Cerita dari Sebuah Tas Ransel Sekolah

Tiba-tiba jadi pengen curhat gegara kejadian tadi pagi. Pantes aja anak sekarang banyak yang gak tau susah. Duh ini kenapa tiba-tiba jadi emosi jiwa+sarkas?

Jadi begini. Setiap pagi saya selalu mengantar anak dengan sepeda ke sekolah. Alun selalu senang duduk di boncengan dan yang nyetir sepeda kudu ibunya. Extraordinary case lah seperti misalnya ibu sakit atau urgent mesti ke kantor pagi-pagi banget, yang bisa menggantikan kedudukan sang driver sepeda spesial untuk anak lanang. Entah kenapa dia selalu gembira kalo saya yang boncengin dia di sepeda. Nah, tadi pagi begitu sampai dekat gerbang sekolah, saya melihat ada ibu-ibu yang juga berjalan kaki menuju gerbang sekolah bersama anak perempuannya, mungkin kelas 3 atau 4 SD. Mereka berdua eyel-eyelan *duh bahasa Indonesianya apa ya eyel-eyelan itu?*.

Si ibu: Kakak, sini tasnya berat (sembari meraih ransel anaknya yang udah separo jalan mau dipanggul si anak)
Anak: (dengan muka cemberut dan suara agak tinggi) enggak, biarin aku aja!
Si Ibu: tetep berusaha meraih ransel anak.

Eyel-eyelan berakhir dengan kalahnya si anak. Ibunya dengan sigap memanggul ransel tersebut. Dezig! OMG!

Dalam hati: “ebujuuuuuug….kalo anak gue ye, jangan harap mau gue bawain tasnya! Kudu mesti wajib harus mandiri n bawa tasnya sendiri! Yang mau sekolah dia, bukan gue!”

Maaf jadi panas gak pake dalam. 

Hmmm…bagaimana menurut para pemirsa? Kalau menurut saya, saya akan melakukan kebalikannya. Dan ini sudah saya lakukan sejak anak saya TK! Sejak TK loh ya.

Sering gak sih kita melihat di jalan-jalan, banyak ibu atau mbak pengasuh mengantar anak ke sekolah atau menjemput pulang, dan yang memanggul ransel si anak malah ortu/mbaknya? Anaknya lenggang kangkung. Menurut saya pribadi, ini salah satu bibit-bibit anak jadi manja dan yang lebih mengenaskan dan mungkin lebih ekstrem adalah…..tidak bisa survive di tengah tekanan hidup alias gak ngerti yang namanya susah. Kalau saya, saya biarkan anak yang membawa tasnya sendiri, karena dia yang mau sekolah dan itu memanggul tas adalah bagian dari tanggung jawabnya sendiri yang tidak perlu diserahkan kepada orang lain. Intinya: ngajarin anak akan tanggung jawab.

Orang tua jaman sekarang seringkali berkilah atas nama beratnya beban buku yang dibawa setiap hari berkaitan dengan kurikulum sekolah yang baru. Jangan kira anak saya gak ngalamin. Duh setiap hari tuh ya beban buku cetak plus buku tulis yang kudu dibawa, pas saya nyobain sendiri manggul ranselnya, wow amboi inang beratnya….!

Kekhawatiran anak tulang belakangnya akan terganggu juga menjadi salah satu alasan utama orang tua kemudian mengambil alih tugas membawa tas tersebut. Padahal mereka pun tidak sadar, tipe pengasuhan protektif semacam itu, ke depannya akan mempunyai dampak yang kurang baik terhadap anak. Sayang pada anak itu kewajiban kita, tapi jangan kemudian semuanya diatasnamakan “sayang” hingga akhirnya anak tidak punya experience  menghadapi situasi yang susah. Semua experience di mindsetnya bisa-bisa experience mudah semua. Mengenai masalah tulang belakang, mungkin salah satu cara mencegahnya dengan membelikan anak tas berupa troli/koper yang ada roda dan tinggal ditarik oleh anak.

Back to cerita saya di atas tadi, ada hal lain yang bisa kita tarik dari situ: anak juga merasa kehilangan otoritas. Anak tadi sudah cukup besar, usianya sekitar 8-10 tahun. Usia segitu mah udah malu kali ya kalo masih dibantu ini itu sama ortu apalagi diperlihatkan di depan umum. Perasaan dalam hatinya bahwa “aku bisa” yang ingin ia tunjukkan ke dunia, pupus sudah di detik yg sama saat sang ibu merenggut ranselnya sembari ngoceh soal betapa beratnya tas itu.

stressed-kid

gambar dari sini

Saya bukan psikolog, jadi gak menyertakan tulisan ini samasekali dengan teori ini itu. Semua saya tulis berdasarkan pengalaman saja.

Bo, eikeh jadi kebayang nanti anak eikeh kalo udah dewasa trus ikutan pecinta alam. Apa kabarnya dia mau naik gunung kalo bawa ransel berkilo-kilo di punggung aja nanti dia mengeluh berat dll dsb dkk dst?

Trus inti postingan ini apa deh? Enggak, cuma pengen curhat aja sekaligus bersyukur dalam hati, bahwa sampai hari ini saya dan pak suami masih bisa membesarkan kedua anak saya dengan didikan mengenai betapa pentingnya arti tanggung jawab. But…hey, i’m only human being...bisa saja suatu saat saya pun tergelincir dan melakukan kesalahan.
Just my two cents.

Have a nice Wednesday afternoon 🙂
signature

Advertisements

2 thoughts on “Cerita dari Sebuah Tas Ransel Sekolah

  1. alaniadita says:

    Jadi inget, setelah kerja dan sedang dihampiri mama, mama juga sering menawarkan diri untuk membawakan tasku, Mba. Hehehe.

    Ibuku sering banget menawarkan diri untuk membawakan begini ke 4 anaknya. Tapi anaknya besar dengan tidak manja kok, means, meski tanpa mama kita tetep bisa apa apa sendiri. 🙂

    Like

    • imeldasutarno says:

      halo mbak, makasih udah mampir dan baca ya. alhamdulilah atuh kalo sudah dewasa dan akhirnya tidak pada jadi manja. Makanya aku bilang itu salah satu faktor…masih banyak di luar sana faktor lainnya mbak. Eiya, ibunya mbak nawarin tho, ndak maksa banget kayak ceritaku di postingan ini?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s