Tentang Petugas Kapal dan Sebuah Keluarga di Sebelah Kami

Setiap kali mudik, selalu ada aja cerita-cerita menarik, unik dan seru. Begitu pula kali ini. Setelah sekian tahun vakum mudik ke Lampung (baca: Cerita Mudik), saya asli udah gak keupdate blas soal kondisi jalan, ferry penyeberangan dan lain sebagainya. Dulu zaman masih sekolah, tiap kali naik kapal ferry dari Merak ke Bakauheni, suka kayak nano-nano. Kadang-kadang beruntung, dapat parkiran mobil di dek bukan di lambung kapal. Trus pas selama berlayar bisa masuk sampe semacam kelas VIP gitu, yang ada ACnya, ada karaoke.

Tapi kadang juga dapet yang apes, di mana mobil kudu parkir di lambung kapal nan pengap dan gelap, dan gak dapat tempat duduk pas nunggu jadi ya cuma muter-muter di atas dek aja sampe kapal merapat. Ya begitulah suka duka nyebrang pake ferry. Dapat kapal yang masih baru dan bagus plus gak penuh penumpang itu berkah. Dapat kapal yang udah tuwir dan fasilitasnya serba minim a.k.a banyak yg rusak, ya dinikmati aja. Toh cuma 2 jam trus sampe hehe.

Nah kemarin pas berangkat dari Merak ke Bakauheni, kami dapat parkiran di dalam lambung kapal. Nama kapalnya Shalem. Kira-kira penampakannya kayak gini (bukan foto saya, nemu di Google nih)

SAM_0538_resize

gamabr dari Google

Pas naik ke dek, tersedia ruang penumpang terbuka di dek. Kursinya adalah kursi plastik kayak kalo lagi nunggu di apotik gitu.

rygsfd

kursinya cuma kayak gini. Sumber gambar: bmbgroupss.blogspot.co.id

Akhirnya kami pun duduk. Wah alamat boring nih, dua jam di laut ngapain aja ya?
Baru duduk sekitar 10 menit, tiba-tiba ada petugas berseragam kapal Shalem berdiri di hadapan para penumpang semua, sembari mengenakan jaket pelampung. Dan mulailah petugas tersebut menarik perhatian semua penumpang dengan menjelaskan fungsi dan cara penggunaan jaket pelampung jika sampai ada kondisi darurat misalnya kapal tenggelam. Kami pun para penumpang memperhatikan petugas tersebut.

Selesai ia menjelaskan, penumpang kembali pada kesibukannya masing-masing. ada yang tidur, ngemil, ngobrol, berdiri di pagar kapal untuk menikmati pemandangan.

Eh tiba-tiba, si petugas tersebut tampil lagi di depan kita semua. Dengan penjelasan panjang lebarnya ia mulai mempromosikan minyak angin. Dengan berbekal reason bahwa selama berlayar pasti banyak yang akan masuk angin, ia pun lalu membagikan minyak angin tersebut ke semua yang nonton dengan cara berkeliling. Masing-masing diberi kesempatan mencoba dengan cara ditetes ke jari telunjuk tiap penumpang. Yang mau beli silakan, ia lalu menyebut harganya. Saya lalu teringat pedagang asongan di bis-bis gitu.

Kebetulan kami duduk bersebelahan dengan sebuah keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak-anak, kakek dan om nya. Mereka beramai-ramai memang ingin lebaran ke Lampung. Ketika petugas kapal mempromosikan minyak angin tersebut, mereka berhasil dipersuasi dan akhirnya beli.

OK selesai jualan obat minyak anginnya. Kami pikir tadinya udah kelar dong. Eh gak berapa lama, si petugas dagang lagi men! Kali ini ia dagang pisau serba guna. Bisa untuk motong singkong jadi keripik, bisa buat ngupas kentang dan embuh apaan lagi. Gaya jualannya yang lucu membuat kami terhibur walau kami gak beli. Peragaan saat motong singkong dan lain-lain juga dilakukan untuk meyakinkan pembeli. Ndilalah, keluarga sebelah kami beli lagi dong dagangannya si petugas.

Selesai dagang pisau, ternyata belum selesai. Si petugas kembali tampil jualan, dan kali ini jualan buff. kayak di gambar ini.

569044_823c4d32-4c75-11e5-b7cc-686287772fba

gambar dari tokopedia.com

Petugas ini sukses memperagakan aneka fungsi buff dengan gayanya yang kocak. Metode dagangnya pun masih sama seperti pas jualan pisau, yaitu tiap buff dibagikan ke semua penumpang. Yang mau beli tinggal bayar, yang gak mau ya tinggal balikin lagi ke dia. Persis metode asongan di bis 🙂
Gimana keluarga di sebelah kami? Borong dong mereka. Buat anaknya, bapaknya, si om nya, semua beli 🙂

Selesai dagang buff, mas petugas dagang salep yang katanya bisa ngobatin flek di wajah, bekas luka dan lain-lain. Bungkus salepnya totally pake aksara China dan harganya cuman 10 ribu perak. Keluarga sebelah gimana kabarnya? Beli juga euy!

Selesai salep, gak berapa lama dia dagang mainan kincir angin anak. Yang kayak gini:

 

Children-font-b-Windmills-b-font-Flashing-Light-Up-font-b-LED-b-font-And-Music

gambar dari aliexpress.com

Keluarga sebelah? Beli juga dong ah, kan anaknya banyak. Eh iya keluarga di sebelah kami ini ramah loh. Sesekali ngobrol sama kami, nawarin makanan lebaran alias snack hasil buatan tangan sendiri. Semacam dodol atau apa gitu, hehe. Maklum deh suasana masih lebaran abis begini.

Selesai jualan mainan kincir angin tau-tau dia ngomong kalo kapal sebentar lagi merapat, dan mengingatkan semua penumpang untuk hati-hati dan jangan sampai ketinggalan barang-barang di kapal.

What? Udah mau nyandar kapalnya? Seriusan? Ih asli gak kerasa men! Karena doi jualan melulu dan kita asik nontonin dia, waktu bener-bener gak berasa. Dua jam yang dilewati tanpa boring ini mah namanya. Beda sama zaman saya naik kapal dulu-dulu yang dua jam dihabiskan dengan bengong sambil ngeliatin lautan doang sejauh mata memandang.

Saya bener-bener senang dan bersyukur kapal Shalem ini menyediakan “fasilitas tambahan” berupa petugas yang merangkap pedagang ini. Coba semua kapal kayak begini aja ya hehe.

Sayang hingga kami turun dari kapal, saya gak sempat foto bapak petugas ini. Udah kehipnotis sama cara dia jualan kali ya hahahaha….

Itulah pengalaman seru mudik tahun ini: bertemu pedagang yang menghibur dan sebuah keluarga yang begitu mudah terpersuasi dan membeli semua yang didagangin si petugas 🙂

Kalo kamu punya pengalaman seru gak pas mudik?
signature

Advertisements

2 thoughts on “Tentang Petugas Kapal dan Sebuah Keluarga di Sebelah Kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s