Toko Absurd dan Hikmahnya

Menulis tentang kena suspend oleh salah satu provider ojek online, membuat saya teringat kembali ke sebuah kejadian absurd di tahun 2016. Iya, baru tahun lalu, tepatnya bulan puasa.

Setiap lebaran, pak suami pasti mengajak saya mudik ke Yogya, kampung halamannya. Tentunya setelah terlebih dulu lebaran di rumah ortu saya di Bogor yes? Nah, kami berdua ini kebetulan sama-sama suka yang simple untuk urusan berpakaian terutama mempersiapkan pakaian mudik. Salah satu yang selalu kami incar adalah celana gunung/outdoor.

1285153_105_main

Gambar dari ems.com

Kenapa? Karena seringkali di kampung, kami ngebolang atau sekedar jalan-jalan wara wiri ke alun-alun ngajak anak-anak main. Celana gunung selalu jadi pilihan karena bahannya yang gampang kering kalau habis dicuci. Bawa jeans is a big no no for me acapkali pulang mudik. Huhuhuhu…ngebayangin beratnya, trus dicuci tanpa mesin (di kampung nyuci manual bro, gak ada mesin cuci), nungguin keringnya bisa urut dada duluan. Makanya sebelum pulkam, kita siap-siapin dulu nih pakaian wajib buat di sana. *haduh pakaian wajib?*

OK, jadi topik utamanya celana gunung ya. Kami sering mendatangi toko-toko perlengkapan outdoor di seputaran lokasi rumah, untuk mencari celana gunung yang cucok, termasuk kaos-kaos oblongnya juga. Nah salah satunya toko outdoor di bilangan Jalan Basuki Rahmat, Jakarta Timur. Tokonya nyempil di antara mimarket dan Pom Bensin. Sore hari menjelang buka puasa, kami datang ke sana. Pak suami pilah pilih celana, nyobain satu per satu, enak atau enggak dipakenya. Karena orangnya detail dan gak mau terburu-buru menentukan pilihan (gak kayak saya yang begitu keliatan bagus dan enak, langsung bayar), jadi proses milih-milihnya rada lama. Ketika dapat satu yang disuka, langsung ditumpuk dekat meja kasir, kemudian doi milih lagi. Memang niatnya mau beli lebih dari satu. Sampai akhirnya mendekati jam 17.55 WIB, udah deket banget mau buka puasa. Pak suami sudah ada 3 pilihan yang ditumpuk di meja kasir, dan lagi nyoba pilihan selanjutnya. Dan apa yang terjadi? Pemilik toko dan asistennya mematikan lampu. Saya pikir memang mati lampu dari PLN, rupanya sengaja dimatikan. Kita berdua melongo dan liat-liatan. Si pemilik toko ngomong sekenanya tanpa melihat muka kita berdua: mau tutup tokonya, mau buka puasa. Buka lagi abis isya.
Heh? Trus kita sebagai customer piye? Lha wong ini tinggal dikit lagi dan siap untuk dibayar?

Pak suami: lho terus ini barang-barang yang mau saya beli gimana? Saya udah mau bayar kok
Pemilik toko : udah gapapa, batalin aja pak. Gak jadi juga gapapa (lagi-lagi dengan ekspresi campuran datar dan kesal)
Makin  bikin melongo yes?

Pak suami kan orangnya emang gak mau cari ribut ya. Akhirnya dia ngajak saya pulang. Alhasil kita pulang dengan tangan hampa. Mungkin yaaa, mungkiiin…si pemilik toko beneran kesel karena pak suami kelamaan milih ini itu. Atau bisa jadi doi tipe yang pengen banget nyiapin buka puasa semaksimal mungkin, bukan sekedar denger adzan nyeruput teh manis trus kerja lagi ngejagain toko. Ada 101 kemungkinan loh.

Mau ngedumel, mutung, maki-maki ya ga guna juga. Kecuali kalo kasus ini bisa dibawa dan diusut kepolisian, bwahahahahaha…apaan siiiih?

Closed_Shop

gambar dari foe.co.uk

 

Buat saya, toko yang memberlakukan customer semacam ini sudah pasti jadi blacklist.

OK, waktu pun berlalu, dan kebutuhan celana gunung kami akhirnya didapat di toko lain, tapi seadanya alias gak sebanyak pilihan di toko absurd tersebut.

Menjelang bulan Februari 2017, pak suami butuh celana lagi, kali ini nyari yang warnanya hitam. Biar sekalian bisa dipake ngantor juga katanya, hehe.
Dan ketika dia ajak saya….pada tau dia ngajak ke mana? Yaaak Anda benaaaar….ke toko absurd itu lagi! Saya langsung debat dong sama beliyauw….

Saya : “Buat apa ke situ lagi? Udah tau kita pernah dikecewakan sama mereka!”
Suami : ” Ya abis mau gimana lagi? Di situ pilihan barangnya nyatanya lebih banyak ketimbang toko lain. Barang yang aku butuh maksudnya.”
Saya : “Nanti kita dimatiin lampu lagi gimana?”
Suami : “Ya mudah-mudahan kali ini enggak. Abis gimana? Aku butuh soalnya.”

Nah, benang merahnya sama kan kayak cerita penumpang disuspend ojek online? Berhubung kitanya yang butuh, jadi ya sudah telan aja kecewanya, berdamai aja sama kondisinya, dan jangan lupa berdoa yang banyak semoga kali ini dimudahkan.

Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Lancar guys, alias belanja di situ masih dengan penjaga toko yang sama dan sepertinya si penjaga udah lupa total sama kita berdua (ya kali dia hapal, secara customer doi kan segambreng, bukan cuman kita doang). Barang yang dimauin suami dapet, dan ga ada kendala apa-apa.

Mungkin karena emang pak suami udah ngikhlasin ya, walau dia dulu juga kecewa. Makanya prosesnya jadi dimudahkan oleh Yang Kuasa. Wahahaha opo iki, belanja celana doang pake bawa-bawa Yang Maha Esa?

Sudah bisa menarik manfaat dari cerita saya ini? Mudah-mudahan ada manfaatnya ya, walopun nulisnya ngalor ngidul amatir-wati.
Selamat hari Rabu 🙂
signature

Advertisements

9 thoughts on “Toko Absurd dan Hikmahnya

  1. magmignonette says:

    Di maklumin lah Mbak, soalnya kan memang pas bulan puasa itu. Mungkin namanya buka puasa, harus di segerakan.

    Seinget gue, pernah ngalamin hal serupa, agak yang lebih ekstrem, udah di jejer padahal mangkoknya, eh.. dhelala.. bapak yang jualan mau Sholjum, karena sudah Adzan. Ya sudah, dengan perut kosong, mata nanar, cuma bisa mandangin mangkok kosong, dan da-da-da ke bapak penjual, hehehe…

    Selama masih batas wajar alasan penjualnya, jangan kapok Mbak, tetap belanja.
    Yang harus di blacklist itu toko yang membuat tagihan atau dompet mendadak berubah jadi cuma isi struck belanjaan 😛

    Liked by 1 person

  2. Audrie says:

    Hola Imelda… Salam kenal sekalian kunjungan balasan ^_^, semacam tetangga jadinya

    Uhm…sebetulnya pemilik toko itu mau nutup toko di saat jam berbuka sih silakan saja ya, cuma kenapa caranya nggak asik amat ya? Nggak susah rasanya untuk menyampaikan baik-baik sama pelanggannya bahwa toko mau tutup sementara jam berbuka, dan akan lebih baik lagi kalau pemilik toko itu nawarin apa pelanggannya mau balik lagi setelah toko dibuka.
    And yes udah pasti aku gak bakal lagi ke toko tsb hahahah.. Malesin lah kalo ownernya nggak bersikap baik

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      hai audrie terima aksih udah baca postingan ini ya 🙂 Iya, caranya yang gak ciamik ya, Drie, jadi kita sbg customer asli gak pengen balik lagi. Tapi apa daya suami butuh barang yg kebetulan dijua di situ, jadi ya sudah ikhlasin sajalah perilaku pemilis tokonya hiks hiks hiks….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s