Bagaimana Jika ART Harus Dirawat di RS?

Saya adalah ibu bekerja yang selalu menggunakan jasa Asisten Rumah Tangga menginap. Belum pernah seumur-umur punya ART yang pulang pergi. Alasan utamanya karena saya dan suami kerja di perusahaan creative design yang jam pulangnya terkadang gak bisa ditebak. Kalo udah lembur ya dadah babay sama pulang tenggo, hiks hiks 😦

Otomatis butuh orang yang bisa jagain anak-anak tanpa batasan waktu.
Selama berkali-kali ganti ART, alhamdulilah hampir semua dalam kondisi sehat. Kalaupun mereka jatuh sakit, sakitnya yang standar aja kayak batuk pilek. Terkadang kalau kondisinya udah parah, misalnya mereka lagi demam dan pusing banget ga bisa handle anak, saya ngalah, mbolos kantor sampai mereka cukup kuat kerja lagi.
Dari semua ART, pernah ada dua pengalaman yang cukup berat:

1. ART itu sakit thypus. Tadinya mau dibiarin dirawat di rumah saya dan dibawa ke dokter. Tapi yang bersangkutan memilih pulang ke kampung. Akhirnya kami relakan ia pulang, sampai kurang lebih 2 tahun setelah itu kami mendapat kabar ia meninggal dunia. Bagaimana saya bisa mendapat kabar? Karena ART sesudah almarhumah adalah tetangga dan kerabatnya. Sehingga masih kontak-kontakan dengan saudara-saudara almarhumah. Rupanya selain thypus, almarhumah itu memang sudah punya penyakit, kalau tidak salah jantung atau apa gitu. Sampai akhir hayatnya menurut cerita ia hanya dapat terbaring lemah bagai orang lumpuh di tempat tidur. Kakak almarhumah pun pernah bekerja 2 bulan di tempat saya. Ah sedih lagi nih kalo ingat cerita ini 😦

2. ART yang ternyata punya riwayat sakit batu ginjal. Ia merupakan saudara dari mbak Melati, salah satu ART andalan kami. Untuk tau cerita mbak Melati silakan lihat link di bawah ini ya 🙂

Baca juga : Cerita Mau Dikirimin Cabe dari Kampung.

Datang dan bekerja awalnya baik-baik, sampai suatu hari dia tidak keluar-keluar kamar. Saya dan pak suami nyamperin dia ke kamar. Dia hanya memegangi perutnya. Ditanya sakit apa, dia bilang cuma minta dibelikan obat dengan nama tertentu dan dijual bebas di apotik. Pas saya browsing, lho ini kan obat untuk batu ginjal? Setelah dibelikan dan makan obat itu, gak kunjung membaik. Sampai puncaknya suatu malam, dia sudah gak bisa ngomong lagi, mukanya nampak kesakitan. Sampai kami bingung, karena udah susah ngomong saking nahan sakitnya. Akhirnya saya mutusin untuk bawa ke UGD RS langganan. Waktu dibawa ke RS, naik ke mobil kami dia bisa, pas turun di UGD blas udah gak kuat, dan untung malam itu ada perawat laki-lakinya. Jadi mbak ART dinaikkan ke tempat tidur dorong itu pake digendong sama mas perawat tersebut. Di UGD langsung dikasih pain killer dari dubur yang kerjanya jauh lebih cepat. Sembari menunggu reaksi obat bekerja, saya bisik-bisikan bingung sama suami.

friendship_d

gambar dari racorn shutterstock

Bagaimana jika harus dirawat? Bagaimana etika yang pantas? Kami sebagai orang yang mempekerjakan mbak ART yang harus menanggung seluruh biaya RS? Atau bagaimana?

FYI: kebanyakan mbak ART dari kampung tidak punya asuransi kesehatan. Dan waktu kejadian ini, BPJS belum happening di Indonesia.

Jujur kami berdua bingung karena memang belum punya pengalaman soal ini. Sempat suami berpikir, apakah 50:50? Limapuluh persen kami yg tanggung, sisanya oleh keluarganya di kampung.
Memang sejak awal mbak ART masuk kerja di tempat kami, gak ada obrolan soal perjanjian jika suatu saat harus dirawat di RS dan lain-lain.

Kemudian saya teringat ada satu cerita dari teman kuliah yang juga mempekerjakan ART untuk mengasuh anaknya. Suatu hari si mbak ART kena DBD, dan seluruh biaya perawatan di RS ditanggung oleh teman saya. Lumayan banyak sekitar 5 atau 7 jutaan karena semingguan dirawatnya. Setelah sembuh, ART kembali bekerja namun tidak berapa lama resign. Dan teman saya bilang, dia sangat kecewa. Karena kecewa, akhirnya dia agak ngungkit-ngungkit soal biaya besar yang udah dia relakan untuk biaya perawatan tapi endingnya malah ditinggal pulang ke kampung.

Adakah yang punya pengalaman dengan ART masuk rumah sakit seperti cerita di atas?
Apakah lebih baik sejak awal dibicarakan perihal biaya sakit dan siapa yang menanggung?
Ataukah ketika ART harus masuk RS kita memang harus membiayainya, karena ketika ia mulai menginjakkan kaki di rumah kita maka saat itu juga ia adalah bagian dari kewajiban kita, sama halnya seperti kewajiban kita pada orangtua atau anak?

Kalau ada yang punya pengalaman please share ya di kolom komen. Oh ya, alhamdulilah obat bekerja dengan baik. Mbak ART kami yang ada riwayat batu ginjal itu sembuh dan bisa pulang malam itu juga ke rumah kami. Dan seterusnya dia gak ada kambuh-kambuh lagi. Terakhir ya memang pas Lebaran gak balik lagi kerja di kami.

Komen dan sharing teman-teman amat saya tunggu, karena walaupun hingga detik ini belum punya ART yang sakit berat lagi, tapi tentunya membaca experience orang lain, saya dan suami akan bisa lebih prepare lagi ke depannya.

Terima kasih sudah membaca postingan ini 🙂
signature

 

Advertisements

10 thoughts on “Bagaimana Jika ART Harus Dirawat di RS?

  1. Lativa says:

    Semoga cepet sembuh ya mbaknyaaa. Kalo pengalaman dulu pengasuh ponakanku smpet masuk rs, kayanya smw yg nanggung kakaku. 1. Krn emg dia dari kampung, ga ada sanak saudara di kota 2. Kami sepakat ya menganggap si teteh itu jg bagin keluarga km, jadi pengobatan kami tanggung sampai selesai.. tp dg catatan kita jg hubungi keluarganya di kampung. Smg bs membantu ya mbaak. Tp mngkin kalau sakitnya berat (imo, kalo ginjal dah parah..itu hrs berobat kontinue kaya bapak saya). Mngkin si mbaknya bs diperiksakan lengkap dlu gmn kondisinya, jikalau keadaannya ga memungkinkan untk lanjut kerja ya mgkin better dibicarakan bersama ke depannya gmn. Just in case tkt nanti ke depan kambuh2 lagi. Itu sharing crita di keluargaku. 🙂

    Like

    • imeldasutarno says:

      lativa makasih sudah mampir dan baca ya. Alhamdulilahnya ini kejadian sudah sekitar 4 tahun lalu, cuma skr aku buatin postingan buat jaga-jaga kalo nextnya aku dapat ART dan mesti dirawat aja hehe. Jadi sejujurnya aku udah gak tau lagi apa yg terjadi sama ginjal mbak ART itu karena dia udah resign sejak 4 thn lalu.
      Btw yang ART jaga ponakanmu setelah sembuh total, meresignkan diri gak dari rumah ponakan? 🙂 Kutunggu cerita lanjutannya ya Lativa.

      Like

    • imeldasutarno says:

      mbak hairi terima kasih sudah mampir dan baca ya. Amiiin, iya mudah2an banyak yg komen dan memberikan pengalamannya, untuk bekalku ngadepin ART nextnya. Btw kapan traktir aku soto banjar? hehehe…. Barabai tuh jauh kah dari Murung Pudak (Tanjung)? Tanteku ada di Murung Pudak soalnya *lhah komennya ke mana mana?

      Like

  2. Dwirani Hadiprawoto says:

    Mbak, kalau saya nggak pernah ada pengalaman ART dirawat di RS. Pernah sakit agak lama, tp bed rest di rumah dan semua biaya dokter kita berikan.

    Tapi, ada pengalaman teman sekantor saya baru-baru ini. Sakitnya agak berat dan harus dioperasi. Well, ujung2nya nggak pakai operasi tapi lumayan sempat kena sekian juta karena awalnya ART itu belum punya BPJS (pelajaran nih, ART kita harus ready BPJS sekarang yaa).
    Kemudian pindah rujukan ke RSCM sambil ngurus BPJS kilat sehari beres, akhirnya disana nggak keluar dana lagi. Semua biaya RS plus transportasi PP istri ART-nya (kebetulan kerja suami-istri) ditanggung teman saya itu. Plus istrinya libur nggak bisa kerja karena nungguin suaminya aja.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      mbak Dwi terima kasih sudah mampir sini dan baca. Wah thanks berat untuk sharingnya, berarti bisa ya bikin BPJS kilat? Setelah sembuh dan bisa balik kerja, ART temen mbak enggak resign kan sampe sekarang?

      Like

  3. dani says:

    Eh lhakok sama kejadiannya Mbak. Kemarin Mbak saya pulang karena sakit. Dirawat di RS 5 hari karena ternyata ada miom di kandungannya. Gak operasi sih kemarin, tapi sampai harus transfusi darah. Nah akhirnya si Mbak pulang untuk ngurus BPJS di kampungnya. Syukur Alhamdulillaah sudah ada opsi itu sekarang. Selama dirawat kami absorb semua biayanya.
    Keputusan pulang pun dari si Mbak yang mungkin ingin lebih dekat sama keluarga dan bisa berobat di kampung halamannya.

    Thx buat komen yang mengurus BPJS singkat di atas ya Mbak.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      wah alhamdulilah dapat masukan juga dari mas Dani nih. Tapi gak baper kan mas begitu udah ngeluarin biaya rawat inap lumayan, trus mbaknya malah resign hehe…soalnya ada temanku yang jadi baper gegara ARTnya malah resign abis sembuh gitu.
      Iya, memang lebih enak kalo dalam proses penyembuhan itu dekat dengan keluarga. Mau minta tolong apa2 juga enggak segan dibanding kalo mbak ART menetap di rumah bossnya ya mas. Terima kasih sudah membaca postinganku yaaa…

      Like

      • dani says:

        Nggak sih Mbak kalo baper. Hawong namanya kerja sama kita masa jadi baper kalo orangnya sakit. 😀 Yang penting sehat aja udah seneng kaminya. 😀

        Liked by 1 person

      • imeldasutarno says:

        iya betul juga ya mas Dani. Apalagi kalo aRT sudah sangat dekat dan sudah dianggap keluarga sendiri….kalau dia sakit dan harus dirawat ya kita harus nanggung dia sebagaimana kita menanggung anggota keluarga yg lain

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s