Naik ke Puncak Suroloyo

Masih ingat lagu waktu jaman kita anak-anak ini? *kita?? Elo aja kali…*

Memandang alam dari atas bukit,
Sejauh pandang kulepaskan
Sungai nampak berliku
sawah hijau terbentang
Bagai permadani di kaki langit
Gunung menjulang,
berpayung awan,
Oh.. indah pemandangan


Nah, kali ini saya mau berbagi cerita liburan ke……..Puncak Suroloyo.

Mungkin belum banyak yang tau, karena daerah ini kalah ngetop dari Kalibiru. Sama-sama berada di Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Sama-sama berupa daerah perbukitan Menoreh yang menyuguhkan wisata trekking. Tapi bedanya, Suroloyo tidak ada fasilitas apapun selain gardu pandang. Kalau kita ke Kalibiru, masih ada outbound, fasilitas rumah pohon untuk berselfie, dan juga penginapan. Kalau di Suroloyo, minim fasilitas.

Puncak Suroloyo terletak di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh Kabupaten Kulonprogo. Menuju ke daerah ini bisa melalui Magelang-Jawa Tengah ataupun dari Godean-Yogyakarta. Mobil bisa melewati jalanan yang sudah diaspal, namun tetap harus hati-hati karena jalannya sempit dan terus menanjak. Di kiri kanan kita disuguhkan dengan pemadangan seperti yang tergambar dalam lirik lagu di atas.

Kami berangkat dari rumah super pagi sekali yaitu jam 03.30 WIB. Anak-anak dibopong dalam kondisi tidur ke mobil. Pak suami niatannya sampai di Suroloyo mau melihat sunrise, makanya dibela-belain dinihari berangkatnya. Sempat mampir di POM Bensin untuk numpang sholat subuh juga.

Namun sayang, karena kami agak kesasar, sesampainya di Suroloyo matahari sudah terbit banget padahal kami belum sempat naik ke gardu pandang. Hiks..hiks..hiks…tak apalah, yang penting rekreasi *lhah?*

Di daerah wisata ini, terdapat beberapa gardu pandang yang untuk menuju ke sini kita harus menaiki banyak anak tangga. Karena ada beberapa puncak bukit, maka gardu pandangnya pun otomatis lebih dari satu. Gardu tertinggi dan paling terkenal memiliki 286 anak tangga. Dan dari gardu ini, jika cuaca cerah tanpa kabut dan awan, kita bisa melihat pemandangan  Candi Borobudur dan 4 gunung  yaitu Gunung Merapi, Gunung Merbabu, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Wow….keren banget ya! Sayangnya karena kami membawa anak-anak yang masih kecil, maka kami hanya sanggup naik ke gardu pandang yang anak tangganya berjumlah 85. Itupun sudah ngos-ngosan setengah mati.

Sampai di atas, kami tidak seberapa beruntung. Kabut perlahan-lahan mulai pekat dan menutupi hamparan pemandangan indah di bawah sana. Akhirnya kami pun berselfie seadanya. Ketika kabut benar-benar sudah menutupi seluruh pemandangan….kami merasa seperti berada di negeri di atas awan! Sempet bergetar juga hati karena takut. Berasa gak mijak tanah ya, karena kiri kanan udah putih pekat semua. Hiiii…..
Oiya ditambah kondisi gardu pandang yang bikin miris. Genteng dan tegelnya sudah usang sekali, plus banyak sampah peninggalan para pengunjung.

Jpeg

Berdiri sejajar dengan puncak bukit di sebelah sana

 

Jpeg

Gardu pandang

Jpeg

Sekeliling udah putih semua

Jpeg

Background udah putih pekat. Gak bisa liat apa-apa

Jpeg

Jpeg

Setelah berselfie dan menikmati pekatnya kabut, kami pun turun dari gardu pandang. Mobil berjalan turun dan mampir di sebuah area parkir yang menjadi semacam area peristirahatan buat pengunjung Suroloyo. Di area ini ada ornamen berupa patung para punakawan (Semar, Gareng, Bagong, Petruk), dan deretan warung-warung makan. Kebanyakan hanya menjual jajanan anak-anak, mie instant dan aneka minuman saja. Dari berkunjung ke warung, kami jadi tau, bahwa di Suroloyo inipun, penduduk setempat bertanam kopi dan teh. Namun bukan berupa area perkebunan besar, melainkan hanya terdiri dari kebun-kebun pribadi. Kami pun membeli kopi dan teh khas Suroloyo tersebut untuk oleh-oleh.

Jpeg

Deretan warung 

Jpeg

Dinding salah satu bagian bawah gardu pandang. Berlukiskan tokoh pewayangan 

Jpeg

Inilah patung para tokoh punakawan

Jpeg

kopi dan teh khas Suroloyo

Jpeg

Jpeg

Setelah selesai mengisi perut di warung, kami pun turun alias jalan pulang. Seru juga naik ke bukit dan melihat pemandangan indah di bawah sana, plus merasakan semacam berada di negeri awan. Mudah-mudahan kapan-kapan bisa ke sini lagi dan naik ke puncak tertinggi biar bisa liat Borobudur+empat gunung keren itu. Amiiin…..
signature

 

Advertisements

6 thoughts on “Naik ke Puncak Suroloyo

    • imeldasutarno says:

      mbak cindy…aku dah lama gak BW ke tempatmu ih, jadi kangen. Iya seru-seru campur serem karena di atas bukit, mau melangkah ke kiri kanan hati-hati banget, daripada nyemplung ke jurang, hiiiii….
      Soal kopi dan tehnya kebetulan malah aku kasih ke bosku sebagai oleh-oleh. Blas aku gak nyobain, hiks hiks….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s