Tim Tio vs Tim Sepupu Saya (Galau Detected)

Saya lagi galau. Ga tau sih ini namanya galau atau apa. Beberapa waktu lalu saya pernah cerita soal Tio, teman sekolah saya.

Baca : Pada Akhirnya Harus Memilih

Saat ini, Tio masih sama seperti yang kemarin-kemarin: gali lubang tutup lubang untuk menutupi kebutuhan sehari-harinya. Minggu lalu saya chatting di WA dengannya.

Anaknya yang besar akan mulai Ujian Akhir Semester tanggal 29 Mei ini. Dan salah satu syaratnya adalah harus melunasi SPP, karena rupanya sang anak masih nunggak. Belum cukup sampai di situ, anaknya yang kecil rupanya sudah menunggak SPP sejak bulan Februari 2017. Sudahlah uang untuk kehidupan sehari-hari tidak mencukupi untuk sekedar makan, nah ini ditambah pula tunggakan SPP. Jumlahnya pun tidak kecil, karena kedua anak Tio bersekolah di sekolah swasta. Yang sulung saya tau dari Tio, menunggak 3.3 juta sampai Juni nanti. Demi mengikuti UAS, sang anak memberanikan diri ngomong ke kepala sekolahnya nan galak, untuk bisa diberi keringanan lagi dan bisa ikut UAS. Kepala sekolah pun mengultimatum, di Juni nanti semua tunggakan harus lunas.

Ada dua hal yang saya pengen obrolin di sini:

1. Saya galau, pengen bantuin tapi kemampuan terbatas. Gak bantuin entah kenapa kepikiran. Bukannya menyombongkan diri, alhamdulillah soal SPP anak selalu saya dan pak suami nomorsatukan setiap bulan. Kebetulan anak saya sekolah di swasta juga. Setiap bulan kami selalu prioritaskan SPP anak, pokoknya jangan sampai menunggak. Aiiih saya orang kaya? Waduh kalo orang kaya mah, pas anak daftar sekolah dan bayar uang pangkal enggak pake nyicil cyiin (FYI kedua anak saya sekolah di yayasan yang sama, dan uang pendaftaran mereka semuanya kami cicil sedikit demi sedikit, bulan demi bulan). Kalo saya kaya mah tiap hari minta anter pake Lamborghini ke kantor, kagak naik ojek online trus masih ngulik-ngulik promo ojek yang termurah *yang terakhir kayaknya pelit detected deh.
Kalau mau bantuin pun, duh gede banget kan uang yang mesti dikeluarkan. SPP anak Tio yang sulung aja segitu, belum ditambah punya adiknya sejak Februari.
Ah asli saya galau euy…….

2. Passion untuk mensejahterakan anak. Sering ya denger kalo banyak ortu di dunia ini memperlakukan anak-anaknya agar mencapai kesejahteraan yang hakiki. Perumpamaannya: “biarin deh bapak ibu kelaparan yang penting kamu sekolah yang tinggi ya nak”. Atau: “biarin harta ibu habis dijual, yang penting kamu bisa sekolah tinggi sesuai cita-citamu, jangan sampai seperti ibumu ini yang hanya lulusan SMP”
Kasih ortu sepanjang zaman. Hampir semua ortu di dunia ini ingin anak mereka bernasib jauuuuh……………… lebih baik ketimbang mereka dulu. Lumrah di mana-mana seperti ini.
Nah, back to keadaan keluarga Tio. Teman saya pun seperti itu. Awalnya malah si anak sulungnya punya cita-cita ingin kuliah di kedokteran karena memang bercita-cita jadi dokter. Apa yang Tio lakukan? Dia bilang: “kalau kamu ingin sekolah di kedokteran, mama dukung. Untuk urusan uang jangan kamu pikirkan. Apapun sekolah yang kamu inginkan mama akan usahakan kamu bisa masuk ke sekolah itu.”
Padahal sembari ngomong begitu, hati kecil Tio menjerit.  Fakultas kedokteran konon merupakan salah satu sekolah dengan biaya termahal yang harus dikeluarkan tiap bulannya. Mau dapat uang darimana?
Jadi Tio ini seperti tidak mau terlihat susah di mata anak-anaknya. Sebagai orangtua ia ingin selalu mendukung anak-anaknya even ga punya cukup modal untuk itu. Kenapa? Ya karena dia tidak ingin anaknya putus harapan, putus cita-cita. Ia hanya ingin anak-anaknya bahagia dan sukses, sama seperti passion orangtua pada umumnya.
Akhirnya memang anak yang sulung masuk SMK, karena entah bagaimana si anak nampaknya bisa membaca hati kecil Tio. Lalu sang anak banting stir ambil SMK dengan harapan keluar dari situ bisa mendirikan bisnis kue atau resto kecil-kecilan berbekal skill yang dimilikinya. Dan SMK nya juga SMK swasta, karena menurut review sejumlah orang, SMK tempat anak Tio sekolah itu jurusan Tata Boganya paling bagus. Anak kedua Tio pun bersekolah di SD swasta. Nah yang ini alasannya saya kurang tau, apakah karena SD swasta itu yang terdekat aksesnya dari rumah atau bagaimana.

Saya lalu membandingkan apa yang Tio lakukan dengan sepupu saya. Kebetulan sepupu saya ini sudah bercerai dari suami dan punya 1 orang anak. Kondisi ekonominya juga bukan orang kaya. Hidup sehari-hari ditopang dari berjualan online alat-alat rumah tangga dan baju-baju. Kebetulan mantan suaminya pun bekerja serabutan sehingga sepupu saya pun gak terlalu mengandalkan mantannya untuk biaya anaknya sehari-hari. Lalu apa yang sepupu saya lakukan? Passionnya untuk memasukkan anak ke SD yang bagus dia redam. Endingnya sang anak bersekolah di SD Negeri terdekat dari rumah, yang menurut review banyak orang sebetulnya SD itu juga bukan favorit. Anaknya pun sudah ia ajak bicara, bahwa kondisi perekonomian mereka gak memungkinkan jika harus sekolah di sekolah yang bagus apalagi swasta. Bukan tidak mungkin nanti pun sang anak mungkin tidak akan mengecap bangku kuliah karena mau tak mau harus ambil SMK saja agar setelah lulus bisa langsung bekerja.

Saya pikir, apa yang sepupu saya lakukan ada benarnya juga. Kalau memang secara logika kita tidak punya kemampuan yang cukup, buat apa dipaksakan? Besar pasak daripada tiang. Tapi di satu sisi saya juga berpikir, apa yang dilakukan Tio tidak ada salahnya, karena ia begitu mencintai anak-anaknya dan ingin melihat anaknya sukses dan bahagia.

Ah galau lagi deh tuh….kalau saya ada di posisi mereka, apakah saya akan jadi Tim Tio atau Tim Sepupu Saya?

kesepian

gambar dari google.com

Kalau kamu bagaimana? Siapa tau pada mau kasih pendapat, untuk mengurangi kegalauan yang punya blog. Terima kasih sudah membaca postingan ini 🙂
Tetap semangat puasa yaaaa….
signature

Advertisements

6 thoughts on “Tim Tio vs Tim Sepupu Saya (Galau Detected)

  1. shiq4 says:

    Kalau saya bakalan tetap menyekolahkan anak sampai lulus kuliah mbak. Nurut saya murah kok biayanya asalkan sejak awal sudah menabung khusus pendidikan anak. Gak perlu banyak2, mulai dari 20 ribu per hari saja. Kalau sedang punya banyak rejeki, bisa nabung lebih banyak lagi. Nanti sambil kuliah si anak juga harus nyari kerja sampingan biar gak manja dan mengandalkan orang tua. Sekalian nyari pengalaman. Klau sudah S1 kan nanti nyari kerjaan lebih mudaj dan gajinya lebih baik dibanding yg lulusan SMK.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      iya shiqa, betul juga sarannya. Tapi apa mau dikata, tidak semua orang bisa beruntung punya pendapatan yg bisa disisihkan untuk menabung, ada juga yang untuk makan hari ini aja sudah super ngepas, ga ada sisa lagi untuk isi tabungan. Mudah2an kita termasuk orang-orang yang dimudahkan rezekinya ya, supaya bisa tetap menjalani hidup dengan semangat, amiin. Terima kasih sudah mampir di sini Shiqa 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s