My Very Very Very…Wishlist’s Book

giveaway-aku-dan-buku

Berhubung saya generasi 80-an, jadi waktu kecil kenalnya ya cuma main kasti, main karet, engklek, galah asin, nonton si Unyil dan Rumah Masa Depan di TVRI plus baca buku. Iya, jaman dulu mana ada gadget, makanya aktivitas anak dulu ya cuma muter di situ aja.
Tentang baca buku, wah waktu kecil bisa dibilang kutu buku. Padahal gak ada turunan dan support. Maksudnya: ibu bapak saya bukan kutu buku, dan beliau berdua juga gak pernah samasekali mendorong anak-anaknya untuk wajib menjadi kutu buku. Lha terus kok bisa? Entah…hehe….

Yang pasti, saya dan kakak saya suka sekali membaca. Jangankan buku cerita anak, buku pelajaran Bahasa Indonesia di kelas waktu SD, yang ngetop banget dengan teksnya “ini Budi, ini bapak Budi” itu habis saya baca kalau di kelas pas lagi gak ada guru.
Nah waktu kecil kami tinggal di Sanggau, sebuah kota super kecil dan agak pedalaman, di daerah Kalimantan Barat. Gak ada toko buku di kota itu. Pasokan buku selalu kami berdua dapatkan dari om dan tante yang tinggal di Jakarta. Om dan tante ini kebetulan tidak punya anak dan sudah menganggap kami berdua sebagai anak-anaknya sendiri. Makanya begitu tau kami berdua hobi baca, beliau pun mengirimkan kami sejumlah buku anak-anak. Begitu pula kalau beliau sedang berada di Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat yang notabene jauh lebih besar dan lengkap ketimbang Sanggau, buku-buku favorit kami pun mereka belikan.

Sama seperti anak-anak 80-an pada umumnya, bukunya gak jauh-jauh dari serangkaian serial dari Enid Blyton. Beuuuuh di era itu….Enid Blyton tuh megang abis! Gak ada hasil karyanya gak laris manis dibaca sama kami! Koleksi buku kami gak jauh dari Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu (ini serial berbau petualangan dan detektif) plus yang gak kalah penting dan yang sangat feminin banget adalah serial Mallory Towers dan Si Kembar di St Clare. Semua cerita tentang Darell, Felicity dan teman-temannya  (Mallory Towers) dan Pat-Isabel (Si Kembar) kami babat habis sampe seri terakhir. Kalau ditanya sekarang koleksi bukunya ke mana…walahualam. Dari Sanggau kami pindah ke Jakarta, lalu ke Bogor. Barang-barang sebagian, termasuk buku-buku, gak sempat kelacak ada di kardus atau peti yang mana. Seandainya masih ada, pasti sudah difoto untuk kebutuhan posting ini.

buku-buku

sumber dari Google
Beranjak dewasa dan kekinian, kakak masih konsisten dengan mengoleksi novel fiksi termasuk yang terhits yaitu Harry Potter. Saya mah nebeng baca doang hahaha…..pelit ya gak modal banget. Waktu tahun 2007, saya ngekost sambil kerja (maklum masih single waktu itu) dan temen-temen di kamar lain pada heran karena saya gak bawa TV dari rumah ke kamar kost, dan saya betah tanpa hiburan. Begitu mereka bilang. Padahal hiburan yang jauh lebih penting buat saya ya menghabiskan berlembar-lembar halaman Harry Potter seri paling terakhir yaitu Harry Potter and the Deathly Hallows ketimbang nonton TV. Bacanya emang rada lama dan ketunda-tunda terus karena nyambi kerja jadi suka kecapean juga.

Pas nikah dan punya anak…..aslilah saya sejujur-jujurnya mengakui…..gak punya waktu buat sekdar me time baca buku. Anak-anak saya selalu dengan cekatan menarik saya untuk main sama mereka. Maklum saya working mom, makanya begitu punya waktu sama anak bener-bener dimanfaatin banget. Kompensasinya….gak baca buku deh. Sedih? Bangetttt! Tapi ya mesti ada prioritas dalam hidup ini. Pernah nyoba nyuri-nyuri baca: pas di kantor, malah gak konsen karena takut ketauan bos *yaiyalaaah situ masih mau terima gaji apa gimana?. Pas dicoba nyuri waktu tengah malam after anak-anak tidur, malah pedes mata karena udah kelewat capek bin ngantuk tapi mata masih dipaksa membaca. Ah sudahlah….pasrah wae.

Eits biar begini-begini….tetep dong saya mah punya buku yang pengeeeeeeeeeeeeen….. banget saya baca. Malah saya bertekad kuaaat banget kudu punya buku itu. Apa daya….karena ketidakupdatean saya, saya baru ngeh sama buku itu setelah beberapa tahun buku ini dirilis. Sekarang sudah gak ada di pasaran alias udah gak cetak ulang lagi yang versi Indonesianya. 😦

Ini dia bukunya.

Sickened
9c29f11e-d802-43bc-bf66-64acb0058a61img400

Yang ditulis berdasarkan true story dari author buku ini yaitu Julie Gregory. Singkat cerita ibu dari Julie menderita semacam sindrom bernama Munchhausen. Berdasarkan wikipedia, Sindrom Münchhausen adalah istilah untuk penyakit mental di mana orang menciptakan gejala atau penyakit pada diri mereka atau anak mereka untuk mendapat investigasi, penanganan, perhatian, simpati dan kenyamanan dari tenaga medis. Dalam beberapa hal, orang yang menderita sindrom Münchausen memiliki pengetahuan medis yang tinggi. Contohnya orang yang terkena sindrom ini menyuntik diri mereka dengan beda yang terinfeksi, sehingga harus dilakukan analisis medis dan memperpanjang masa inap mereka di rumah sakit.

Akibat ibunya menderita sindrom ini, Julie berulang kali dibuat sakit, dan sudah puluhan kali keluar masuk rumah sakit, rontgen, operasi ini itu, untuk semua penyakit yang sebenarnya tidak ia derita. Sempat ia berusaha menjelaskan ke banyak orang bahwa dia sehat sementara ibunyalah yang perlu mendapatkan penanganan khusus terkait penyakit kejiwaannya. Tapi siapa yang mau percaya sama omongan seorang anak kecil?

Di dunia ini banyak sekali buku yang bercerita kisah orang-orang yang menderita aneka sindrom dan penyakit kejiwaan, mulai dari Bipolar Diosrder, Obssesive Compulsive Disorder, Sindrom Asperger, dan banyak lagi jenis-jenis lainnya. Tapi kenapa saya tetap obsessed pengen banget baca buku ini?

Karena sindrom ini diderita seorang ibu dan kemudian dilampiaskan ke anaknya.

Saya seorang ibu. Langsunglah membayangkan bagaimana jika saya yang ada di posisi si anak, atau bagaimana jika saya yang berada di posisi si ibu? Lalu pikiran waras saya kembali ke…..saya seorang ibu dan seharusnya saya melindungi anak-anak saya dengan kasih sayang. Bukannya malah menciptakan kehidupan yang super horor seperti yang dialami Julie. Duh gak kebayang tubuh anak kecil yang dipaksa menderita serangkaian penyakit seperti cerita di buku itu. Anak saya kena pilek dan demam aja saya kayaknya udah pengen banget dan mohon-mohon sama Allah supaya penyakitnya pindahin ke saya aja semua….lha ini ibu Julie malah berlaku sebaliknya? Terus ditambah ngeliat cover buku ini, seorang anak perempuan memegang boneka di tangan kanannya sembari menangis, makinlah luluh sedih gak karu-karuan, ngebayangin anak perempuan saya yang masih 4 tahun, yang juga suka megangin boneka dengan style di tangan kanan kayak gitu.
Hiks…. 😦

Lepas dari apakah apa yang ditulis Julie itu 100% benar semua atau ada sisipan drama juga di dalamnya, entahlah….karena Julie tinggal di Amerika dan kita di Indonesia. Kita gak tau dengan jelas juga gimana kejadian aslinya. Tapi yang pasti…sindrom itu memang ada, dan tulisan Julie ini tetap bisa dibaca untuk membawa kita sebagai orangtua, pada pemahaman sindrom  Münchausen ini.

Duh…di mana lagi saya harus mencari buku ini? Di berbagai online shop sudah tidak tersedia lagi buku secondnya. Ah sekarang benar-benar menyesal karena kurang update…jadi ketinggalan baca buku bagus deh.  I wish someone who read this will give me  valuable info about this book 😦

Postingan ini diikut sertakan dalam Giveaway Kisah Antara Aku dan Buku

Advertisements

2 thoughts on “My Very Very Very…Wishlist’s Book

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s