Two is Better than One

Saya punya beberapa cerita. Ini tentang soal berumah tangga.

CERITA 1:
Teman bekas kantor saya yang lama. Seorang wanita karier, yang usianya di bawah saya.

Anaknya sudah 3, yang paling besar baru usia 7 tahun. Sehari-hari teman saya ini, sebut aja namanya Marimar (et dah…lu kate telenopela?), selain disibukkan dengan urusan pekerjaan, juga dengan urusan anaknya. Terkadang tidak masuk kantor jika anaknya sakit. Lalu untuk urusan daftar sekolah dan antar anak pagi ke sekolah, juga menjadi urusannya. Anak bungsunya masih bayi usia sekitar 3 bulan, dan pengasuhannya dibantu oleh nenek sang bayi. Terkadang Marimar mengeluh karena tidak merasa disupport oleh suami terutama dalam hal pengasuhan anak. Soal ngegendong anak yg bayi misalnya, pernah Marimar cerita, saat ia tengah sibuk dengan anak keduanya yang baru berusia 4 tahun, lalu ia minta tolong suami untuk menggendong anak bayinya yang rewel. Alih-alih menggendong, pak suami tersebut menyuruh si sulung untuk gendong plus momong adiknya. Pun urusan daftar sekolah, Marimar yang bergerak. Ibaratnya jika Marimar enggak gerak, ya anak sulungnya enggak kedaftar ke sekolahan. Mengharapkan bantuan pak suaminya, sulit sekali karena alasannya ada saja. Bahkan diserahi tugas ringan yaitu membuat pas foto anak saja, pak suami itu salah bikin dan mengakibatkan Marimar yang tengah dirundung deadline di kantor mencak-mencak via telepon dan terpaksa keesokan harinya mengambilalih aktivitas membuat pas foto tersebut. Saat sedang berekreasi ke Ecopark Ancol sekeluarga, Marimarlah yang membawa ketiga anaknya yang kecil-kecil termasuk dedek bayi, berjalan keliling-keliling. Kebayang ya ngangon anak kecil-kecil usia lagi gak bisa diem plus 1 bayi sambil keliling-keliling Ecopark? Encok atau gempor? Ah beda tipislah…. Pak suami alasannya mengantuk dan capek nyetir lalu memilih tidur dalam mobil saja.
Bukan sekali dua kali Marimar sering curhat soal kurang supportnya sang suami ini.

CERITA 2:
Teman sekolah saya. Waktu itu ia hamil dan melahirkan anak laki-laki kembar. Sebut saja namanya Anjani. Kebayang ya repotnya ngurus dua anak bayi kembar sekaligus? Anjani juga wanita karier yang selalu rajin memerah ASI di kantor. Perjalanan PP kantor-rumah Jakarta-Bogor dilakoni setiap hari via kereta api. Sampai rumah, walaupun mengasuh anak mendapat bala bantuan dari nenek si kembar namun tetap saja nenek hanyalah secondary support. First support sudah tentu pak suami. Namun apa mau dikata, pak suami jika sudah membuka laptopnya di rumah, entah itu pekerjaan atau main game, ya sudah…..wassalam untuk dimintai tolong urus anak yang lagi rewel sementara Anjani pun harus handle yang satu lagi. Curhat Anjani salah satunya seperti itu.

CERITA 3:
Kakak sepupu dari teman kuliah saya. Wah jauh juga ya relationnya, udah kakak sepupu, terus teman kuliah saya pula, hahahah….udahlah gak usah dibahas tentang hubungan itu.
Nah ini awalnya wanita karier yang memutuskan resign setelah punya dua anak. Sekarang anaknya malah 3, dengan jarak usia: yang sulung 8 tahun, tengah 4 tahun, bungsu 3 tahun. Yang ini sebut aja namanya Edelweiss. Sejak menikah, teman kuliah saya selalu memperhatikan perilaku suami Edelweis. Pak suami ini, tidak bisa mengurus anak. Dimintai tolong membersihkan pup anaknya, ia muntah. Lalu kalau ada acara-avara keluarga, tiga anak tersebut ya yang ngurus emaknya/Edelweiss. Pernah kata teman saya, si anak bungsu disuapi nasi di suatu acara keluarga oleh Edelweiss, lalu anak itu  muntah. Teman saya spontan ngomong ke pak suami Edelweis yang ia lihat asyik makan nasi juga. “Tuh anakmu muntah, urusin tuh.” begitu teman saya bilang. Dan spontan pula pak suami Edelweis santai menjawab: “biar aja, kan ada emaknya ini,” sembari cengengesan dan melanjutkan makan dengan santai. Belumlah selesai Edelweis memberesi muntahan si bungsu, si tengah datang merengek-rengek entah minta apa gitu ke Edelweis. Annoying dengernya kata teman saya, tapi yang ia lihat, pak suami Edelweiss yang sudah kelar makan malah asyik mengisap sebatang rokok dan gak berusaha pula menenangkan anaknya yang merengek itu. Ini hanya sekelumit cerita dari banyak cerita lagi yang sehari-hari Edelweiss alami. Kata teman saya intinya sehari-hari itu ya hampir semua pekerjaan mengurus anak dilakukan Edelweiss dengan bantuan super minim dari pak suami.

Rumah tangga orang masing-masing ya bok. Duh siapalah kita sok sok ngejudge untuk cerita Marimar, Anjani dan Edelweiss di atas. Walopun sebagai wanita, dalam hati ini pengen banget marah karena melihat ada ketidakseimbangan di dalam masing-masing cerita. Karena menurut mindset kita: Ketika komit untuk menikah, berarti dua sosok menjadi satu. Dua kepribadian, dua kehidupan, dijadikan satu. Punya anak pun, berarti ya anak berdua, bukan anak emaknya atau anak bapaknya. Artinya mengurus anak sewajarnya dilakukan dengan kerjasama antara suami dan istri.

Ndilalahnya mindset kita bekerja berdasarkan curhatan orang-orang tersebut di atas aja. Kita gak pernah tau detail-detailnya rumah tangga mereka masing-masing. Siapa tau Marimar mengeluh-ngeluh semua mesti dia yang handle, ternyata pak suaminya setiap hari di rumah gak pernah sekalipun rusuh ngeluh minta tolong Marimar buat bantuin nyuci mobil, bantuin patungan bayar pajak motor, rumah, dan bantuin bayar SPP sekolah anaknya? Siapa yang mau tau Anjani yang pak suaminya main laptop melulu, ternyata kalo Anjani sakit dan tepar berubah menjadi papa hero yang siap sedia ambil risiko bolos dari kantor dan membiarkan semua urusan anak dihandle dirinya sementara Anjani dibiarkan istirahat total?
Atau……siapa yang bisa nyangka kalo Edelweiss yang kok kayaknya ngenes begitu sehari-harinya, ternyata suaminya tiap hari banting tulang nyari nafkah buat Edelweiss dan ketiga anaknya 24 jam, alias sudah pulang ngantor dalam kondisi capek, masih ngobyek halal sana sini demi dapur yang terus mengebul dan anak tetap bisa sekolah?

Ok terus ngalor ngidul begini mau bikin kesimpulan apaan sist? Saya me-remind diri saya sendiri: lain kali kalo denger cerita curhatan seperti tiga cerita di atas, gak mau langsung subjektif dan menilai membabi buta. Karena yang njalanin rumah tangga bukan kita, tapi mereka. Mereka yang jalanin detail kehidupan sehari-hari. Meskipun yang terbaik memanglah “berdua” bukan “satu”.  Perihal mengurus tetek bengek anak bukan hanya kewajiban salah satu pihak tetapi udah jadi kewajiban berdua.

Mudah-mudahan semua pasangan kita di rumah (suami/istri) adalah pasangan yang kooperatif, supportive dan menyejukkan jiwa ya guys *ahayyy…

Two-is-better-than-one-Apple-iPhone-4-Waltz

gambar dari Google

Two is better than one kan, kalo kata Boys Like Girls feat.Taylor Swift (issh…lagunya enggak nyambung pisan).

*maapin ceritanya loncat-loncat rada enggak nyambung ya. Maklum blogger amatiran hehe….
signature

Advertisements

10 thoughts on “Two is Better than One

  1. mrs muhandoko says:

    Aduh marimar, ketauan bgt ini telenovela angkatan kapan 😆😆😆

    Btw ngomongin soal pup anak, suamiku pernah minta dibeliin masker yg ada exhaust alias lubang udara di samping kiri kanan hidung itu lho. Alasannya biar besok dia ga pingsan kalo ganti popok anaknya.

    Rasanya antara aku pingin ketawa sama pingin ngejitak.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      whahahah iya, umurku ndak bisa bo’ong na…hidup Marimar dan Maria Mercedes.
      Btw rikuesnya Mr.M bikin aku ngakak…kebayang ribetnya ngurus anak yang kudunya kita gesit gantiin popok, ini malah riweuh sendiri pasang masker dulu hihihihi…..

      Like

  2. Crossing Borders says:

    Ada tipe pria dan wanita yg cenderung mengklasifikasikan tugas rumah tangga secara saklek atau harfiah berdasarkan jender. Mungkin tipe seperti itulah para suami yg diceritakan di sini: mengurus anak adalah urusan wanita, mencari nafkah adalah urusan pria. Jadi para suami tsb mungkin sudah merasa menunaikan tugasnya sehingga tak mau diganggu lagi oleh tugas lainnya. Saya kenal seorang wanita yg menganggap tugas bersih-bersih di luar rumah itu tugas pria, jadi dia gak pernah mau bantuin suaminya bersihin halaman, merapikan taman, perawatan mobil dll. Padahal maunya suami, kalo si istri lagi santai ya pengen dibantuin karena kan sama-sama kerja dan gak ada pembantu.. Istrinya tetep gak mau bantu karena menurut dia itu tugas cowok..

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      pathetic but true ya emm. Dan akhirnya kita sebagai orang di luar rumah tangga mereka, termasuk rumah tangga temanmu yang ga masu bantu suami bersih2 luar rumah itu, hanya bisa mendoakan semoga semuanya baik-baik saja. Yang masih belum tergerak hatinya untuk support pasangannya semoga menjadi tergerak, dan yang sudah supportive akan semakin bahagia rumah tangganya. Paling itu yg bisa kita lakukan…Amiiin…ealah jadi panjang komennya Emm 🙂

      Like

  3. Audrie says:

    itulah ya, there’s always two sides to every story. gimanapun sebel dan gondoknya pas denger satu sisi cerita, bagusnya sih memang gak main asal menilai atau bahkan menghakimi. kasih komen bernada kesel ke si penutur cerita *asek istilahnye* boleh aja, tapi bukan berarti langsung menghakimi berlebihan juga. toh orang cerita biasanya minta didengarkan, bukan minta dinilai apalagi dihakimi.

    kenapa cuma Marimar yang nongol? gak sekalian Cassandra, Maria Mercedes, Rosalinda ^_^

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      iya audrie, bener banget kalo kita sebaiknya memposisikan diri sebagai pendengar yg baik karena emang kebanyakan org curhat butuhnya didengerin. Dan jangan sampe kita ikut2an ngejudge cuma based on one side story hehe. Nanti Rosalinda dan Cassandranya in the next blog posting ya wahahahaha…
      Makasih sudah mampir ke sini audrie 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s