Pilihan Hidup

American-Income-Choose-Direction

gambar dari sini

Selama membantu HRD Manager di kantor saya melakukan rekrutmen dan menghadapi para karyawan di kantor, aneka rupa kondisi yang saya temui. Terakhir adalah kondisi di mana seorang karyawan menangis sesenggukan dan minta agar kontraknya yang akan berakhir tidak dilanjut lagi.

Padahal sumpah mati dia sangat passion pada pekerjaannya di creative agency yang penuh dengan orang-orang ceria seperti saya, fleksibel, casual, dan jauh dari kaku. Dia diwajibkan ibunya untuk bekerja di perusahaan tempat ibunya bekerja sekarang, yaitu sebuah perusahaan manufaktur home appliances dari Jepang yang sangat termahsyur di Indonesia. Di perusahaan itupun dia gak akan samasekali bersinggungan dengan dunia kreatif. Kalo gak salah ditempatkan di bagian semacam admin HRD atau apa gitu. Intinya sang ibu adalah tipikal yang lumayan dominan otoriter. Bahkan dalam pemilihan jurusan ketika kuliah, sambil menangis, ia menjelaskan bahwa dulu itupun hasil eyel-eyelan dulu dengan sang ibu, karena ibu minta dia gak kuliah di jurusan Advertising dan sejenis itu.

Ada pula yang akhirnya sudah kerja, eh terpaksa berhenti, karena orangtua gak setuju anaknya kerja di industri kreatif yang penuh dengan ketidakpastian jam kerja (baca: sering lembur cuy). Katanya anaknya pulang malam atau pagi melulu. Padahal,…lagi-lagi…sang anak malah menikmati dunia creative agency beserta teman-teman di dalamnya.

Itu yang sudah jadi karyawan ya. Yang masih proses wawancara kerja juga banyak yang seperti itu. Ada yang waktu itu lamar posisi Sales, terus pas ditanya kenapa dulu kuliah di jurusan Manajemen? Apakah karena memang suka atau kenapa? Lagi-lagi jawabannya: karena disuruh/diarahkan orangtua mengambil jurusan itu.

Terus? Maksud tulisan ini nyalah-nyalahin ortu gitu untuk semua kondisi yang saya tulis di atas? Bukaaaan…… Orangtua wajib kita muliakan. Di agama manapun ajaran itu sama, tak terbantahkan. Wajar dong orangtuanya nyuruh anaknya berenti kerja, mungkin mereka kuatir anaknya jadi gampang sakit akibat jam tidur tidak teratur. Wajar dong kalau orangtua pengen anaknya kerja di perusahaan yang sama dengan dia. Karena ortunya yakin di situ anaknya akan lebih mapan dan terjamin kesejahteraannya. Semua orangtua kan mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya, dan beliau merasa kerja di perusahaan yang sudah sangat establish itu adalah yang terbaik. Gak ada yang salah.

Nah terus? Ini mau nulis apaan sih muter-muter dulu? Sabaaar…ini yang punya blog kan ceritanya lagi kehabisan ide nulis padahal udah BW kemana-mana. Makanya jadinya nulis rada gak fokus begini. Bisa sih fokus asal di samping laptopnya ada tiket pesawat ke Raja Ampat *eeeaaaa….ngarep*

Saya jadi merenung setelah mendapat banyak pengalaman selama terlibat dalam proses rekrutmen di kantor. Betapa beruntungnya saya. Bukan dari segi harta alias saya kaya raya. Tapi flash back waktu jaman sekolah dan kuliah dulu. Semuanya terserah saya. Orangtua hanya membiayai dan menyerahkan keputusan pada saya. Mau masuk jurusan apa di kuliah, terserah. Sesuaikan dengan minat saya aja, gak ada arahan maupun paksaan. Ayah saya PNS, anaknya enggak ada yang di-force sedemikan rupa supaya juga ikutan jadi PNS. Pernah terlintas omongan dari ayah, namun akhirnya hilang begitu saja akibat anak-anaknya memang keukeuh enggak minat blas.

Demikian pula almarhum mertua saya. Mereka menyerahkan semua keputusan ke anak-anaknya, yang penting halal katanya. Maksudnya kalau sudah sampai masuk dunia kerja ya carilah kerja apa saja sesuai minat asal halal gitu. Akhirnya 3 anak almarhum kerja di dunia kreatif/seni, dua lainnya kerja di industri pabrikan. Malah waktu almarhum ibu mertua masih ada, saya sempat tanya apakah dia tahu tentang detil pekerjaan anaknya, nama perusahaan dan lain-lain? Beliau menjawab tidak tahu. Soal tidak tau ini, saya juga mengalaminya. Orangtua saya bukan tipikal kepo yang harus tau every inch of my jobdesc and working environment. Untuk ukuran orangtua konvensional seperti mereka, mungkin malah mumet kalo harus diceritain apa aja yang saya kerjain di kantor, apa nama posisi saya sekarang dll.  Sudahlah, yang penting bekerja, lurus, gak neko-neko, dan yang penting …….halal.  Pengalaman lucu: saya pernah bawa pulang ke rumah kerjaan proofreading 100 halaman saya, dan ibu tanya: “itu apaan sih yang dikerjain? Lagi ngecek novel ya?” . Jiaaaaaaah…….. *kemudian ngibrit*

Dengan diserahkannya semua keputusan ke anak, akhirnya sang anak bisa menentukan masa depannya dengan bersemangat dan penuh keikhlasan. Saya melihat diri saya sendiri. Alhamdulilah, sudah settle……bukan secara materi, tapi secara pekerjaan. Settle tanpa keterpaksaan tentunya. Akibatnya saya menjalani hari-hari saya tanpa beban, karena ini memang sesuai pilihan saya.

Mohon maaf kalo tulisan ini ngaco alurnya ke mana-mana. Sekali lagi gak ada maksud untuk membuat orang lain jadi berpikir ulang untuk menentang keputusan orangtuanya masing-masing. Cuma renungan diri sesaat aja ini mah. Nyambi nulis, nyambi keinget deadline kerjaan ina itu ono soalnya. Pikirannya pecah belah ke semua arah. Mana belon bayar SPP anak lagi *lhah?*.

Semangat Kamis semuanyaaaaa………
signature

Advertisements

2 thoughts on “Pilihan Hidup

  1. tia putri says:

    ih sama aku pas ambil jurusan kuliah juga ortu gak ikut. ngasih pertimbangan ini itu sih, tapi gak maksa. cuma dipesenin agar bertanggung jawab thd jurusan yang diambil, dan kalau ada kuliah yang susah ortu gak bisa bantuin banyak karena bukan experience mereka.

    waktu cari kerja pun, meskipun ortu pernah ngarep aku jadi pns, pada akhirnya setelah melihatku fine2 aja kerja di swasta, ortu gak ngarep2 banget lagi. suka2 yang penting gajiaan… eh halal maksudnyah. ahhaa

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s