Ngebolang ke Paniis

Long weekend libur natal kali ini, Tim Weekenders berkesempatan ngebolang jauh di ujung paling barat pulau Jawa. Ujung Kulon.

Pak suami membawa Tim Weekenders ke sebuah kampung bernama Paniis. Lengkapnya: Kampung Wisata Paniis, Tamanjaya, Kecamatan Sumur, Ujung Kulon, Banten. Kok bisa ke sini? Apa itu Paniis?

15732012_10154825758138794_4536285365828047934_o

Kampung ini awalnya adalah kampung biasa di daerah Ujung Kulon, yang kemudian sejak tahun 2005 dijadikan kampung binaan WWF Indonesia (World Wild Fund) khususnya untuk aktivitas pelestarian terumbu karang dan biota laut lainnya. Warga di kampung ini awalnya memiliki mata pencarian di bidang agraria. Namun ada kabar pula bahwa terjadi pembalakan liar sehubungan dengan area hutan Taman Nasional Ujung Kulon yang berada di sekitar mereka. Maka oleh WWF, warga kampung ini dirangkul untuk melakukan kegiatan yang jauh lebih positif dan disesuaikan dengan kondisi geografis Paniis sendiri yang berupa pantai dan lautan tempat terumbu karang tumbuh.Warga yang dirangkul terutama sekali adalah para pemudanya. Mereka dibekali keterampilan dan penyuluhan bagaimana mengelola terumbu karang. Gak heran mereka rata-rata sudah jago melakukan scuba diving karena mau tidak mau harus mahir menanam terumbu karang di dasar laut.
Kebanyakan yang datang ke sini adalah rombongan peneliti dan yang berkepentingan dengan aktivitas ekosistem laut. Jadi tempat ini memang bukan kawasan wisata/rekreasi yang bisa didatangi setiap wisatawan. Walau bukan kawasan wisata komersil, tetap tersedia beberapa homestay yang dikelola oleh para pemuda dan warga pemilik rumah. Nama tiap homestay mengambil nama-nama biota laut loh.

15724974_10154836394283794_7848686246643100139_o

Nah para pemuda ini tergabung dalam kelompok bernama Paniis Lestari, atau biasa disebut dengan Panles. Kelompok Panles jadi punya dua aktivitas utama: mereka mengurus terumbu karang, dan  juga menyewakan peralatan snorkeling + menyelam + menjadi guide + menyewakan kapal kayu untuk mengangkut orang-orang yang mau melihat dan meneliti langsung terumbu karang di pulau sekitar kampung. Pulau terdekat adalah Pulau Badul, yang ditempuh kurang lebih 1 jam naik kapal motor kayu.
Salah satu teman diving pak suami adalah staf WWF yang memang ditugaskan untuk memonitor terumbu karang di kampung ini. Pak suami sering diajak temannya diving di sini (duluuuu tapiiiiii….jauh sebelum kami nikah), dan sudah mengenal teman-teman dari kelompok Panles dengan baik.

15724615_10154836421023794_1969537820907808336_o

Setelah berkoordinasi dari Jakarta dengan teman-teman Panles, kami pun cuss ke sini untuk long weekend. Kami tidak hanya berempat, tapi ber 23! Iya, karena sepupu-sepupu pak suami plus keluarganya masing-masing juga ikut liburan ke sini. Total ada 5 kepala keluarga yang ikut. Kami patungan. Kami konvoi kendaraan dari Jakarta.

Menempuh 11 jam dari Jakarta, berangkat jam 00.00 WIB malam hari, dan harus melewati satu-satunya jalan menuju ke Paniis yang rusak parah (penuh lubang dan lebih mirip kubangan dibanding jalan), semua terbayarkan dengan pemandangan alamnya, terutama pantai. Walaupun hari pertama di sana diisi dengan cuaca mendung dan hujan yang on off. Ditambah sedang musim angin barat, yang membuat angin kencang bertiup dan lumayan bikin masuk angin, dan ombak di laut terkadang lebih besar dibanding hari biasanya. Sebetulnya bisa kurang dari 11 jam jarak tempuhnya, tapi karena kendaraan harus berjalan super pelan di banyak kubangan, jadi lebih lama deh waktu yang harus dihabiskan di jalan.

Sebenarnya selain pantai, kampung ini pun menawarkan wisata lain yaitu adanya air terjun di dalam hutan yang harus ditempuh setelah trekking kurang lebih 1 jam dengan medan yang cukup ekstrim. Karena kami membawa anak kecil, teman-teman guide kelompok Panles samasekali tidak merekomendasikan kami ke sana.

Homestay menyediakan fasilitas berupa sebuah rumah sederhana, lengkap dengan makan 3x sehari. Hitungannya: sewa homestay Rp175,000 per rumah per hari. Untuk makan, dikenakan Rp20,000 per satu kali makan per orang. Jika ingin menyewa alat snorkeling, dikenakan harga Rp30,000 per alat per orang. Sementara untuk kapal kayu jika memang ingin main ke pulau, satu kapal dibandrol sewa Rp1,000,000, dan muat untuk 25-30 orang. Soal masakan di homestay, duh enak-enak! Karena saya Indonesia banget, dicekokin tiap hari pake sayur asem, sop, tumis putren, bihun goreng, nasi uduk, ikan goreng, tempe+tahu goreng, lalapan plus sambel…mana tahaaannnnn…. (pulang dari liburan celana jadi sempit terutama bagian paha mameeeeen….dan dapat salam manis dari timbangan). Cemilannya pisang goreng dan sukun goreng. Eleuh eleeeuh……yummy pisan lah.

p_20161224_104803-1536x864

Setiap hari, kami bermain di pantai yang letaknya di cuma 50 meter di depan homestay. Sekali lagi, karena bukan kawasan wisata komersil, jadi tidak ada pengunjung siapapun di pantai kecuali kami. Mirip pantai pribadi. Alun, Lintang dan sepupu-sepupunya senang bukan main. Gak peduli jadi hitam dan gosong, yang penting hepi. Kalo sudah capek, pulangnya ngelewatin warung-warung penduduk dan mampir untuk sekedar ngemil.

15724891_10154836376653794_5611479962020598700_o

15723355_10154836394448794_2912026647076323736_o

15723501_10154836396113794_6686395857864702318_o

Di seberang sana samar-samar terlihat Gunung Payung. Itu bener-bener di super ujungnya pulau Jawa, ujungnya Ujung Kulon. 

15723591_10154836393203794_366379339436622971_o

nobody’s here

15731876_10154836393858794_942229456760419459_o

15777107_10154836392578794_5247940760313338223_o

Malamnya bakar-bakar ikan di depan homestay. Tapi karena saya udah capek berat ngasuh anak-anak main di pantai seharian, jadi saya tewas ketika orang pada makan-makan 🙂

Pulang dari Paniis gak bawa oleh-oleh apapun kecuali sukun. Iya, sukun yang dibeli dari penduduk sekitar aja. Bawa dalam bentuk buah mentah, sampai di rumah digoreng sama mbak pengasuh anak-anak, jadi keripik sukun. Nyam nyam…..

p_20161227_084645-2937x1652-2202x1239

Di sini juga samasekali gak ada toko suvenir atau oleh-oleh. Kalo cari warung yang jualan bensin eceran jangan ditanya banyaknya, hahahaha. Maklum kampungnya super jauh dari SPBU cuy. Oiya, karena kondisi jalannya lumayan parah, selama di sana saya perhatikan warga lebih banyak yang memiliki motor jenis trail ketimbang motor bebek. Wah kenyang jadi offroader lah di Paniis mah.

Sebelum pulang, kami sempatkan berfoto bersama teman-teman Panles dan pemilik homestay.

15625852_10154836431693794_5923124375748791070_o

Tak lupa kami diminta mengisi buku tamu yang memuat data diri plus kesan dan saran. Yang positifnya sudah tentu saya tulis betapa terima kasihnya kita sudah dijamu dengan baik dan ramah selama di homestay. Dan sisanya saya kasih saran dong soal akses jalan yang parah itu. Mudah-mudahan bisa diteruskan ke Pemda setempat, apalagi ini kan udah deket mau pemilihan Gubernur Banten yes? *lhah dia ngemeng politik. Sotoy ih*

Mudah-mudahan kami kapan-kapan bisa datang ke sini lagi.Sambutan kelompok Panles dan pemilik homestay yang ramah, wisata pantainya yang indah, dan sepinya pengunjung, benar-benar bikin kami betah. Kalau anak-anak sudah cukup besar, mudah-mudahan bisa ngajak mereka trekking ke dalam Taman Nasional Ujung Kulonnya juga di samping main di pantainya. Amiiin….
signature

Advertisements

18 thoughts on “Ngebolang ke Paniis

    • imeldasutarno says:

      aiiih mbak dewi hayuk atuh, nanti referensinya via suamiku aja biar bisa nginep di sana hehe. Homestaynya murah karena bener2 rumah penduduk biasa. Jangan harap ada kamar mewah plus kamar mandi super bersih nan kinclong kayak di losmen atau hotel, kalau ke sini. Semua serba sederhana mbak makanya sesuai sama harganya hehe. Ayuk biar gak mupeng buruan pulkam ke Indonesia 🙂

      Like

    • imeldasutarno says:

      halo mas, makasih udah mampir dan baca ya. Sebenernya gak bersih banget kok, di sela2 batu karang masih ada satu dua sampah ditinggalkan masyarakat sekitar. Yah begitulah pantai di negara kita mas 🙂 Merencanakan masa depan cucok mas, pre wed di sini oke jali kayaknya hahahaha….

      Like

    • imeldasutarno says:

      terima kasih udah mampir dan baca ya Ry. Iya sepi karena gak ada wisawatan ke sini. Gak bersih2 amat sebenernya, di sela2 batu2 karang masih banyak sampah juga kok Ry, cuma gak aku fotoin. Sedih ya hiks…

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s