Kasih Ibu dan Semangat Fresh Graduate

Minggu lalu, mbak Mawar tiba-tiba ngajakin saya dan suami ngobrol.
“bu, kasian deh temen embak.” Pas saya tanya kenapa, mengalirlah cerita panjang lebarnya.

Mbak Mawar punya teman yang sepantaran dia dan juga bekerja sebagai ART di bilangan Jakarta Barat. Sebutlah temannya ini Mbak Kasih ( nama samaran). Mbak Kasih sudah punya anak usia 20 tahunan, sudah lulus dari SMA di kampungnya. Si anak sudah pernah kerja di perusahaan ekspedisi lalu resign karena di perusahaan itu kerja nonstop, Sabtu-Minggu juga kerja, dan air minum beli sendiri, hiks hiks.

Entah gimana cerita detailnya, anak mbak Kasih diajak temannya di kampung untuk kerja merantau di Jakarta, di sebuah perusahaan yang menjanjikan akan menggaji karyawannya 3 juta, plus nyediain mess dan makan. Syaratnya pun hanya lulusan SMA. Wah asik banget ya. Sebagai seorang fresh graduate yang lagi semangat-semangatnya nyari kerja, si anak tergiur dengan tawaran ini, dan berbekal pengetahuan super terbatas mengenai perusahaan yang dituju, berangkatlah anak mbak Kasih ke Jakarta.
Sesampai di Jakarta, katanya kerjanya pakai komputer, semacam mendata barang. tetapi belum ada seminggu tiba-tiba mbak Kasih ditelepon anaknya. Anaknya diminta menyiapkan uang kurang lebih 10 juta. Nah lo…..buat apa ya?

Menurut supervisornya, uang tersebut akan digunakan perusahaan untuk membeli komputer/laptop yang akan digunakan si anak dalam bekerja. Katanya selama beberapa hari ini si anak kerja pinjem komputer teman-temannya yang sudah duluan kerja dan tinggal di mess itu. Katanya lagi: komputer itu pun setelah karyawan resign silakan dibawa pulang juga, gak akan jadi hak milik perusahaan karena toh membelinya ya pake uang karyawan.

Sampai di sini sebenarnya sudah ada yang aneh. Jadi ada perusahaan yang gak sanggup menyiapkan fasilitas kerja untuk karyawan dan memenuhinya dengan cara karyawan itu yang wajib membeli?

Tapi sekali lagi karena terbatasnya pengetahuan, maka mbak Kasih menyanggupi saja. Awalnya dia minta ijin pulkam ke bosnya untuk menggadaikan kebun sawitnya demi memenuhi permintaan perusahaan anaknya itu. Lalu si bos nampaknya menimbang-nimbang: kalo mbak Kasih pulkam lagi, wah repot gak ada ART di rumah.
Akhirnya si bos katanya bersedia meminjamkan uang sebesar 10 juta itu setelah mbak Kasih menceritakan problem yang dihadapi anaknya. Oiya, gak sebatas telepon-teleponan sama anaknya, mbak Kasih katanya juga survey dan datang ke area perusahaan anaknya itu di bilangan Bekasi sana. Setelah survey itu, mbak Kasih bilang kalo di situ memang benar anaknya tinggal di mess, pekerjanya juga banyak, dan katanya dia sudah diperlihatkan contoh surat perjanjian kerjasama termasuk surat resmi penyerahan uang 10 juta itu. Semuanya bermeterai. Semakin yakin dong si mbak.

Ketika rundingan sama bosnya bagaimana nanti proses pengembalian utang 10 juta ini, mbak Kasih dengan mantap menjawab: langsung potong gaji saya aja pak. Bila perlu setiap bulan saya tidak usah gajian tidak apa-apa, asal utang saya lunas.

Cerita selanjutnya, sebelum meminjamkan uang dan menyerahkan uang itu ke Bekasi, rupanya bosnya mbak Kasih gak tinggal diam. Dia minta nama perusahaan tempat anak mbak Kasih kerja, dan dia survey alias googling di internet, mengumpulkan sebanyak mungkin fakta yang ada karena sejujurnya dia pun rada aneh: di mana-mana kita kerja digaji perusahaan, tapi ini kok kebalikannya malah kita yang mesti bayar?

Hasil googlingnya sederhana: perusahaan itu ternyata semacam MLM, di mana produk yang wajib dibeli oleh downline adalah laptop/komputer. Downline nanti juga bisa menggunakan komputer tersebut untuk merekrut donwline lagi dan seterusnya.

Si bos menjelaskan ke mbak Kasih dan menyerahkan keputusan sepenuhnya ke mbak Kasih. Kalau si anak memang semangat, punya passion di situ, dan terus mau bekerja di situ it’s OK, sepuluh juta akan disiapkan. Tapi, jika anaknya pasif sementara untuk merekrut downline memang sejatinya butuh orang yang persuasif, ya alamat susah untuk mendapatkan downline dengan cepat. Mbak Kasih mikir-mikir setelah mendapat penjelasan dari bosnya. Lalu dia ngobrol sama anaknya. Mendapatkan insight semacam itu, si anak yang kebetulan memang tipikalnya pasif, akhirnya mengundurkan diri dari perusahaan itu sebelum membayar 10 juta.

fresh-graduate

gambar dari jakartakita.com

Moral of story:

1. Kasih ibu sepanjang masa: mbak Kasih sampe bela-belain mau gak gajian demi bayar utang. Kalau sampai kejadian, wah luar biasa bangeeet cintanya mbak Kasih kepada anaknya. Lepas dari apapun content ceritanya, perilaku mbak Kasih ngasih pelajaran ke kita yang orangtua, terutama yang newbie, bagaimana tak pernah putusnya cinta kasih seorang ibu terhadap anaknya.

2. Sebagai fresh graduate, semangat dalam mencari kerja dengan konsekuensi apapun ditempuh. Saya dan mungkin ribuan orang di luar sana saat mengalami masa fresh grad pun mengalami hal yang sama. Tapi…. (baca point 3)

3. Tidak ada yang salah dalam dunia kerja di bidang apapun. Yang pasti, sebelum kita terjun ke sebuah pekerjaan, ada baiknya mempelajari dulu A-Z tentang posisi dan perusahaan yang dituju. Agar kita bisa menyesuaikan dengan skill kita masing-masing. Apalagi sekarang jaman internet sudah di tangan, ga ada kata susah lagi untuk menelusuri hal apapun di dunia ini.

4. Jika kita mendapati teman/kerabat/saudara, atau apapun yang masih ragu-ragu akan pekerjaan yang digelutinya, tugas utama kita hanya memberikan penjelasan fakta secara objektif saja. Apalagi kalau kita sudah lebih berpengalaman di dunia karier. Usahakan keputusan terakhir ada di tangan yang bersangkutan/yang mau kerja. Jangan sampai kita terlihat seperti provokator/penghasut. Posisikan diri kita hanya sebatas membantu, memberi info saja.

Itulah sekelumit cerita dari hasil chitchat saya bersama mbak Mawar. Semoga ada manfaatnya cerita ini ya guys 🙂
signature

Advertisements

9 thoughts on “Kasih Ibu dan Semangat Fresh Graduate

    • imeldasutarno says:

      mbak Ina, iyaa alhamdulilah belum kejadian. Yah begitulah dunia kerja yang keras mbak. Makanya selagi sekarang teknologi makin mudah alias udah dalam genggaman tangan, kitanya aja yang pinter2 untuk eksplor cari tau sebelum lamar sana sini ya. Jgn maen pesbuk aja yg dikencengin #kodekerasbuatdirisendiri. 🙂

      Like

    • imeldasutarno says:

      Iya Nel, alhamdulilah belum. Tapi setauku (baca-baca di internet) kalau MLM sistem kerjanya memang begitu, jadi semua kembali ke kita apakah mau menerima keadaan/konsekuensi itu atau tidak hehe. Makanya aku gak mention “kena tipu” di postingan ini (kuatir salah juga sih, maklum belum pernah MLM an).

      Like

  1. nyonyamalas says:

    Duhhh… semoga anak Mbak Kasih mendapat pekerjaan yang baik ya mbak….
    Saya kalo denger cerita ttg ibu gini, sering adi mellow inget mama….

    Liked by 1 person

  2. tia putri says:

    sodaraku jg pernah hampir dpt kerja yang urusannya malah jd ribet. udah gajinya kecil bgt, kantornya kayak gak keurus gitu. untung gak jadi diambil.

    btw, aq suka baca iklan di jalan kerjaan yang gajian 500rb/hari, dikerjakan dari rumah, flexible, gitu2 itu apa ya kira2? pernah menyelidiki gak mba imel?

    klo 500rb/hari joss amat… hahaha… apalagi nglamarnya tanpa CV

    Like

    • imeldasutarno says:

      mba tia maafin baru bales. Biasaaa…sok sibuk gitu deh di kantor haha. Kalo yg 500 per hari aku juga belum tau itu kerja apaan mbak, tapi mungkin gak sih semacam jadi marketing atau malah MLM gitu2? He3 malah balik nanya. Yuk kita selidiki bersama-sama

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s