Random Stories di sekitar Saya

Namanyapun hidup. Ada kalanya sedih, gembira, kesel, stress, komedi. Semua kumpul jadi satu. Kali ini gak pengen posting yang berat-berat kayak timbangan badan saya ini.  Cuma pengen berbagi cerita-cerita random yang pernah saya alami. Semuanya kisah nyata loh ya. Saya enggak bakat bikin fiksi 🙂

1. OB (Office Boy) Lugu
Yah nasib kerja di creative agency ya cuuuy, ga pernah jauh-jauh dari lembur. Ini cerita dari tempat saya kerja dulu, sebelum saya married dan  bertransformasi menjadi mengembang seperti ini. Badannya maksudnya.
Pas malam-malam lembur, Art Director saya lapar dan pengen banget makan mi godog tek tek. Disuruhlah si OB baru (yang dimaksud baru ini : dia bener-bener baru nginjek Jakarta dua hari. Kampung halamannya saya lupa. Dan artinya dia pun baru kerja dua hari di kantor saya) untuk cari mi tek tek. Sudah perginya rada lama, OB kembali dengan tangan hampa.

Art Director (AD): lho mi godhognya mana?
OB: ga jual tukangnya.
AD: ga jual gimana? Tukang yang biasa mangkal di pojokan itu kan? Masa gak jualan sih?
OB: iya tukang itu. Jualan, cuma gak ada mie rebusnya.
AD: Ha? Kok bisa?
OB: (haqqul yaqin) iya gak jual. Lha wong gak ada pancinya. Dia cuma jual yg goreng, adanya wajan doang.
AD: %$#^&@#$!%&*$%^#%*+”:$@###

*OB punya mindset: merebus mie kudu di panci jon. Jadi kalau lau gak punya panci, jangan harap bisa makan mie rebus. Deal? OK kakaaaaaa……*

2. Mbak dan mas yang suka hura-hura dan tampil abis.
Suatu hari saya bantuin HRD interview kandidat karyawan. Sudah ngobrol soal experience dia yang gak seberapa banyak secara anak fresh grad gitu. Setelah ngobrol panjang kali lebar dan interview mau ditutup, nanya dong saya: kamu ada yang mau ditanyain lagi gak?
Dia pun dengan lugunya menjawab: bu kalau di kantor sini sering gak sih ngadain outing-outing gitu?
Saya: (duh Gusti Allah….pengeeeeeeeeeen banget ni anak dibilangin gini: mbak, mbaknya kerja dulu aja yang bener ya di sini. Tunjukin performance mbak yang terbaik dulu, baru mikirin outing. Atau kalo pengen outing mlulu gimana kalo kerja jadi travel guide gitu aja mbak? )
Kemudian ada lagi seorang mas-mas fresh grad yang juga mengikuti interview. Pas saya sampai pada pertanyaan pamungkas seperti si mbak tadi, mas ini pun bertanya: “bu, kalau nanti udah diterima jadi pegawai, boleh ngewarnain rambut gak sih? ”
Saya mbatin maning. Nyambi nahan emosi sih sebenernya huahahahaha……

19-051249-merman_hair_color_trend

Bu, nanti saya boleh ya hair color kayak gini? Gambar dari sini

Ah macam-macam aja ya karakter manusia………….

3. Ibu-ibu yang saya temui di pasar.
Suatu hari saya lagi di pasar dan melewati toko kue basah. Saya mampir di toko plastik persis di depan toko kue itu. Jadilah bisa dengan leluasa mengetahui apa yang dilakukan seorang ibu (dan temannya) yang sedang membeli kue, ke si penjual. Ibu tadi ngambil kue lapis tepung beras yang sudah dikemas per dua buah dalam plastik, dan dia keukeuh memohon ke si mbak penjualnya supaya diperbolehkan beli satu aja. Sambil terus membujuk, tangannya tetap berusaha ngeluarin lapis dari dalam kemasan plastik yang sudah distaeples itu tadi.

snack3kue

Bayangin tiap kemasan plastik itu isinya lapis tepung beras, per packing dua buah. Terus si ibu maksa ngeluarin cuma satu lapis aja. Gambar dari sini

Mbak penjual nelangsa. Keukeuh pula menjawab bahwa itu gak bisa dijual terpisah karena sudah dipacking dan nanti dia akan kena marah bosnya kalau beneran kejadian cuma diambil satu lapisnya. Si ibu sambil bergumam-gumam sama temannya, sambil ngunyah tu lapis, dan sepintas saya dengar dia bilang : “gak enak ini lapisnya”. Duh si ibu ya…udah belinya maksa, pas dicicip begitu ngomong blak blakan depan penjualnya. cobalah bu kalo ibu yang ada di posisi si penjual itu.

4. Dikirimi email yang mengejutkan dari pelamar. Suatu hari saya buka email dan mendapati sebuah email dari anak yang mau melamar magang. Ok, begini bunyi emailnya:

First of all i would like to introduce my self, my name is xxxx and i am 3rd year Business Law student at xxx University who have no interest in law but its my obligation to finish my degree,I am an ADHD (attention deficit hyperactive disorder ) and makes me thinking a lot,but it gave me a lot of creative ideas too and the reason why I apply to your company because my passion is in creative industry and i want to learn and have another experience in creative industry, here i attached my CV.

Saya tertegun. Berhenti pada kata-kata yang saya cetak bold dan italic. Anak ini gak demen sama jurusan kuliahnya tapi terpaksa. Mungkin emang diarahkan ortunya ya masuk Business Law. Kemudian dia juga lebih suka dengan bidang kreatif. Entahlah. Tapi yang paling membuat shock adalah pengakuannya saya bold kedua. ADHD.
Tidak pernah mengecilkan, meremehkan dan berusaha megolok-olok orang dengan ADHD, tapi….emmm…bagaimana nanti ketika ia akan bekerja? Realistis saja….orang dengan sesuatu yang spesial seperti ADHD begini, tentunya sebisa mungkin menjadi prioritas terakhir oleh perusahaan yang ingin memiliki environment kerja yang normal. Baca tentang tanda-tanda ADHD di sini saja, sudah cukup membuat saya menahan nafas karena sambil membayangkan apa yang akan terjadi jika benar anak itu diterima magang di kantor saya. Dan CV anak itu pun tidak pernah saya tindaklanjuti.

Masih ada beberapa cerita lagi. Nanti saya update terus ya 🙂
signature

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s