Kok ART Gak Resign-resign Ya?

Haiii…kali ini kembali ingin menulis seputaran Asisten Rumah Tangga. Buat yang ngerasa bosen, bolehlah tulisan ini diskip 🙂

Kalau kemarin-kemarin saya nulis Kenapa ART Minta Resign padahal kerjanya udah poll-poll an gampil plus gaji yang super tinggi, kali ini pengen posting Kenapa ART Super Betah dan Gak Resign-Resign?

Gak banyak cerita dari orang-orang yang punya ART, bahwa ART mereka bisa bekerja hingga puluhan tahun. Ada yang 15 tahun, bahkan 30 tahun. Rezeki ampun-ampunan itu mah kalo bisa dapat ART seperti itu. Dan sungguh……..jumlah majikan yang bisa dapat ART puluhan tahun gini enggak banyak.

Berdasarkan beberapa pengalaman dari teman-teman saya, berikut beberapa yang dapat saya simpulkan sebagai penyebab kenapa justru ada ART yang kerja sampai puluhan tahun enggak resign-resign hanya di satu tempat saja. Abaikan alasan bahwa ART tidak mau resign karena di rumah majikan tersebut sudah diperlakukan sebagai keluarga sendiri tanpa perbedaan samasekali. Contoh alasan tadi udah pasti dan udah standarnya ya. Nah kali ini saya mencoba melihat dari sisi lain:

  1. Sudah hilang kontak dengan keluarga di kampung halaman.  What? Ada gitu manusia di dunia ini yang beneran udah gak kontak sama keluarganya?. Seyatim piatunya dia, off course yang namanya sepupu, ponakan, paman, tante, om, pasti punya dong ya, dan masih bisa silaturahmi ke kampung. Itu yang idealnya. Namun sayangnya di realita masih ada beberapa orang yang mengalami nasib yag kurang beruntung. Ketika ia memutuskan hijrah ke Jakarta atau kota lainnya yang super jauh dari kampung halamannya, potensi untuk lost contact sangat mungkin. Contoh real: ada seorang ART yang bekerja di rumah tetangga teman saya. Ia berasal dari Papua, dan rumah tetangga teman saya ini di Cibinong-Jawa Barat. Sebut saja nama ART ini mbak X ya. Sejak pertama kali bekerja, hingga puluhan tahun kemudian, ia tak bisa pulang ke kampung halamannya, dan nomor telepon keluarganya pun ia sudah tak ada alias bener-bener lost contact. Ndilalah keluarga dari Papua pun nampaknya gak mungkin datang ke tanah Jawa. Semua akibat besarnya biaya dan jauhnya perjalanan yang harus dilalui untuk saling berkunjung. Akibatnya….ia stay terus dan tidak pernah berpindah-pindah kerja. Bisa jadi dia juga mikir, kalau mau pindah kerja pun belum tentu mendapatkan fasilitas yang memadai seperti di rumah majikannya yang sekarang. Dan jika dia tidak mendapat fasilitas memadai atau tidak cocok dengan pekerjaan maupun majikannya, mau resign…harus pulang ke mana? Nanti terlunta-lunta lagi. Keluarga super jauh di Papua sana. Pilihan akhirnya ya menetap di rumah majikan tempat ia pertama kali bekerja dan tidak pernah ada niatan resign.
    Yang menyedihkan dari cerita ini adalah…….dua bulan lalu teman saya sebagai tetangganya, mengabarkan bahwa mbak X sakit dan akhirnya meninggal dunia setelah dirawat seminggu di RS. Dimakamkan di lingkungan sekitar rumah majikan saja, karena gak tau mesti dibawa ke alamat mana di Papua. Super sedih denger cerita ini…. gak kebayang kalo kejadian di kita ya pemirsah 😦
  2. Difasilitasi majikan untuk membawa suami sekaligus anak. Fasilitas yang dimaksud di sini bukan hanya berupa ongkos untuk memboyong keluarga sang ART ke rumah majikan, tetapi sekaligus diberikan satu rumah khusus untuk keluarga ART itu tinggal. Nah kalau ini terjadi pada bekas teman sekantor saya. ART nya itu ikut sama ortu teman saya semenjak teman saya masih kecil, mungkin sekitar usia SD. Hingga teman saya ini lulus kuliah dan sekarang sudah bekerja, ART masih tetap bekerja bersamanya. Mulai ART itu masih gadis, lalu menikah, lalu dibuatkan satu rumah khusus di halaman rumah teman saya yang kebetulan orang kaya jadi halaman rumahnya besar gitu. Siapa yang enggak senang? Bisa kumpul sama suami, punya privasi (rumah) sendiri, trus kerjanya juga enggak seberapa berat yaitu hanya bersih-bersih, urus rumah beserta halaman, cuci mobil. Pekerjaan non menjaga bayi karena emang udah ga ada anak kecil di rumah teman saya ini.
  3. Tak kunjung menemukan jodoh. Memang ada beberapa ART yang memang belum ada jodohnya, atau sulit mendapat jodoh, hingga akhirnya tidak menikah hingga usia sudah lewat kepala 4 bahkan kepala 5. Akhirnya, memilih untuk stay bekerja di rumah majikannya selama berpuluh tahun adalah pilihan utama. Semakin usia ART bertambah, kemungkinan untuk berpindah-pindah kerjaan semakin kecil. Udah pasti jauh lebih enak menetap di majikan yang ia kenal sejak berpuluh tahun lalu, karena pattern pekerjaan sehari-hari sudah ia hafal luar kepala. Belum lagi pemakluman dari pihak majikan seiring pertambahan usia ART. Karena udah semakin tua bisa jadi majikannya mengatur ulang urutan pekerjaan yang harus dilakukan sehari-hari, disesuaikan dengan fisik sang ART. Coba kalo di usia 50 lalu ia berpindah ke rumah/majikan lain. Duh: kudu adaptasi ulang, majikannya belum tentu pengertian sama kondisi fisiknya yang semakin renta, dan lain sebagainya. Nah kenapa saya bisa tulis ini? Karena ada cerita nyatanya. Pengasuh dari teman sekelasnya Alun, sudah umur dan belum menikah. Sebut saja Mbak Y ya. Mulai muda sampai sekarang ia menetap bekerja di rumah majikannya yang sekarang. Entah sudah berapa belas tahun. Mungkin ia bekerja pertama kali bersama nenek temannya Alun, lalu kini akhirnya mengasuh cucu sang nenek. Bahkan mbak Y ini bukan cuma bertugas mengasuh dan antar jemput, tapi udah mirip ortu teman Alun aja, yaitu sampai ketemu dan konsultasi sama wali kelas tentang peraturan di kelas. Seringkali saya mendengar cerita dari ART saya yang antar jemput Alun, kalau mbak Y suka curhat dan minta tolong dicariin jodoh ke mbak ART saya.

Itu adalah 3 alasan yang bisa saya simpulkan, based on pengalaman orang-orang di sekitar saya. Memiliki ART yang bisa stay sampai berbelas bahkan berpuluh tahun memang bagaikan jarum di antara tumpukan jerami. Walaupun kita mungkin belum bisa mencapai keinginan tersebut, minimal berusaha dengan berbagai cara agar ART bisa betah bekerja di rumah kita. Caranya? Masing-masing rumah tangga pasti punya cara yang berbeda-beda. Kalau cara saya bisa dibaca masing-masing di postingan ini ya:

Ini Kepalaku, Untuk Kau Injak

Terus Masih Mau Itung-itungan Juga Nih?

Soal Menghargai ART

 

Semoga ART yang sekarang bekerja di rumah pemirsah blog sekalin selalu betah dan baik hatinya yaaa… Yuk amin-in bareng-bareng 🙂
signature

Advertisements

19 thoughts on “Kok ART Gak Resign-resign Ya?

  1. inlycampbell says:

    Aminnnnn.. cuma aku gak punya ART, hehe.. Tapi mang yang ART kerja lama tinggal dirumah dianggap sodara, ada tuh sepupu aku, dr kecil sama dia terus, sampe suka diledekin mama angkat, kedua belah pihak happy2 aja, antara majikan dan ART..

    Liked by 1 person

  2. justpipit says:

    dulu aku punya mantan (eaaa..) kerja udah puluhan tahun dari kakaknya si mantan bayi sampai sekarang kayaknya (meneketehe ya, ga pernah kontak dia lagi sih..haha..), dipanggilnya si mbok..salut deh kalo inget betapa loyalnya si mbok dan betapa baiknya keluarga majikannya..hehe

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      wah beruntungnya adik iparmu mbak. Nah tuh kan faktor sudah atau belum menikah ini salah satu penyebab mereka betah di satu majikan nampaknya hehe. Makasih sudah mampir dan baca ini ya mbak 🙂

      Like

  3. magmignonette says:

    Oiya ya, point kesatu bisa jadi seperti itu ya. Sedih ya klo sampai hilang kontak sama keluarga sendiri, walaupun klo ART yang sudah lama kerja gitu at least >10 tahun, pasti sudah anggap kita keluarga nya juga cih.
    Duh, ternyata Mbak Imel ini cerita dunia per-ARTnya kayak TV series, ada ‘season’ nya, hihihi.. 😋
    Thanks Mbak sharingnya..

    Liked by 1 person

  4. nengsyera says:

    obrolan seputar ART (termasuk postingan mba sebelumnya) berguna banget utk aq nanti mbak. nti bisa dijadiin referensi aq/
    soalnya selama ini ga pernah punya art di rumah ortu sendiri, apa2 dikerjain sendiri.
    nah nanti klo sudah menikah rencananya dikasih art sama mama mertua, ga full buat aq sih tapi istilahnya berbagi art dg mama mertua krn jarak rumah kami nanti dekat banget dg rumah mama mertua.
    sampe skrg masih galau mikirin jobdesknya krn aq terbiasa apa-apa beresin sendiri, termasuk galau kira2 kasih brp utk gaji art dtg-pergi yang kerjaan sementara nanti bersihin rumah, nyuci-setrika (2-3 hari skali).

    Liked by 1 person

  5. Enny says:

    semoga pengasuh anak satya betahd eh senggaknya sampai umur setahun, hihi. Rumah saya kecil sih jadi nggak perlu ART. Bersyukur banget ya yang punya ART sampai puluhan tahun dan poin yang mba jembrengin di atas benar adanya berdasarkan pengalaman orang yang saya kenal juga.

    salam kenal mba, Salam kenal ya, saya enny yang komen di grup fb KEB untuk saling follow dan bw ^^

    Liked by 1 person

  6. Inge says:

    Nggak punya ART sih mbak, tapi emang kalau denger cerita teman nyari ART itu susaaah, dan takjub juga dengan alasan-alasan kenapa ART betah, terutama mbak X. Beruntungnya, majikannya pastinya baik dan ART bekerja sesuai keinginan majikan, jadi bisa klop gitu. Kebayang kalau nggak klop dengan majikan tapi kondisi seperti mbak X

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s