Cerita Mudik

Halo semuaaa….Pertama-tama saya ucapkan selamat idul fitri 1438 H. Mohon maaf lahir dan bathin ya buat semua yg baca blogkuh. Maafin kalo selama ini ada postingan nyinyir, nyampah, dll, hehe.
Duh, baru mulai nulis lagi, asli bingung mau nulis apa. Karena lumayan banyak banget yang pengen ditulis, dan gak ngerti mesti mulai dari yang mana dulu πŸ™‚

Teman-teman pada mudik gak? Belum berasa lebaran ya kalo enggak pake mudik plus bermacet ria di jalanan. Saya juga tahun ini mudik kok.

Mudiknya ke mana mbak? Nah ini yang suka jadi bahan pertanyaan. Mendingan saya ceritain silsilah saya dulu deh ya.

Bapak saya Jawa asli. Purworejo. Tapi, nenek moyangnya dulu bertransmigrasi ke daerah Lampung, dan beranak pinak di sana. Tepatnya di daerah GadingRejo, Pringsewu, Lampung Selatan. Sementara ibu saya asli Gorontalo, tapi semua keluarganya hampir semua sudah di Jakarta. Lalu saya mudik ke mana dong?

Sejak kecil ya ke Lampung. Kadang suka dikira orang asli Lampung karena tiap ditanya orang yang baru kenal “mudik ke mana?” ya jawabannya itu. Kok Lampung tapi nama belakangnya Jawir pisan “Soetarno”? hehe.

Asal tau aja, di sebagian besar daerah transmigrasi baik di Pulau Sumatera maupun Sulawesi dan juga Papua, gak heran kalau kita menemukan puluhan nama kota kecil yang kental dengan nama Jawa. Sebut saja di Lampung. Mulai dari kampung halaman bokap yaitu GadingRejo, lalu ada BangunRejo, Kalirejo, Wonosobo, Wates, Sukoharjo dan masih banyak lagi. Di Papua juga ada Wonorejo dan beberapa kota lainnya. Nah berhubung enggak mau membahas Jawa rasa Lampung, Jawa rasa Papua dll, marilah back to the topic.

Mudik ke Lampung tiap tahun selalu saya jalani, sampai akhirnya saya menikah. Sesudah menikah, haluan mudik berubah ke kampung halaman suami di Wates Yogyakarta. Ke Lampung praktis gak pernah lagi, apalagi semenjak mbah uti dan akung meninggal. Di rumah utama di Lampung hanya tinggal adik-adiknya bokap, padahal setiap tahun mudik ke sana tujuan utama adalah lebaran dengan mbah uti dan akung.

Nah 2017 ini, saya lempar usul ke suami, gimana kalo kita mudik ke Lampung? Karena masih banyak sepupu dan om-om saya yang belum ada kesempatan mengenal suami (pas kami nikahan mereka enggak datang). Gayung bersambut. Tahun ini suami ngalah, enggak mudik ke Wates. Kebetulan di Wates pun sebetulnya sudah tidak ada orangtua lagi (kedua mertua saya sudah meninggal), hanya ada budhe, paklik dan sepupu-sepupu suami. Cuss lah kami berangkat. Saya, pak suami, 2 anak, ibu dan bapak saya.

Untuk mengantisipasi arus macet saban mudik, maka kami berangkat H+1. Berangkat jam 03.00 WIB pagi dari rumah, dengan kondisi anak-anak masih tidur dan dibopong ke dalam mobil, kami berharap bisa naik kapalnya ketika matahari pagi masih hangat. Strategi berhasil. Jalan tol menuju Merak lengang. Bahkan di beberapa spot mobil kami hanya melaju sendiri saking kosongnya jalanan.

Sampai di pelabuhan Merak pun, alhamdulilah tidak antri naik ke kapal. Jam 08.00 WIB kami mulai berlayar.

P_20170626_072841-800x600

masuk kapal

P_20170626_074143-800x600

Pelabuhan Merak dari atas kapal

P_20170626_074942-800x600

P_20170626_085629-800x600

sempat hujan di tengah laut. dan……. there’s always a rainbow after the rain

Setelah dua jam berlayar, alhamdulilah untuk pertama kalinya setelah sekian lama, saya menjejak lagi di Lampung. Lebaran yang berkesan, karena bisa berkumpul bersama keluarga pihak bapak, sekaligus nyekar ke makam mbah akung, mbah uti dan pakdhe saya (kakak bapak yang paling tua).

P_20170627_115543_1-800x468

P_20170627_084312-800x600

nyekar

Dan kayak orang-orang lain, foto standar lebaran enggak pernah lupa dong ya. Ini dia, minus keluarga om saya yang di Jatiwaringin, Cililin, Cimahi dan Cilegon (mereka belum bisa mudik tahun ini karena ada kebutuhan masing-masing).

19620449_10155452887408794_2558296653107103309_o

foto standar lebaran

Di Lampung, benar-benar kami isi dengan kegiatan silaturahmi, enggak ada waktu wisata seperti kalo mudik ke Yogya. Selain mampir ke rumah kakak sepupu, tak lupa kami pun melakukan perjalanan “main” ke………………………..rumah pengasuhnya Alun dan Lintang. Yes, Mbak Mawar is in the house!Β 

Baca: Rumahku = Base Camp ART

Kok bisa? Iyalah…deshe kan sama kayak bokap saya: orang Jawa yang tinggal dan beranak pinak di Lampung. Bedanya dia tinggal di Lampung Tengah. Dan akhirnya hari kedua kami mudik di Lampung, kami jalan-jalan ke Desa Tanjung Pandan, Kecamatan Bangun Rejo. Gimana cerita di sana? Nanti di postingan terpisah yaaaa….

Oh iya, ada yang lupa. Sama seperti kebanyakan orang-orang yang mudik ke kampung halaman, kami pun selalu dibekali segerobak oleh-oleh dari semua keluarga yang samasekali gak boleh ditolak. Dulu zaman mbah uti masih ada, oleh-olehnya berupa hasil bumi plus keripik-keripikan. Jadi mobil selalu berat belakang dengan beras, pisang, sayuran, bahkan kelapa dan keripik lanting+pisang. Sekarang pun tradisi masih berlanjut. Sepupu, om, tante, bulik dan paklik menjejali mobil kami dengan oleh-oleh yang mirip seperti zaman mbah uti. Minus kelapa, hahaha…. Β Dan tradisi ini juga persis plek ketiplek sama kalo kami mudiknya ke Yogya.

Mudik selalu menyisakan cerita seru. Kalau kamu, seru juga gak mudiknya?
signature

Advertisements

5 thoughts on “Cerita Mudik

  1. Puji says:

    Wah Mba, aku juga tiap mudik ke Lampung. Keluarga ibu mertuaku penuh di sana. Sebenernya, ibu mertuaku orang Pagaralam & Palembang, tapi alm.kakek ditempatin tugas di Lampung. Jadi beranak pinak di sana πŸ˜€

    Liked by 1 person

  2. Mifthakaje says:

    Selamat lebaran mbak.. Maap lahir bathin ya.. Jadi teringat mudik beberapa tahun yang lalu.. Dari Jambi ke Solo.. Lewat lampung.. Nyebrang dari bakauheuni.. Eee mobil kena srobot dari belakang.. Biz itu kuapooook.. πŸ˜‚πŸ˜‚

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s