendekati negatif: kotor, jorok, bau, penuh orang, gak ada nyaman-nyamannya seperti pantai-pantai di Maldive atau Malibu  *kemudian disiram air cuka sama warga*.


Kenyataannya memang seperti itu. Image Pantai Ancol sebagai tujuan rekreasi warga, kurang bagus, mengingat pantainya lumayan jorok, banyak sampah. Ditambah dengan air lautnya yang juga jauh dari bersih dan bening alias tercemar. Saya bahkan gak pernah mengijinkan anak-anak mandi dan berenang di pantai Ancol. Pikirannya udah macem-macem: duh pulang dari sini pasti gatel-gatel deh anak eikeh.

Mudah-mudahan yang punya stereotype negatif soal Pantai Ancol cuma saya. Dan mudah-mudahan saya dimaafkeun oleh warga satu Jakarta termasuk pak Ahok *salam peace dua jari, pak!*

Beberapa bulan terakhir ini memang Ancol khususnya pantainya, tengah berbenah diri. Waktu libur tahun baru, kami sempat main ke Ancol, dan melihat ada kapal tongkang yang membawa muatan pasir putih. Wah pasir ini pasti untuk pantai ancol tapi itu baru pikiran saya dan pak suami aja. Nah kemarin, pas libur hari raya Nyepi, kami iseng sore-sore main ke Pantai Ancol.

Apa yang kami saksikan sungguh melegakan mata. Hamparan pasir putih nan bersih menghiasi pantainya. Terlihat lebih rapi. Ditambah ada pos lifeguard (duh inget film Baywatch jadinya) di beberapa titik. Memang airnya masih seperti yang dulu, tapi at least pasir putihnya benar-benar membuat wisatawan nyaman berkunjung ke tempat ini. Rupanya benar, kapal tongkang yang waktu itu kami lihat, memang memuat pasir untuk kebutuhan pembenahan ini. Pasir pantai yang asli yang tidak seberapa bersih, sudah ditutupi versi yang putih. Entah pasirnya ambil dari mana, yang penting enak dipandang mata. Walaupun di sana-sini yah masih saja ada sampah yang ditinggalkan pengunjung (sedih euy).

Anak-anak kami pun nampak kegirangan bermain di situ. Namun tetap, saya melarang mereka masuk ke air laut yang warnanya hitam kecokelatan itu. Jadi benar-benar hanya bermain di pasirnya saja. Ini beberapa kegembiraan kami di sana (yang foto selalu pak suami).

smack_down[1].jpg

alun_dan_lumba2[1]

lifeguard[1]

jln_di_pantai[1]

over_expose[1].jpg

Jpeg
bertiga[1].jpg

Jpeg

Jpeg

lumba2_2[1].jpg

Jpeg
Waktu sudah semakin menjelang maghrib, kami pun harus pulang. Alun wanti-wanti kalau hari libur mau ke sini lagi dan lagi. Iya sih, asik juga. Murah meriah. Cuma bermodalkan tiket masuk Ancol, gak main-main dan bayar-bayar lagi di wahana, bisa bermain sepuasnya.

Semoga ke depannya Ancol bukan hanya membenahi pantai, tapi juga sarana dan prasarana lainnya. Biar semakin betah berlama-lama di Ancol.

tulisan ini dimuat di http://theurbanmama.com/articles/ancol-ujung-utara-yang-berbenah.html tanggal 26 Maret 2016, bertepatan dengan ulang tahun pak suami ke-44. Yihaaa….!

Advertisements

2 thoughts on “Ujung Utara yang Berbenah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s