Plus Minus Kerja di Kantor Saudara

Beberapa minggu lalu saya bertemu dan ngobrol-ngobrol dengan salah seorang kerabat yang saat ini sudah sukses menjadi wiraswasta di bidang percetakan. Percetakannya kecil-kecilan kalau menurut dia. Kecil dari segi jumlah SDM-nya, kecil dari segi jumlah kliennya, namun besar dari sisi nominal.

Wow, perusahaan ideal banget kan ya? Ambil order gak usah dari banyak klien, tapi kontinyu dan nilai kontraknya selalu gede-gede. Makmur kan ya? Menurut kerabat saya itu, perusahaan kecilnya dibangun kurang lebih 12 tahun lalu, dan dia mendirikannya berdua dengan seorang temannya. Singkat cerita mereka berdualah yang dipanggil “pak boss” oleh anak-anak buahnya.

Nah ternyata lagi, perusahaan itu adalah perusahaan keluarga. Ada sekitar 8 karyawan tetap dan semuanya saudaraan. Si kerabat punya adik kandung, dijadikan Designer Grafis untuk me-layout orderan dari klien. Kemudian bagian operasional dan produksi adalah keponakan dari teman kerabat (untuk lebih mudah, panggil aja X ya). Lalu di bagian finance juga keponakan si X. Demikian pula di bagian delivery juga dipekerjakan keponakan-keponakan si X ini. Belum sampai situ: office boy-nya adalah paklik (kalau bahasa Indonesianya paman/om) si X juga.Mereka rata-rata lulusan SMA yang kemudian awalnya disuruh bantu-bantu, dan ending-nya menjadi karyawan tetap di situ.

Wah asik ya? Hmm…asik? Yakin? Yuk coba kita liat plus minusnya kalau kita bekerja di perusahaan milik saudara sendiri:

Plus:

  1. Terjamin. Gak perlu lamar sana sini, kirim CV dan tetek bengek lainnya, tau-tau diterima kerja.
  2. Rendah risiko pemecatan. Kecualiii banget…misalnya si sodara bener-bener berlaku kriminal misal membunuh orang, dan aneka violence lain. Tapi selama adem tentrem aja pekerjaannya, risiko dipecat adalah: nol. Bandingin kalo di perusahaan orang lain, kita bener-bener banget kudu jaga performance sebaik mungkin, dan berusaha semakin baik pas ada pesaing alias anak baru yang masuk dan lebih “bersinar’ kinerjanya, misalnya (wah biasanya kalo kayak gini, siap-siap stress dan mulai kulik-kulik cari lowker lagi di luar sana).
  3. Loyalitasnya sudah pasti super tinggi. Ini berguna untuk si pak bos. Kalau kita kerja di perusahaan orang lain sudah pasti ada jarak, ada kondisi-kondisi tertentu yang mungkin akhirnya membuat kita memutuskan untuk resign, mencari tantangan lain di luar sana.
  4. Kalau mau ijin pulang kampung atau acara-acara lainnya jauh lebih mudah. Bahkan malah bisa jadi ijin ramai-ramai. Misalnya nih: si ponakan 1 ada hajatan di kampung, kakaknya menikah. Otomatis pak bosnya alias si X bisa jadi malah ikutan meliburkan diri dan pulkam ramai-ramai. Lha wong masih sodara gitu loh. Bandingkan ribetnya prosedur ijin-ijinan kalo kita kerja di perusahaan lain ya? Ada HRD yang mesti dihadapi, surat ijin/cuti, dan tetek bengek lain.
  5. Kantor serasa rumah sendiri. Terutama buat yang belum berkeluarga. Kalo kantornya bentuk rumahan, lebih bebas merdeka lagi. Mau jumpalitan, main internet di hari minggu, numpang bobo cantik, gak sungkan lagi. Kan sodara sendiri 🙂  Beda kalo kerja di perusahaan orang lain yang gak kita kenal. Baru mau gogoleran mungkin udah ditegur satpam, ngapain wiken malah ngantor bro? hehe…..

Nah sekarang minusnya apa?

  1. Yang bersangkutan gak punya daya juang untuk berkompetisi. Semangat kompetisinya udah di-nol-kan dengan langsung diterima kerja di tempat sodara sendiri tanpa proses perjuangan panjang seperti psikotes, wawancara dan lain-lain. Dan kalau suatu saat misalnya perusahaan sampai super bangkrut dan mau gak mau harus tutup, mereka harus berjuang mencari pekerjaan di luar sana. Ketemu dengan orang yang samasekali gak dikenal. Mereka bisa aja sedikit mengalami shock, karena yang tadinya terjamin eeeh tau-tau sekarang mesti berjuang sendirian.
  2. Susah untuk nolak.
    102164864-71416651.600x400

    gambar dari sini

    Eng ing eeeeng….ini yang epic. Langsung to the point ke real story ya: kerabat saya cerita kalo si X pernah asik-asik nyuruh ponakan-ponakannya untuk hal-hal pribadi kayak misalnya minta bantuan jemput anaknya X dari sekolah, nyopirin pas dia ada urusan ke luar kota, terus pernah juga ponakan-ponakannya sedikit dipaksa untuk ikutan arisan berbasis daerah asal mereka (nilai uang arisannya lumayan gede. Kalo level udah pak bos mah gak papa, lha ponakan-ponakannya masih pada medium ke bawah loh salary-nya).
    Ponakan hanya pada bisa misuh-misuh di balik layar, namun tak kuasa melawan perkataan pak bos. Ponakan padahal pengen juga punya me time, tapi apa daya gak bisa berkutik. Karena apa? Gak enak dong yaaaa…udah diajak kerja di perusahaan pak bos X eee kok gak tau diri cuma dimintai tolong aja gak mau ngerjain. Mikirnya kan pasti gitu ya mereka. Bandingkan kalau kerja di perusahaan non sodara di mana profesionalitas benar-benar dijunjung. Kita bekerja based on our job desk kan?

Itulah hasil ngobrol saya dengan seorang kerabat yang sedikit banyak membuka mata dan akhirnya dijadikan postingan seperti ini. Kalau saya pribadi disuruh memilih: saya malah akan menolak kalau ada sodara yang nawarin kerja di tempat dia. Banyakan gak enaknya mamen! Plus saya mau merasakan bahwa “dunia tidak selebar daun kelor”. Dunia gak hanya seputaran sodara lau, jon! Di luar sana banyak kondisi insecure, kompetisi, dan kita perlu menerjunkan diri ke situ. Supaya (insya Allah) bisa jadi manusia yang lebih tough dan siap menghadapi tantangan.

Have a nice Wednesday …:)
signature

Advertisements

2 thoughts on “Plus Minus Kerja di Kantor Saudara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s