Ngebolang ke Pantai Klayar

The story about libur lebaran masih berlanjut. Kali ini mau berbagi ngebolang ke………….Pacitan. Yes, kampung halaman Pak SBY yang terkenal juga dengan kota 1001 goa saking banyaknya wisata goa di sini. Namun walau banyak goa, teteeep dong ya…pantai is the best for us.

Jadi sebelum melakukan perjalanan dari Wates, Yogya ke Pacitan, kita udah menetapkan destinasi yang bakal kita kunjungi. Karena waktu liburannya juga mepet mesti dibagi-bagi ke sana ke mari *eduuun….kalah jadwal presiden yeee*, jadilah kami memilih destinasi Pantai Klayar.

Dari 8 pantai terkenal dan semuanya keren di Pacitan, kami memilih Klayar. Denger-denger ini pantai yang paling terkenal. Pantai ini tepatnya berada di Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, Pacitan. Untuk sampai ke pantai ini, kita harus melewati jalan kampung (mobil tetap bisa lewat kok) yang naik turun, dan akhirnya begitu akan masuk ke lokasi pinggir pantai, kita harus turun dengan kemiringaan yang cukup curam. Pantainya nun jauh di bawah sana, sementara jalan aspalnya nun jauh di atas sana.

Jpeg

Jpeg

 

Kami sampai menjelang sore di Klayar. Pantai lumayan penuh dengan pengunjung. Karena letak bibir pantainya yang lumayan turun  ke bawah, jadi di sekitar pantai banyak tukang ojek yang menawarkan jasa sekedar untuk naik ke jalan aspal di atas. Sekali naik dikenakan tarif Rp5,000. Oya di sini juga ada fasilitas ATV yang lalu lalang dan disewakan. Target sasarannya adalah pengunjung/wisatwan yang sudah berjalan sampai ujung pantai dan males jalan balik ke titik awal. Nah dengan naik ATV ini kan lebih praktis dan anti capek. ATV ini pas disewakan bisa kita kemudikan sendiri ataupun minta disopirin sama si penyewa loh. Tarifnya sekali jalan kalo gak salah Rp20,000. Bolak balik para pemilik ATV menawari kami, tapi berhubung tujuan kami ke sini memang pengen menikmati pantai, jalan-jalan di pasirnya pantai ya kami gak gubrislah tawaran itu hehe……

Jpeg

Jpeg

 

Pantai Klayar sendiri bukanlah pantai untuk bermain air dan berenang. Malah sebaliknya. Ombaknya besar dan ganas. Sore itu kemungkinan ombaknya sekitar 4 meter. Sepintas area dan struktur bebatuannya mirip di Tanah Lot Bali. Dan yang paling membuat pantai ini ngetop adalah : struktur batu karang yang mirip Spinx dan adanya Seruling Samudera. Seruling Samudera ini sebenarnya adalah sebuah celah sempit di antara karang yang akhirnya menghasilkan air mancur setinggi kurang lebih 10 meter tiap kali ada ombak datang dan air laut masuk melalui celah itu. Bunyinya mungkin mirip bunyi suling sehingga dinamai seperti itu.

Jpeg

Jpeg

 

Jpeg

Jpeg

 

Jpeg

Lihat air mancur di belakang. Itulah si Seruling Samudera

Karena ganasnya ombak, di sana sini banyak terdapat papan petunjuk dilarang berenang, dilarang mendekati area, dan disertai tali pembatas. Plus menara tim SAR yang tiap 10 menit sekali memutar rekaman peringatan untuk tidak bermain air  dan mendekati bibir pantai. Ombak terkadang gak bisa diduga di Klayar ini. Saking besarnya terkadang sampai ke bibir pantai yang sudah tinggal 5 meter lagi dari lapak-lapak para pedagang. Udah tau ombak gede begitu, masih ada aja satu dua pengunjung yang bandel dan memilih berselfie ria dia area sekitar batu Spinx. Alhasil, ada beberapa yang jejeritan karena kena ombak (tapi enggak kegulung ombak). FYI: satu hari sebelum kami sampai di Klayar, ada kejadian seorang pengunjung terseret ombak dan hilang. Proses pencarian masih berlangsung sampai kami menginap di sana, bahkan pak suami sempat bertemu dan ngobrol sejenak dengan salah satu pihak keluarga. Too bad….korban meninggal dan ditemukan di bagian pantai yang lumayan jauh dari Klayar. Innalilahi wainailaihi rojiun.

Oya, pantai ini gak buka sampai malam karena memang tidak disediakan listrik oleh pemda. Jadi, begitu magrib, praktis aktivitas di pantai ini gak ada. Pantai pun gelap gulita, hanya menyisakan deburan keras ombak di malam hari. Lapak pedagang yang menjual mi instan, kelapa muda, kopi teh, berderet di bibir pantai dan memang tatanannya terlihat kurang baik dan sedikit kumuh. Menurut pedagang kelapa muda yang kami singgahi warungnya, pemda memang tidak menyediakan listrik karena sebentar lagi lapak-lapak tersebut digusur dan akan dibuat jalanan.

Jpeg

ini penunggu warungnya, hahahaha…. Nah seperti inilah penampakan lapak-lapak di pinggir pantai

Kami menginap di salah satu penginapan, dan beruntungnya kami ditawari kamar yang viewnya langsung menghadap ke pantai. Banyak sekali homestay bertebaran di sini, bahkan sampai ke kampung penduduk yang jaraknya 1 km atau lebih dari bibir pantai. Menurut pemilik rumah makan yang kami sambangi untuk makan malam, jika peak season liburan tiba, pemilik homestay yang sampai di pelosok kampung sekalipun terpaksa nolak-nolak saking full booked nya mereka. Nah, gak heran kan kalo Klayar ngetop banget….kalo liburan aja sampe kewalahan para pemilik homestay ini, padahal toh di sini samasekali gak bisa berenang loh, cuma bisa selfie-selfie aja.

Jpeg

Ini view dari penginapannya

Jpeg

buka jendela langsng disuguhi pemandangan laut. Heaven…..

Back to cerita penginapan. Ndilalah yang punya penginapan adalah anak motor alias anak klub motor, yang artinya sejiwa abis sama bapaknya Alun Lintang. Sengaja dong ya diajak ngobrol soal touring dan sejenisnya ama pak suami. Hasilnya? Harga kamar dapat murah jon! Aslinya nginap di homestay itu harganya sekitar 200-300 ribuan, tergantung season. Tapi kita bisa dapat 150rb semalam. Alhamdulilah.

Fasilitas kamarnya lumayan. Ada kipas angin, satu bed ukuran queen, kamar mandi yang bersih dan TV kabel. Kalo liburan model begini mah tipi kagak penting banget yeee… Lha iyalaaaah orang kita mau hepi-hepi di pantai, ngapain mandeg di depan tipi juga?

Nah, walaupun Klayar ini area pantai, jangan berharap banyak bisa makan aneka seafood di sini, apalagi model seafood ajib layaknya Bandar Jakarta. Ga ada yang jual seafood samasekali di sini. Ada hanya satu atau dua warung itupun menu yang mereka sebut “seafood” adalah ikan tongkol goreng trus dipenyet di sambel. Yang paling banyak ya warung yang jualan mie instant, kopi dll.

Setelah tidur semalam, pagi harinya kami cepat-cepat bergegas ke pantai begitu matahari mulai terang. Dan karena hari itu adalah hari pertama orang masuk kerja tapi kami malah liburan…alhasil pantainya sepi. Berasa pantai pribadi ih…..

Kami mulai sarapan. Makan mi instan, minum kopi, teh dan susu untuk anak-anak. Selanjutnya anak-anak main pasir, dan kegiatan utama ya foto-foto…apalagi dong ya.

Jpeg

Berasa sarapan pagi di pantai pribadi

Jpeg

main cuma berdua aja

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Kemudian kami naik ke Bukit Indah Lestari. Bukit ini menjadi semacam pemisah antara pantai Klayar utama dan pantai Klayar 2 yang memang tidak bisa dikunjungi dengan bebas karena tidak ada bibir pantai yang lebar dan landai. Untuk masuk ke Bukit Indah Lestari dan menikmati keindahan pantai dari atas, kita dikenakan registrasi Rp2,000.

13701004_10154318406188794_7687390110300253870_o

Jpeg

nyambi jadi penjual karcis

Ketika sampai di atas bukit, bukan main indahnya pemandangan. Tidak usah diceritakan, saya tampilkan foto-fotonya saja ya. Ombak ganas nan indah menghantam bibir pantai Klayar 2. Dari atas Bukit Indah Lestari kita juga bisa menikmati seruling samudera dari jauh. Seharusnya area seruling samudera ini bisa dibuka untuk umum dan kita bisa berselfie ria di dekatnya dengan ditemani pemandu wisata setempat. Namun sudah beberapa pekan tempat itu ditutup menurut para pemandu, karena ombak tak kunjung mereda…selalu tinggi dan berbahaya.

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

 

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Jpeg

Pantai ini cantik. Tapi yah…sayang masih ada pengunjung-pengunjung yang kurang bertanggung jawab dan menyisakan sampah di mana-mana. Bahkan sekumpulan botol plastik bekas air minum terkumpul dan terbawa ombak ke pinggir pantai. Suka sedih kalo berwisata di negeri sendiri dan nemuin kejadian kayak gini. Hiks…kapan bangsa ini bisa kayak negara-negara lain yang disiplin dalam hal kebersihan ya?

Jpeg

sampah yang terbawa ombak

Hari semakin siang, kami pun bersiap-siap pulang ke penginapan dan membersihkan diri. Tak lupa membeli oleh-oleh kaos bertuliskan pantai Klayar untuk keluarga. Sungguh pengalaman luar biasa bisa berkunjung ke Pantai Klayar ini. Semoga suatu saat kami bisa kembali liburan ke Pacitan dan tentunya berkunjung ke pantai lain. Another beach another story.

*artikel ini dimuat di http://theurbanmama.com/articles/liburan-ke-pantai-klayar.html
signature

Advertisements

4 thoughts on “Ngebolang ke Pantai Klayar

  1. restu dewi says:

    ih pacitan, kampung nenekku mbak. aduh, aku ke sini bawaaanya takuuutt.. mana ama anak yg gak bisa lihat ombak.. pdh ombaknha ganas bgt. btw, dulu kami berdiri deket seruling samudra itu.. itu aku dan aidan lihat ke bawah ke pecahan ombak di karang yg emang indah.n beneran menghipnotis sih, sampai disemprit sama guardnya karena bahaya..

    dan emang kan, kt pengunjung dan guardnya banyak pengunjung sibuk selfi, hilang ke bawa ombak yg gak bisa ditebak tiba2 ganasnya.. tp gak banyak tau ya hahahaha, gak mungkin masuk media..

    Like

    • imeldasutarno says:

      Wah asoy atuh kalo kampung nenek, berarti bisa sering-sering ke sana ya. Ih beruntungnya kamuh bisa deket2in si seruling samudra. Eikeh mah cuma bisa menatap mupeng dari jauh. Iya, pengunjung pada suka sok berani ujung-ujungnya hilang keseret ombak. Tapi emang horor ombak pantai klayar ini ya mbak…udah semacam tsunami kecil euy. Nah yang keseret ombak pas aku kesana pun gak masuk media nampaknya. Atau media lokal cuma kita gak ngeh? Ah entahlah….yg penting pantai-pantai di Pacitan semua indaaaaaaah…..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s