5 Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Operasi Elektif

Harus menghadapi kenyataan dioperasi, bukanlah cita-cita semua orang. Malah semuanya langsung knock on wood sambil merapal kalimat sakti dalam hati “amit2 jabang bayi, seumur0umur jangan sampe deh gue dioperasi.”. Tapi kalo takdir berkata lain, apa mau dikata?

Operasi atau bedah, berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia artinya adalah pengobatan penyakit dengan jalan memotong (mengiris dan sebagainya) bagian tubuh yang sakit. Baca arti katanya udah ngilu ya? Huhuhu….

Sekecil apapun operasinya, hal tersebut adalah event besar. Maksudnya, operasi dan kondisi lanjutan sesudahnya, adalah keadaan yang tidak bisa dianggap enteng. Melibatkan banyak rasa khawatir, banyak doa, dan pula banyak anggota keluarga yang akan terlibat terutama saat recovery berlangsung.

Oh ya, sebelumnya perlu diketahui bahwa operasi terbagi menjadi 2, yaitu :

  1. Operasi Emergency/CITO, Adalah suatu tindakan bedah yang dilakukan dngan tujuan life saving pada seorang pasien yang berada dalam keadaan darurat. Misalnya: korban luka tembak atau lukas tusuk yang tidak bisa menunggu besok, wajib operasi saat itu juga untuk menyelamatkan nyawanya.
  2. Operasi Elektif, adalah suatu tindakan bedah yang dilakukan terjadwal dengan persiapan, dan dilakukan pada pasien dengan kondisi baik, bukan gawat darurat. Contohnya ya seperti operasi FAM yang kemarin saya lakukan.

Nah, based on pengalaman operasi kemarin, saya pengen sharing, hal-hal apa saja yang penting saat menghadapi kenyataan harus melakukan bedah/operasi, fokus pada operasi elektif ya.

1. Yang paling wahid sudah tentu persiapan mental. Hampir semua orang sudah pasti tegang dan takut jika harus dioperasi. Membayangkan bagian tubuhnya disayat dan dibuka, duh ampun….ga usah diterusin deh ni kalimat…udah pada bisa mbayangin kan? Nah gimana cara nyiapin mental ini? Bisa dengan rekreasi, piknik, atau jalan-jalan dengan keluarga atau kerabat. Buat bikin mood happy tentunya. Atau dengan olahraga. Tapi kalau hal tersebut tidak memungkinkan, bisa juga dengan cara sekedar ngobrol dengan teman-teman dekat. Undang mereka bertamu ke rumah kita. Berbagi cerita, terutama yang senang-senang juga bisa mbangkitin mood positive.

pexels-photo-236066

gambar dari pexels.com

2. Sebelum melakukan operasi, cari tahu sebanyak mungkin tentang penyakit dan tindakan operasi yang akan kita alami. Di zaman serba internet ini, kita bisa dengan mudahnya mencari aneka informasi via handphone, namun tentunya yang diakses adalah website yang verified dan valid ya. Termasuk juga berbagai media online yang membahas tentang kesehatan dan penyakit manusia, dan testimoni penderita yang sama via blog atau berbagai forum. Kemarin sebelum melakukan oeprasi FAM, saya banyak baca pengalaman para penderita FAM yang sudah melakukan operasi via blog, termasuk mencari tahu apa saja dampak yang mungkin timbul after operasi, apa yang sebaiknya dilakukan pasien sebelum operasi, dan lain sebagainya. Dengan membaca informasi terkait penyakit yang diderita, setidaknya kita bisa semakin siap menghadapi berbagai kemungkinan yang akan terjadi.

3. Ketika konsultasi dengan dokter, ceritakan semua riwayat kesehatan kita sedetail mungkin, jangan sampai disembunyikan apalagi berbohong. Operasi adalah tindakan yang benar-benar harus hati-hati karena berkaitan dengan nyawa orang. Jangan sampai misalnya kita punya asma, atau lagi pilek tapi kita gak ngomong ke dokter. Sangat berbahaya. Pilek bisa menyebabkan dahak mbalik masuk ke paru-paru saat kita dibius total. Untuk yang asma juga, perlu ada penanganan lebih khusus lagi dibanding pasien tanpa riwayat penyakit tersebut. Dokter saya semasa kecil yang menemukan saya alergi Penicilin dan Bactrim, selalu berpesan pada saya: jika suatu saat kamu harus operasi, jangan lupa sampaikan soal alergi ini ke dokter bedah. Jangan sampai kayak  pasien saya yang ain, dia lupa untuk infoin, dan akhirnya after operasi dia harus masuk ICU, koma, karena ada komplikasi dengan salah satu obat yang dimasukkan saat operasi. Saya enggak ngerti detilnya gimana soal si pasien itu, tapi peringatan dokter udah semacam warning siaga 1 banget buat saya.
Ada satu pengalaman dari teman saya, ketika yang bersangkutan hamil dan end up dengan rencana operasi caesar. Karena teman saya berjilbab, selama bolak balik konsultasi dengan dokter kandungan, tidak pernah sekalipun kelenjar tiroidnya yang membesar di leher terlihat. Dan teman saya inipun mungkin abai sehingga riwayat memiliki pembesaran kelenjar tiroid ini tidak dia infokan ke dokter. Pas hari H operasi caesar di mana jilbab pun harus dibuka, perawat memarahi teman saya karena ternyata punya tiroid dan tidak diperiksakan. Saat itu juga operasi ditunda sebentar, teman saya wajib ambil darah dan langsung dites di laboratorium. Setelah hasilnya keluar dan dinyatakan aman oleh, dokter, barulah operasi dilakukan.
Intinya, sekecil apapun hal yang pernah kita derita dan terkait dengan kesehatan, wajib diceritakan ke dokter ya.

4. Persiapkan segala kertas dan data dan informasikan secara detil kepada keluarga terdekat perihal administrasi yang akan kita urus di RS. Keluarga terdekat bisa suami/istri, orangtua, adik atau kakak. Jika kita menggunakan asuransi dari kantor kita, jelaskan bagaimana prosedur pengurusan dan form apa saja yang mungkin butuh diisi, difotokopi dan disiapkan kepada keluarga dekat. Pun jika menggunakan BPJS ataupun cara pembiayaan yang lain. Satukan semua berkas/form/fotokopian dalam satu map khusus. Ketika kita sudah mau masuk ruang operasi sampai nanti pasca operasi, sudah tentu semua tetek bengek administrasi otomatis menjadi urusan keluarga dekat. Dengan penjelasan sejak awal, akan meminimalisir kebingungan keluarga dan membuat prosedur administrasi lebih efektif.

5. Sampaikan ke keluarga terdekat bahwa sebelum dan sesudah operasi kita sangat membutuhkan dukungan. Ceritakan sejak awal ya tentang ini. Keluarga dekat ini bisa pasangan (suami/istri), orangtua, kakak, atau adik. Sebelum operasi tentunya kita butuh dukungan mereka untuk menguatkan mental dan secara fisik membantu mempersiapkan segala kebutuhan jelang menginap di RS. Setelah pasien selesai operasi, sudah pasti anjuran utama dari dokter adalah membatasi gerak, agar jahitan tidak gampang sobek/terbuka. Nah otomatis, dengen keterbatasan gerak kita, banyak hal yang akhirnya menjadi beban bagi keluarga yang merawat. Mungkin terlihat manja jika makan harus disuapi, memakai baju harus dibantu, mandi pun apalagi (agar perban yang menutup luka tidak basah dan mengakibatkan infeksi), namun memang itu kenyataannya. Support ke pasien baik ketika rawat inap di RS maupun menjalani masa recovery di rumah, juga ditunjukkan lewat sikap dan mimik muka yang helpfull. Ini penting loh. Sebagai contoh, ada teman sekolah saya baru menjalani operasi besar yaitu operasi pengangkatan rahim dan miom sekaligus. Sampai di rumah, dia tidak boleh mengerjakan apa-apa oleh sang suami, agar recovery bisa cepat. Jadi, segala kebutuhan diurus suami. Namun teman saya sedih karena sembari merawatnya, sang suami menunjukkan raut muka yang bete. Bisa jadi (dan sangat manusiawi), yang bersangkutan lelah karena semua urusan tiba-tiba dibebankan ke dia. Nah hal seperti ini diharapkan tidak terjadi. Karena aura bad mood dari keluarga pasien otomatis akan berpengaruh ke suasana hati pasien itu sendiri. Bisa jadi pasien akan merasa down, merasa bahwa dia memang hanya menjadi beban keluarga saja, semangat untuk sembuhnya juga menghilang dan lain-lain. FYI: faktor kesembuhan pasien pasca-operasi tidak hanya ditentukan via asupan makanan bergizi dan obat saja, namun juga dari mood dan semangat yang selalu terjaga dengan baik.
Jadi, kalau kita berada di posisi keluarga yang merawat, secapek dan sebosan apapun, usahakah selalu tersenyum dan jangan menunjukkan rasa tersebut di depan pasien ya. Walau susah, walau lelah, teruslah berusaha. Saya nulis ini bukan berarti cuma pernah ada di posisi “jadi pasien”. Ibu saya dua kali operasi pasang dan angkat pen di kaki akibat kecelakaan lalu lintas. Jadi udah pernah ada di posisi “keluarga pasien” juga dong ya hehe…..

Nah itulah lima hal yang menurut saya penting disiapkan sebelum menjalani operasi elektif. Mudah-mudahan ada manfaatnya buat yang baca. Atau ada yang mau tambahin? Monggo…monggo….
signature

Advertisements

4 thoughts on “5 Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Operasi Elektif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s