RSIA Bunda Aliyah, Hospital yang Mengedepankan Hospitality

Pertama kali tau tentang RSIA Bunda Aliyah Pondok Bambu, adalah ketika Alun pertama kali kena kejang demam, tahun 2011. Kami baru pertama kali tinggal di daerah Duren Sawit, dan otomatis mencari RS yang lokasinya dekat dengan rumah. Alun dibawa ke UGD langsung setelah kejang pertamanya selesai.

Rumah sakit ibu dan anak ini bahkan tidak memiliki papan nama besar. Lokasinya di pinggir Jln.Pahlawan Revolusi, dengan neon box ukuran standar sebagai penandanya. Kalau yang tidak tau patokan-patokannya, dijamin pasti kelewatan saban memasuki gerbangnya. RSIA ini masuk dalam kategori RS tipe B. Untuk yang mau tau lebih jauh apa itu RS tipe B silakan lihat di sini ya.
Direktur RSIA ini tak lain dan tak bukan adalah ibu dr. Diana Abbas Thalib, MARS, istri dari Bapak Hidayat Nur Wahid, Wakil Ketua MPR RI 2014-2019.

Dan setelah Alun akhirnya harus dirawat seminggu di situ, RSIA Bunda Aliyah menjadi pilihan utama kami untuk hospital yang menurut kami mengedepankan hospitality. Apa saja alasannya? Berikut versi saya:

Word Hospitality

Gambar dari mediafocus.com

 

  1. Semua petugas di sini ramah dan helpfull. Mulai dari perawat, pendaftaran, sampai dokter. Enam tahun lalu, alhamdulilah kami mendapati perawat dan dokter jaga di UGD sangat ramah dan kooperatif. Ketika Alun disarankan rawat inap, waktu itu yang kepikiran anak segera ditangani. Jadi pas petugas tanya, mau memakai jasa dokter anak siapa, kami spontan bilang dokter siapa aja yang penting yang bisa visit segera. Maklum, saat itu adalah hari pertama tahun 2011 alias 1 Januari 2011. Tak banyak dokter spesialis praktik di hari libur nasional seperti itu. Dokter spesialis anak yang menghandle Alun tak kalah kooperatif dan ramahnya. Beliau (Ibu Dokter Anies Nuriningtyas) bukan tipe yang dikit-dikit langsung antibiotik, plus sabar menjelaskan kepada kami yang masih shock ngeliat anak kejang.
    Selama kurang lebih 1 minggu Alun dirawat di sini dan akhirnya ketauan kena demam dengue, semua perawat selalu penuh dengan keramahan. Bukan hanya perawat jaga, tetapi juga di bagian administrasinya. Bahkan di hari-hari terakhir ada perawat yang akhirnya ngajak kami ngobrol, tanya-tanya di mana kami tinggal, dan rupanya diapun tinggal dekat komplek kami. Obrolan pun mengalir ringan sembari ia memeriksa tekanan darah Alun dan suhu badan.
    Selesai Alun dirawat, gantian saya yang tepar kena typhus, dan terpaksa dirawat di situ juga. Sama seperti ketika Alun, saya mendapati pelayanan yang ramah, dan tidak berbelit-belit. Selama dirawat belum pernah ketemu muka suster, dokter dan bagian administrasi yang bete dan tanpa senyum.
    Dan terakhir ketika saya harus menjalani operasi pengambilan tumor jinak, ketika saya mendaftar via telepon, dan bilang bahwa saya segera otw ke RS selesai daftar, petugas yang berbicara di ujung telepon sana langsung bilang: ” baik bu, hati-hati di jalan ya.” Sempet-sempetnya ngomong begitu, padahal saya tau suasana hiruk pikuk di RSIA ini setiap saat, dan si petugas bukan hanya melayani telepon saya, melainkan beberapa telepon rang ring rang ring yang masuk bersamaan (kedengeran banget sama saya ini mah). Dan dia masih sempat mengingatkan saya soal hati-hati di jalan. Huhuhuh…adem hatiku rek dengernya :). Eits bukan hanya itu. Pernah juga, petugas cleaning service yang lagi bertugas, senyum dan membungkuk hormat pada kami saat kami bilang permisi mau lewat, dan dia lagi asik-asik nyapu tangga naik menuju lobby (kami dari parkiran underground waktu itu).
  2. Inisiatif untuk memperhatikan kenyamanan pasien. Kenyamanan buat pasien itu bukan hanya dari sisi kamar rawat inap yang proper, kebersihan ruang tunggu, maupun skedul dokter yang datang tepat waktu.
    Setelah saya pulang dari rawat inap operasi FAM, saya sebetulnya sudah mendapatkan kertas yang berisi info kapan harus kontrol, plus brief yang jelas dari perawat. Ketika ada perubahan terhadap jadwal yang sudah tertulis, justru pihak RSIA yang inisiatif menelepon saya memberitahukan perubahan jadwal. Begitu pula ketika saya mau kontrol namun dokter bedah yang bersangkutan berhalangan hadir, lagi-lagi pihak RSIA yang menelepon saya. Ketika hasil laboratorium saya sudah keluar, mereka pun tak lupa kontak saya menginfokan hasilnya sudah bisa diambil. Gak perlu capek-capek pasien yang memfollow up. Buat saya ini menyenangkan banget. Berasa diperhatiin penuh deh hehe….
  3. Fasilitasnya semakin hari semakin ditingkatkan. Memang yang mendominasi sudah pasti poli kandungan, poli anak, NICU (neonatal intensive care unit) dan PICU (Pediatric Intensive Care Unit). Namun Bunda Aliyah semakin hari semakin berkembang. Yang dulu awal Alun dirawat di sini belum ada poli kecantikan kulit, klinik khusus nyeri, poli ortopedi, dan klinik tumbuh kembang, sekarang pasien dengan mudahnya bisa mendapat pelayanan itu semua dalam satu atap yang sama. Saya bahkan sudah pernah mencoba ke dokter kulit kecantikan waktu kena eksim di kaki kiri. Lagi-lagi dokternya super ramah.
    Nah yang terbaru lagi nih, di hari minggu RSIA Bunda Aliyah membuka poli anak dan poli kandungan juga. Memang jumlah dokternya terbatas, tidak banyak yang praktik seperti hari kerja, tetapi buat yang urgent membutuhkan kedua layanan ini, bisa bernafas lega ya. Rata-rata dokter spesialis jarang loh ada yang buka praktik hari Minggu  🙂
  4. Layout ruangan yang sederhana membuat pasien tidak berbelit-belit untuk mengurus ini itu. Ruangan utama di lantai 1 yang juga merupakan lobby utama, cenderung loss/terbuka tanpa banyak belokan samasekali, dan di lantai ini terdiri dari  deretan poliklinik plus meja pendaftaran, bagian kasir dan farmasi. Mau menuju ke laboratorium dan radiologi pun tak susah, gak harus belok kanan kiri berkali-kali. Jadi gak bikin bingung untuk berpindah dari satu layanan ke layanan lainnya. Duh saya gak punya foto-fotonya sih ya, jadi susah juga buat menggambarkannya. Hehe….
  5. Maintenance yang berkesinambungan. Maksudnya, bangunannya tetap berusaha dirawat, jadi gak keliatan usang. Peremajaan sering dilakukan di sini. Kayaknya tiap saya datang berobat, ada aja yang baru, even cuma sekat untuk memisahkan WC dan area lobby misalnya. Gak hanya itu, saya juga menyaksikan sendiri betapa sigapnya pihak RS menangani kerusakan. Jadi ceritanya begini: saya lagi nunggu giliran dioperasi di kamar pemulihan (kamar ini berfungsi ganda, untuk antrian yang mau dioperasi sekaligus menjadi ruang observasi bagi pasien yang sudah selesai operasi). Nah mungkin akibat buka tutup pintu yang sering oleh para perawat, dan kayaknya juga emang engsel pintunya udah waktunya diganti, tiba-tiba si engsel pintu beneran copot. Pintu pun rusak kondisinya. Sembari menunggu giliran operasi saya melihat bahwa sekitar 5 menit kemudian datanglah petugas maintenance membawa peralatan dan langsung memperbaiki engsel. Gak pake lama-lama 🙂

Itulah 5 alasan yang membuat saya happy berobat ke RSIA Bunda Aliyah-Pondok Bambu. Tapi semua balik lagi ke kondisi masing-masing orang. Ada juga kok orang yang merasa bahwa pelayanan di sini jelek (pernah baca di forum ibu-ibu gitu), gak bersahabat, dokter-dokternya gak oke dan lain sebagainya. Sekali lagi postingan ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi saja ya :).
Dan RSIA ini juga ternyata sudah membuka cabang di kota Depok-Jawa Barat, tepatnya di Jalan Kartini, Pancoran Mas.

Buat yang butuh info lebih lanjut, bisa main-main ke websitenya di sini ya 🙂
signature

 

Advertisements

2 thoughts on “RSIA Bunda Aliyah, Hospital yang Mengedepankan Hospitality

  1. jessmite says:

    Menyenangkan ya kalau pegawai rumah sakit ramah semua seperti di hotel karena biasanya kan rumah sakit tempat yang murung. Ini rumah sakit seasta ya? Mbak pakai asuransi kesehatan atau bayar pribadi?

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s