Dilema Makanan after Operasi

Selesai menjalani operasi FAM, saya otomatis jadi fokus ke pemikiran: harus cepat menyembuhkan luka operasi dengan aneka cara. Bukan dengan lotion penghilang bekas luka maksudnya. Tapi “menyembuhkan” di sini lebih kepada gimana cara biar sel-sel, kulit dan sebagainya yang sudah hilang akibat sayatan, bisa kembali normal lagi.

Membaca banyak referensi di internet, makanan-makanan yang sangat baik untuk regenerasi sel setelah mengalami pembedahan adalah yang mengandung protein tinggi, dan juga vitamin C. Memang sih di RS, menginap semalam saja saya sudah disuntik via infusan 3 kali vitamin C yang kata suster mempercepat proses pemulihan luka operasi.

OK makanan berprotein tinggi. Saya baca satu per satu referensi yang semuanya bernada sama: makanan seperti telur, ikan, tahu tempe, daging, sangat baik untuk menyembuhkan luka operasi. Oh ya ikan gabus juga katanya bagus loh katanya, karena kadar albuminnya tinggi.
Lalu, apa kabar sama kolesterol tinggi saya? Itu yang disebut di atas, dua di antaranya yaitu daging dan telur adalah musuh utama kolesterol tinggi. Celakanya saya baca lagi kalo telur ini juga sama bagusnya seperti ikan gabus dalam pemulihan luka operasi. Berarti kudu banyakin makan telur dong ya?

Huhuhuhuh…..apa yang harus eikeh lakukan? Siang hari di rumah sakit saat saya masih menginap, menu makanannya adalah bubur, rendang daging sapi tidak pedas, sayur tumis tahu. Rendang daging euy. Bener kan…emang sengaja dikasih daging tuh ama RS biar cepet sembuh.

Saya dilema. Di satu sisi pengen kolesterol turun, sisi lain ya pengen luka ini cepat pulih juga. Sudahnya saya lagi stop makan oats karena tangan ini lagi ga bisa kerja yang agak berat atau sibuk dikit, mesti ngilu deh itu jaitan. Sementara saya demennya oats yang dimasak, bukan yang instant tinggal seduh air panas. Mau minta tolong masakin orang rumah juga pesimis duluan, karena nanti pada ga tau takaran airnya, gak pas matengnya, ah kebanyakan alesan lah saya mah.

stock-photo-do-versus-don-t-written-on-the-white-arrows-dilemmas-concept-601031831

Enter a caption

Akhirnya dengan mengucap Bismillah, saya tetap menyantap aneka lauk berprotein tinggi, dengan karbohidrat nasi. Di rumah hampir tiap hari makan ikan kembung, telor, tempe dan tahu. Tak lupa makan sayuran dan jus buah. Saya selalu fokus doa: ” semoga apa yang kumakan ini bukan menjadi kolesterol tapi menjadi sel-sel baru meregenerasi di bagian luka operasi ya Allah.”

Seminggu lebih tiga hari, tibalah waktunya kontrol sekaligus buka jaitan. Jangan tanya benang jaitannya kayak apa karena saya penakut banget. Pun suami saya. Waktu dokter dan perawat suruh kami berdua ngeliat jaitan sebelum  dibuka, masih ada benang-benangnya gitu, boro-boro kami mau liat. “Enggak deh dok, silakan dibuka aja.” Dokter ketawa-ketawa. Asli deh waktu kontrol kemarin itu, saya gak berani blas ngeliat wujud jaitan saya pas di kamar periksa. Baru berani setelah sampe rumah.
Yang menggembirakan, dokter berkata: “wah bagus ni bu jaitannya sudah kering loh. Saya buka ya benangnya.”

Jaitan kering = ga ada komplikasi misalnya robek, berdarah, nanah, dll.

Sembuh. Walau tetap 3 minggu ke depan gak boleh angkat yang berat-berat dulu.
Sembuh? Ya Allah…berarti apa yang saya makan selama ini beneran lari ke jaitan semua ya? Tuh buktinya jaitannya cepet kering.  Insya Allah gak jadi kolesterol ya….huhuhuhu…senangnya hatikuuuu.

Saya bukan dokter dan nulis ini juga ga pake teori atau riset kedokteran. Cuma berharap dan yakin emang selama ini telor dan daging yang saya makan beneran “jadi makanan” buat bentuk sel baru di area luka operasi. Duh mudah-mudahan banget beneran yaaa…

Bagaimana dengan sekarang? Ikan tahu tempe yang dibanyakin. Telor dan dagingnya absen lagi dimakan. Yang penting jaitan udah kering, udah ga ada potensi robek dll itu udah bersyukur banget.

Begitulah cerita dilema hari ini. Maafin nyampah ya teman-teman 🙂
signature

Advertisements

4 thoughts on “Dilema Makanan after Operasi

  1. Lativa says:

    Syukurlah mba jahitannya bagus, gk ada infeksi apapun. Dulu aku pas abs operasi usus buntu jg sebulan pertama makan bener2 di jaga bgt. Protein mostly dari rebusan telur (sehari dirbusin 2-3 bh telur ama mamake.. ampe blenger), tahu, tempe, ayam, daging merah gk begitu doyan, pun ikan.. saya agak picky. Selebihnya banyakin sayur, buah.. alhamdulillah cepet sehat.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Lativa makasih sudah mampir dan baca ya. Duh kebayang enegnya itu dijejelin telur melulu ya tiap hari. Seandainya aku gak punya kolesterol tinggi mungkin pola makanku juga kayak kamu hehe. Sehat2 terus ya Lativa 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s