Rumahku = Base Camp ART

Masih seputar dunia per-ART-an. Iiih bosen deh dari kemarin postingannya itu melulu. Jenuh tau yang baca…!

Yang jenuh pada menyingkir dulu ya. Soalnya yang punya blog tetep kegatelan nulis soal ART. Emmm…sebenernya bukan kegatelan kali ya, tapi emang kaga punya topik lain. Enggak gaul skali ya topiknya muter di situ aje, haha….

Tahun 2012, ART saya yang namanya mbak Melati minta ijin pulang sebentar ke kampung. Asli saya lupa waktu itu apa urusan dia sampe minta pulang. Lalu dia kembali lagi ke Jakarta. Sebelum kembali ke Jakarta, dia sudah kontak-kontakan sama saya, dan bilang bahwa dia punya 5 orang temannya yang mau cari kerja di Jakarta. Dan minta bantuan saya untuk mencarikan bos bagi masing-masing temannya. Semua mau menjadi pengasuh anak. Saya lalu membantunya. Saya tawarkan kelima orang ini ke teman-teman kantor dan teman kuliah saya, plus nyuruh suami juga buat sebar-sebar info ke teman-teman klub motornya juga. Dan rata-rata yang kita tawarin adalah newbie parents alias baru pada punya anak bayi.

Mekanisme nawarinnya:
1. Tanya ke temen, pada butuh ART ngasuh anak gak?
2. Kalo mereka pada bilang iya, langsung saya kasih nomor telepon Melati.
3. Calon bos yang akan ngambil temen Melati langsung ngobrol sama Melati, soal pengalaman kerja masing-masing teman Melati, soal nego gaji dll.
4. Intinya: saya dan suami cuma nyebar info doang, selanjutnya urusan admin, perantara dll kita gak mau ikut campur, karena emang gak berminat ketiban apa-apa kalo misalnya sampe salah mempromosikan orang. Makasih deeeh. <—- ini maksudnya gini: misalnya sampe saya yang jadi semacam makelarnya, yang mempromosikan skill dan experience temen-temen Melati ke temen saya, dan ketika semua berlangsung mulus plus temen Melati deal dan kerja di rumah temen saya……lalu tiba-tiba baru seminggu kemudian temen Melati membuat drama minta pulkam dll. Nah lo…siapa yang imagenya buruk? Eikeh kan? Karena eikeh yang berbusa-busa mempromosikan mereka. Kejadian kayak gini yang big no no dan selalu saya hindari.

Singkat cerita, dari hasil kontak-kontakan si Melati dengan beberapa temen saya dan suami, maka masing-masing ART ini dapat pekerjaan. Nah ketika mereka berenam berangkat ke Jakarta, di manakah base campnya? Ofkorsss…di rumah saya. Wuiiih kebayang ya, rumah yang tadinya saya cuma huni berempat: Suami + saya + Alun + Melati + plus Lintang yang masih dalam kandungan, tau-tau menjadi rameeee.

Apa reaksi saya dan suami ketika Melati ijin: pak, bu, ini temen-temen Melati boleh ijin nginep di sini dulu gak sampe bosnya pada jemput satu persatu? Wuah saya malah very very very welcome. Mungkin Melati dan teman-temannya gak enak, karena mikirnya kalo stay di rumah saya, berarti urusan makan jadi tanggungan saya dll dsb. Deep down inside saya dan suami samasekali malah gak kepikiran soal itu. Yang kepikir cuma, betapa enaknya si Alun selama kami tinggal kerja banyak mbak-mbak yang bisa ngajakin dia main di rumah, dan misalnya Melati butuh sholat atau makan, masih ada 5 mbak lain yang bisa gantian jaga Alun. Dan kenyataannya, Alun waktu itu emang seneng banget kedatangan para calon ART yang rata-rata memang sudah pengalaman kerja ngasuh anak. Mereka semua ganti-gantian ngajakin Alun main.

Kelimanya stay tidak lama di rumah saya, hanya satu malam. Keesokan harinya teman-teman kantor saya dan teman klub motor suami datang satu per satu menjemput mereka. Oya, kelima orang ini semua adalah tetangganya Melati. Tapi namanya hubungan pertetanggaan di kampung kan tau sendiri…udah kayak sodara sedarah aja, hehe. Beda sama kita di kota *eciyeee yang anak kota.

Setiap bos yang mengambil ART ini bertanya ke saya dan suami, berapa uang jasa yang harus dikasih. Kami berdua meyakinkan bahwa uang jasa jangan dikasih ke kami berdua, karena makelarnya ya Melati, bukan kami. Kami cuma membantu menyediakan base camp untuk mereka aja kok. Akhirnya semua orang memberi amplop uang jasa ke Melati, karena udah dibantuin nyari ART.

Salah satu teman kantor saya malah nyeletuk: “Mel, lu kagak jadi agen penyalur ART aja? Dibisnisin asik nih kayaknya, hehe.” Saya cuma ketawa nimpalin dia. Kalo dipikir iya juga sih, cuma ah maleslah karena bapernya bakal lebih banyak. Seperti cerita saya di atas tadi, apa jadinya kita misalnya beneran jadi penyalur, tau-tau orang yang heboh kita promosiin dan deal dengan calon bosnya, cuma kerja seminggu trus minta pulkam misalnya.

Sejak saat itu, ke depan-depannya…rumah kami masih tetap menjadi basecamp tiap kali ada lagi teman atau tetangga ART kami (bahkan ART sesudah Melati resign ya) yang mau kerja di Jakarta dan belum dijemput sama bosnya.

Nah di era mbak Mawar inipun, sudah beberapa kali Mawar membawa kerabatnya kerja jadi ART di Jakarta juga. Beberapa di antaranya minta dicarikan bos juga sama saya. Mekanisme point 1 sampe 4 berulang.

Bahkan ada yang belum dapat bos tapi udah ngikut dateng ke Jakarta, jadi stay sampe beberapa hari di rumah saya sampe dapat pekerjaan. It’s OK, saya dan suami samasekali gak masalah. Malah enak tho, berasa punya lebih dari satu ART hehe. Ya karena mereka ini gak diam aja. Ikutan bersihin rumahlah, main sama anak-anak saya lah. Intinya mereka juga menjaga etika lah: udah numpang di rumah orang kok yo males-malesan? Ayo bantu-bantu. Kurang lebih gitu yang ada dalam mindset mereka.

Bahkan terakhir mbak Mawar membawa anaknya yang laki-laki kerja di Jakarta, di sebuah perusahaan ekspedisi. Tapi cuma bertahan seminggu entah karena alasan apa saya gak mau ikut campur. Dan setelah resign dari kerjaannya, si anak ini sempat stay seminggu juga di rumah kami. Dan tiba-tiba Mawar menghadap kami: “ibu bapak punten ya, Mawar gak enak sama ibu bapak karena anak Mawar kelamaan tinggal di rumah sini.” Langsunglah kami jawab: “ya gakpapa mbak, kami gak mikirin samasekali kok. Kerabat/temen mbak yang pada mau kerja di Jakarta aja kami terima nginep di sini, apalagi ini anak kandungnya mbak Mawar?”
Jadi rupanya si Mawar gelisah n berasa gak enak ati cuy anaknya kelamaan ngendon di rumah bosnya, hihi.

Begitulah sekelumit cerita tentang rumah kami yang menjadi base camp. Nah, mulai tahun 2016 sampai sekarang, base camp itu sepi alias sudah tidak ada lagi calon-calon ART yang stay sejenak sampai bosnya menjemput.
Kenapa kok sepi?
Tunggu kelanjutan kisahnya di postingan yang berikutnya yaaaa….etapi kalau yang bosen sama topik ini yo monggo ojo dibaca ihiyyy 🙂

signature

Advertisements

4 thoughts on “Rumahku = Base Camp ART

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s