Horor itu bernama Kejang

Biar gak kepanjangan, saya persingkat saja ceritanya. Lhah baru mulai kok kalimatnya udah gini? Iyaaa…biar yang baca enggak seberapa bosen. Kan kalo postingan super panjang, selain ngos-ngosan…rasa bosan juga udah pasti ada dong di benak pemirsa, eh pembaca.

Jadi anak sulung saya, Alun, memang punya riwayat kejang demam sejak ia balita. Usia 15 bulan dan usia mau 3 tahun pernah kena kejang demam sampai 3 kali. Ok, kemudian setelah itu dia setiap kali demam, gak pernah menunjukkan gejala kejang lagi. Lagipula kalau dibaca di berbagai referensi, kejang demam sederhana pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun itu wajar. Nah tenanglah hati mamak-mamak yang satu ini ya, sebab Alun sekarang udah mau 7 tahun aja umurnya.

Senin 10 Oktober, pagi dia demam lumayan tinggi. Mamaknya tetep berangkat kerja, tapi jam 11 siang insting seorang ibu mengantarkan saya pulang ke rumah alias kerja setengah hari. Perasaan udah gak enak aja bawaannya. Sampai rumah memang demam Alun masih tinggi, sampai 39,8 derajat. Parasetamol masuk.

Maghrib abis sholat, dia saya paksa makan walopun mulutnya pait. Dia masih ngomong dengan intonasi wajar, gak lemes samasekali. “iya Alun mau makan bu.” Abis itu dia minta selimut karena katanya kedinginan, sekali lagi dengan intonasi kalimat yang super wajar. Gak lemes, gak gemeteran, gak menunjukkan tanda-tanda layaknya orang sakit. Setelah diselimutin, saya balik badan mau ke arah dapur. Kok kakinya ngangkat? Detik berikutnya…..pemandangan horor terhampar di depan saya.

Anak saya kejang.
Mata terbalik ke atas.
Kedua tangan tertekuk kaku di dada.
Gigi mengatup rapat.
Badan miring ke kiri.
Gerakannya seperti orang kesetrum.
Liur mengalir dari sudut mulutnya. Alhamdulilah bukan berupa busa ya Allah. Hanya liur encer.
Suaranya tercekat tertahan, saya gak bisa menggambarkannya via kalimat.

Saya terus berteriak berulang kali memanggil namanya, berharap dia segera sadar.
Namun kejang kali ini cukup lama, mungkin hampir 30 detik.
Waktu usia 15 bulan dan 3 tahun, kejang hanya sebentar gak sampai 20 detik selesai.
Setelah selesai, dia mengeluarkan suara semacam mengerang.

Jangan harap saya mau masukkan sendok, jari tangan saya atau apapun ke dalam mulutnya. Jangan harap saya mau kasih kopi untuk pencegahan anak kejang dll. Guideline yang saya pelajari jauh dari itu. Gak usah dibahas panjang, …ibu-ibu kekinian sudah pasti tau kedua hal ini.

Pengasuh anak berlari ke tetangga minta tolong.
Suami sedang meeting di klien.

Setelah horor kurang lebih 30 detik dan Alun sadar, bersama tetangga yang menyetir motornya, saya “terbang” ke UGD. Terbang=ngebut.

Tidak sempat membungkus Alun dengan baju lengkap, masih pakai kaos rumah dan celana pendek rumah selutut. Terlintas di kepala pun tidak. Padahal malam begitu dingin karena habis hujan.

Saya? Pakai baju tidur, langsung ambil tas karena di pikiran saya hanya satu: yang penting bawa dompet karena pasti proses di RS akan makan biaya ini itu.
Yang penting anak saya selamat dulu.

Menembus dinginnya udara malam. Saya yang posisi suhu tubuh normal aja kedinginan. Gimana anak yang saya pangku yang lagi demam tinggi dan tadi memang sempat minta selimutan karena merasa dingin ya? Tapi dia sepertinya tidak merasa, karena sudah terlalu lemas dan tidur sepanjang perjalanan.

Sampai UGD, dapat dokter yang kooperatif. Dia tidak masukkan stesolid, karena kejang toh sudah berakhir. Malah memberi saran jangan dikit-dikit mikirnya stesolid, karena sesungguhnya stesolid/diazepam itu tidak baik untuk jauntung. Bisa bikin sesak nafas, begitu yang saya tangkap.
Walau dia masih kurang percaya apakah Alun kejang atau menggigil.
Saya tau kenapa para dokter suka kurang percaya dengan keterangan orangtua.
Karena: selain dokter tidak melihat kejadiannya langsung, ย kita yang awam terkadang gak bisa membedakan antara anak menggigil hebat karena kedinginan akibat demam, atau beneran kejang.
Terkadang sebenarnya menggigil, tapi karena udah panik, ortu bilang itu kejang. Penegakan keyakinannya adalah saat dokter sekali lagi bertanya: waktu ibu bilang dia kejang, ibu pegang tangannya bisa dilemesin bisa ditekuk, atau benar-benar kaku?
Dengan yakin saya menjawan yang kedua. Samasekali tidak ada lemes lenturnya badan saat horor itu terjadi. OK berarti memang benar kejang.

Sesuai prosedur yang tepat: Alun dipasang oksigen, dikompres, dan dimasukkan Proris via dubur, dan langsung tes darah.

Semua normal termasuk trombosit dan HB. Leukosit tinggi 19,000 karena tubuhnya sedang perang lawan infeksi. Biang kerok demam tinggi akhirnya ketauan: tenggorokan Alun radang, bahkan ada sariawan di tenggorokan. Alhamdulilah gak? Alhamdulilah dong….bukan meningitis, ensefalitis atau penyakit berat lainnya.

Dokter sarankan pulang. Sakit ini tidak berat, anak posisinya sadar, respon, mau makan dan minum sesudah kejang, walau memang lemes. Buat apa rawat inap. Oleh-olehnya hanya obat untuk meredakan si biang kerok itu tadi.

Horor nampaknya sudah selesai. Yakin? Oh belum!
Kejang demam sederhana yang normal akan terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Anak saya sudah mau 7 tahun.
Galau.
Dokter bilang kalau saya masih ingin lebih yakin, bisa tes EEG (Elektroensefalogram) untuk lebih mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Alun.
Benarkah hanya kejang demam sederhana….atau….?

Ah saya benar-benar gak berani membayangkan seandainya memang ada something uncommon happens to my baby’s brain.

Sampai tulisan ini diposting saya masih galau, dan berusaha mencari pengalaman ortu lain yang mungkin anaknya punya kemiripan pengalaman dengan Alun. Mungkin ada yang mau share dan menolong kegalauan saya? Monggo pembaca semua …. ๐Ÿ™‚

 

Advertisements

19 thoughts on “Horor itu bernama Kejang

    • imeldasutarno says:

      Halo mbak Tasha….thanks udah mampir baca ya. Iya mbak, mudah-mudahan gak kejadian di anakmu ya mbak…. Mudah-mudahan pula galauku ini mereda. Masih ngitung kancing ini, mau EEG apa enggak….hehehe.. ๐Ÿ™‚

      Like

    • imeldasutarno says:

      mba tasha makasih ya. Katanya kalau anak cewek biasanya lebih kuat. Anakku yang cewek juga demam sampe tinggi juga gak ada acara kejang-kejangan. Katanya sih begitu hehe….Galaunya udah rada reda setelah sharing-sharing sama ibu-ibu yang anaknya seusia Alun dan masih pake kejang kalo demam tinggi. Thanks udah baca ya mbak tasha…

      Like

  1. ira i / ira noor says:

    Mbak Imel, ini kok sama ya ceritanya dengan kemarin yg ada di milis? Putranya Mbak Imel yah?
    KD memang bikin trauma liatnya ( anak bungsu saya juga ada riwayat KD ).
    Mbak Imel, ada Mbak Hilda yg punya pengalaman serupa ( di milis ).
    Saya turut mendoakan semoga tidak ada pengaruhnya thd tumbuh kembang putranya….aamiin
    Semoga Alun cepat sembuh, nggak kejang lagi sampai seterusnya, kuat, sehat wal’ afiat….aamiin ya robbal Al-Amin
    Syafakallah…

    Like

    • imeldasutarno says:

      Mbak ira, iya mbak. Aku yang di milis itu hehe. Ternyata kita sama2 anggota milis ya. Alhamdulilah pas baca jawaban di milis dari mbak Hilda, rada tenang dari kegalauan ini, karena punya anak yang umur dan pengalamannya sama. Terima kasih banyak doanya ya mbak…mudah-mudahan anak-anak kita sehat-sehat terus ya. Oiya, mbak ira ditulis gak pengalaman kejang demam anak bungsunya? Pengen baca euy ๐Ÿ™‚
      Btw makasih udah baca postingan ini yaaaa….

      Liked by 1 person

  2. magmignonette says:

    Iya serem banget klo ngeliat anak kecil kejang gitu. Sampe pernah anak tetangga, lagi main sama kakaknya di depan rumah nya, tiba-tiba si kakak teriak-teriak minta tolong sampe nangis kejer, dan semua tetangga keluar. Saya sempat keluar, cuma karena takut ngeliatnya, karena ga tega, alhasil saya gantian yang teriak manggil nyokap sama bokap ๐Ÿ˜ฆ Aduh gimana klo nanti anak sendiri, ya Allah ๐Ÿ˜ฅ

    Ga solusi banget gue ya Mbak? Maafkun…

    Semoga Alunnya cepat sembuh ya Mbak. Cepet main-main lagi sama mama tercinta nya, Aamiin ๐Ÿ™‚

    Like

    • imeldasutarno says:

      mbak makasih udah baca posting ini ya. Iya serem memang walaupun sebenernya kejang demam simple itu gak berbahaya buat otak+perkembangan anak samasekali. Cuma ya walaupun udah pernah ngalamin 2-3 kali, pas ngalamin sekali lagi ya tetep berasa panik bin horor hehehe…. Mudah-mudahan nanti kalau punya anak sendiri, anaknya sehat dan gak ada riwayat kejang demam ya mbak….amiiin….
      Makasih doanya untuk Alun ya..alhamdulilah udah sembuh udah sekolah dan udah pecicilan lagi kok hehe….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s