Silaturahmi dengan Alumni Basecamp ART

Gak sia-sia bikin menu khusus membahas ART/Nanny di blog ini. Karena memang banyak aneka cerita seputaran Asisten Rumah Tangga, yang selalu membuat hidup para emak-emak ups and downs. Terutama kalo dapet sms abis lebaran “bu, aku gak balik lagi.” Hahahaha….jamak beuneur ya?
Kali ini gak mau ngobrolin soal tips n trick ditinggal resign ART. Tapi mau nyambung postingan mudik ke Lampung aja.

Seperti yang saya ceritain di sini, ART kami baik yang sekarang maupun yang dulu-dulu, berasal dari satu kampung yang sama, di daerah Lampung Tengah. Mudik ke Lampung lebaran tahun ini, tidak kami sia-siakan untuk sekalian silaturahmi ke rumah mbak Mawar.

Setelah janjian via Whatsapp, kami pun menetapkan waktu untuk dolan ke kampung mbak Mawar.

Berbekal peta ala undangan kawinan (dicoret-coret di atas kertas gitu) dari sepupu saya yang udah fasih banget sama daerah di Lampung (yaiyalah dia tinggal di sono), plus GPS, kami pun berangkat. Kalo liat di GPS sih cuma makan waktu 1 jam 30 menit. Huhuhuhu…apa daya ternyata hampir 2,5 jam yang kami habiskan di jalan untuk sampai ke rumahnya. Mungkin salah kami juga, karena posisi tujuan di GPS cuma di Kantor Kecamatan Bangun Rejo. Padahal aslinya dari kantor kecamatan itu, rumah mbak Mawar masih jauuuuuuuh banget masuk ke pelosoknya. Nangis deh gue, hiks hiks….
Dari rumah kami berangkat juga udah tergolong siang, sekitar jam 11.00 WIB. Untuk masuk ke dalam kampung mbak Mawar, kami harus melalui jalan tanah yang kiri kanannya hanya ada kebun, hutan, rumah-rumah sederhana penduduk. Mbak Mawar sendiri memandu kami menggunakan motornya, sejak meeting point di kantor kecamatan tadi. Jadi konvoi deh.

Penampakan Desa Tanjung Pandan pun kurang lebih seperti yang ada di Google Maps ya. Saya pas sampai sana enggak sempat foto-foto samasekali. Kalau kata pak suami, tata letak desa ini memang mirip kompleks transmigran pada umumnya.

Sampai di sana, tadinya kami mengira hanya akan bertemu mbak Mawar sekeluarga. Kalian tau apa yang terjadi? Rupanya mbak Mawar sudah kontak semua alumni basecamp rumah kami.

Alumni basecamp saya menyebutnya. Mereka adalah para ART yang awal mulanya datang ke Jakarta ramai-ramai, dibawa oleh Mbak Melati, dan stay di rumah saya sebelum satu per satu diambil untuk bekerja di rumah teman-teman saya yang membutuhkan. Pun sesudah alumni generasi mbak Melati, masih ada alumni basecamp generasi mbak Mawar (baca di sini).

Akhirnya semua tumplek blek di rumah mbak Mawar. Saya gak bisa berkata-kata. Terharu, senang, kumpul jadi satu. Bagaimana tidak? Pengasuh-pengasuh Alun yang berganti-ganti itu, gak nyangka bisa ketemu lagi, dalam suasana idul fitri pula! Kami saling berpelukan. Menangis. Asli, sekali lagi gak nyangka bisa ketemu lagi dengan orang-orang yang berjasa menjaga anak saya ketika saya di kantor bahkan lembur sampai jauh malam hari. Dan juga dengan ART lain yang tidak bekerja di rumah saya.

Alun mungkin sudah lupa dengan mereka yang pernah mengasuhnya. Karena saat itu ia masih terlalu kecil untuk mengingat orang. Namun para eks pengasuh tersebut kebalikannya. “Ya Allah mas, udah gede. Udah bujang. Masih inget sama mbak gak mas?.” Begitu yang mereka katakan pada Alun. Anaknya mah cuek bebek dan sibuk main sama anaknya mbak Mawar yang seumuran dengannya, hahahaha…..

Silaturahmi seperti ini, gak akan mungkin setahun sekali terjadi. Usai kumpul di rumah mbak Mawar, masing-masing alumni berlomba menawari kami untuk mampir di rumah mereka masing-masing yang jaraknya paling hanya beberapa rumah dari rumah mbak Mawar. Ya iyalah, mereka masih tinggal di lingkungan desa yang sama. Tinggallah kami yang kebingungan, karena hari sudah semakin sore. Mampir ke masing-masing rumah mereka bakal lama, bisa-bisa besok pagi baru pulang πŸ™‚ Terpaksa kami tolak halus satu per satu. Kecuali mampir di rumah Mbak Melati. Mbak Melati ini pengasuh yang paling kuat ikatan kekeluargaannya dengan kami. Tanpa mengesampingkan jasa ART lainnya, namun mbak Melati inilah yang kami nilai paling sukses mengasuh Alun. Dengan mbak Melati, kami terus keep contact via sms walaupun ia sudah bertahun-tahun tidak lagi bekerja dengan kami. Jika ada baju lungsuran Alun yang masih layak pakai, saya suka mengirimkannya ke Melati. Jika ada kelebihan rezeki, kami juga mentrasfer sekadarnya via rekening kakaknya.

Pulang dari kampung mbak Mawar, kami tidak tangan kosong. Mbak Mawar memberi oleh-oleh pisang satu tandan dan beras hasil panen sendiri. Dari rumah Mbak Melati, kami dikasih aneka cemilan lebaran mulai dari kacang bawang, keripik-keripik dan beras (lagi). Lalu dari ART lain yang pas mobil kami arah pulang dan melintas depan rumahnya, dia langsung mencegat dan memberikan seplastik penuh telor ayam (tadinya sudah ditolak-tolak karena takut pecah di jalan. Tapi rupanya telor sudah dialas sedemikian rupa hingga tahan guncangan). Bahkan ART yang memberi telor ini mengancam sambil bercanda: “kenapa sih cuma lewat? kenapa gak mampir rumahku pak/bu? Awas lho kalo aku main ke Jakarta aku emoh ah mampir ke rumah ibu.”

Mobil kami seketika penuh oleh-oleh. Lalu apa moral story dari cerita ini?

1. Ketulusan warga desa, masih murni. Ketika mereka memaksa kita mampir ke rumahnya, ya itu beneran mereka tunggu banget untuk mampir. Bukan sekedar celetukan basa basi. Dan ketika kita tidak beneran mampir, wah mereka sedih banget rasanya. Pas kita datang pun, ya langsung disuguhi segala jenis makanan yang mereka punya. Dijamu maksimal. Dan pas pulang, kudu banget dibawain oleh-oleh, enggak boleh nolak.

2. Rezeki sekali lagi bukan hanya berupa uang. Ini udah pernah saya ulang-ulang di beberapa postingan. Kumpul, silaturahmi dan bertemu alumni basecamp begini, semakin mempererat networking lagi. Besok lusa saya dan pak suami gak bakal tau kalo ternyata butuh bantuan mereka kalau butuh ART lagi. Jaga networking jangan sampai putus.

3. Bertandang langsung ke rumah/kampung ART seperti ini, benar-benar sebuah validasi baik bagi saya maupun keluarga ART. Buat saya: akhirnya kita benar-benar tau, bahwa ART ini memang tidak berbohong. Kita lihat langsung dengan mata kepala sendiri siapa saja keluarganya, tetangga-tetangganya, kondisi rumahnya, dan lain-lain. Maaf saya pakai kata-kata yang kurang mengenakkan yaitu “tidak berbohong” di sini. Karena saya juga banyak dapat cerita dari sesama teman maupun baca di media online tentang ART yang kelihatannya baik, namun ternyata kabur, bahkan ada yang mencuri barang berharga milik bosnya. Atau ada yang mengaku di kampung hidup susah hanya berdua neneknya, ternyata aslinya orangtua dan kakak adiknya masih lengkap dan komplit tinggal di satu rumah yang sama.
Sebaliknya, demikian pula bagi suami maupun keluarga ART. Bertemu langsung dengan kami sudah tentu membuat keluarga ART lega. Karena ternyata mbak ART memang benar bekerja di sebuah keluarga baik-baik, memang benar bekerja mengasuh anak, bahkan dengan membawa Alun dan Lintang ke sana, keluarga mbak Mawar tau bagaimana sifat dan perilaku dari anak yang diasuh tersebut.

4. Menimbulkan empati tentang perjuangan untuk menyambung hidup. Semua ART bekerja ke Jakarta tentu atas alasan uang. Untuk membantu perekonomian keluarga. Gak cuma ART dalam negeri, TKW yang jauh-jauh sampai ke Arab Saudi kan juga begitu alasannya. Perekonomian ini bisa berarti macam-macam: uang makan sehari-hari, uang untuk sekolah anak, uang untuk membangun rumah yang lebih layak untuk ditempati, uang untuk bantu biaya rumah sakit kerabat, dan masih banyak lagi.
Mbak Mawar untuk itu, harus menempuh ratusan kilometer dari Lampung ke Jakarta, untuk menjemput rezeki. Jika ia berangkat dari rumah kami untuk pulang kampung kira-kira begini kalkulasinya:

Rumah kami ke Merak : 2-3 jam
Menyeberang dari Merak ke Bakauheni : 2-3 jam (tergantung kondisi cuaca dan antrian)
Dari Merak ke Tanjung Pandan : 4.5-5 jam
TOTAL : kurang lebih 11 jam berada di jalan untuk bisa sampai ke rumah.

Ini kebetulan contohnya mbak Mawar ya yang menurut saya tergolong dekat kampungnya. Coba bayangkan yang dari Nusa Tenggara Timur kerja ke Jakarta. Kebetulan ibu penjual gado-gado langganan pak suami di daerah Bendungan Hilir Jakarta Pusat, asistennya berasal dari NTT. Makanya saya mentionlah provinsi ini di postingan πŸ™‚

Dengan berkunjung ke kampung halamannya, kita bisa merasakan langsung perjuangannya untuk mencari rezeki yang halal. Ditambah jalanan yang tidak selalu aspal nan mulus, terkadang bertemu jalan tanah dan separuh off road, makinlah kita bisa merasakan perjuangan tersebut.

Entah kapan lagi kami bisa mengulang silaturahmi seperti ini. Mudah-mudahan masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk mempererat jalinan silaturahmi dengan mereka semua, aamiiin…
signature


Advertisements

14 thoughts on “Silaturahmi dengan Alumni Basecamp ART

  1. Hastira says:

    wah , aku selalu punya ART yang kenal juag dg keluarganya , memang gak jauh sekali dari rumahku, paling jauh dari kuningan , aku tinggal di cirebon

    Liked by 1 person

  2. sinyonyanyablak says:

    Satu lagi mbak moral story-nya, ternyata Lampung itu penduduknya bukan tukang begal semua hihihi., abis klo liat di berita kyny lampung terkenal rawan ya, tp denger mbak Imel cerita ttg mbak mawar dan melati, aku jadi pngen mampir ke rumah mereka. Seru bgt ya, kebersamaannya bener2 berasa

    Liked by 1 person

  3. vivadeasy says:

    senang baca tulisan mba, tp dulu saya belum berjodoh sama nanny yg dari lampung. Dapetnya online dari kenalan teman, prilakunya ga banged menurut saya sehingga saya pulangkan. Dan kalau dengar “lampung” pasti saya keinget dia hahaha

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s