Ketika HP Dipinjam….

Sebagai ART yang bekerja jauh dari kampung halaman alias perantauan, sudah jamak kalau para mbak ini membentuk komunitas alias geng gaul. Gak usah ART, kita aja kalo merantau ke kota orang lain pasti mau gak mau pengen banget nggabung sama yang senasib ya.

Nah begitu pula mbak ART saya. Temennya banyak. Rata-rata para ART sekitaran rumah saya, dan juga para pengasuh anak yang ia temui ketika antar jemput Alun dan Lintang ke sekolah. Eits gak cuma sampai situ…kerabatnya yang juga merantau di seputaran Jabotabek, tak luput menjadi anggota gengnya hehe.

Salah satu kerabatnya kemarin memang main ke rumah kami. Saya gak tau mereka ngobrol-ngobrol apaan aja pas dalam kamar. Setelah si kerabat pulang…sebut aja nama si kerabat mbak Cempaka ya…… mbak ART saya barulah bercerita.

Jadi kedatangan Cempaka adalah dalam rangka curhat. Cempaka sudah gak bisa dikontak oleh siapa-siapa karena…..handphone Cempaka dipinjam sama bosnya. Kata mbak ART, pantesan tiap WA atau sms ke Cempaka enggak pernah dibales lagi.

Sampe sini saya tertegun. Tapi saya biarkan mbak ART saya terus bercerita. Bos/majikan mbak Cempaka ketinggalan hp nya di taxi online. Setelah sadar di rumah, katanya dia berusaha terus menelepon ke hp nya itu. Nadanya masuk tapi ga diangkat-angkat. Dicoba terus menerus sampai akhirnya hp itu tidak aktif. Ada yang missing cerita di sini. Mbak ART saya enggak tanya detil apakah si bos itu gak berusaha telepon ke kantor pusat taxi online itu untuk ngurus? Menurut saya kalo kita bisa telepon ke kantor pusat dan masih hafal nama drivernya, kayaknya masih ada kemungkinan bisa diurus. Tapi ya gak taulah, saya ini kan cuma denger cerita dari tangan kedua alias gak langsung dari mulut mbak Cempaka.

Lalu, karena si bos kondisinya gak punya HP, dia lantas minjam ke ARTnya. Mau nolak enggak mungkin. Gak enaklah, kan yang minjem bosnya sendiri. Otomatis semua kartu SIM mbak Cempaka kudu dicabut dong ya dari itu HP. Dan akibatnya mbak Cempaka ga bisa dikontak siapa-siapa. Nah doi kan udah tunangan, cuma tunangannya tinggal di kampung halaman. Saking gak bisa dihubungin, sang tunangan terpaksa kirim message via Inbox Facebook ke mbak ART saya (kebetulan udah temen-temenan mereka ini di FB). Tunangannya sampai mikir yang enggak-enggak ke Cempaka gara-gara samasekali gak bisa dihubungin. Tunangan sampe ngomong ke inbox ART saya “titip pesan ya: tolong kalau mau bener jalannya sama saya, memang mau nikah sama saya, bilangin ke Cempaka jangan tiba-tiba ngilang begini.”
Miris euy.

Sementara si bos beralasan belum ada waktu untuk beli HP baru karena sibuk banget, makanya sementara minjem punya Cempaka dulu. Saya juga gak tau detil sudah berapa lama HP ini dipinjam.

Tadi saya bilang saya tertegun. Ya sampe kelar cerita mbak ART,  jujur tertegunnya kuadrat kuadrat alias nambah-nambah. Hmmm…bukannya tebalik ya? Bukannya masih ada cara lain? Misalnya meminjam sementara HP anak-anaknya bos (yang kebetulan sudah usia SMP dan SMA), ketimbang harus minjem ke ARTnya sendiri? ART yang notabene (mohon maaf) levelnya lebih di bawah kita. ART yang seharusnya justru kita yang malu jika meminjam apapun ke dia tetapi tidak kebalikannya. Kita yang lebih mampu dalam segala hal makanya kita alhamdulilah bisa jadi bosnya.

Mungkin memang kondisinya urgent karena yang saya dengar, bos Cempaka ini pengusaha kuliner dan punya beberapa kontrakan di mana-mana. Sudah pasti networking jangan sampe putus dong ya, makanya kalo tiba-tiba HP hilang lalu gak bisa dihubungi, wajar dia panik. Tapi lagi-lagi menurut saya masih ada cara lain. Kalau super urgent, buat orang sekaya dia adalah hal mudah untuk memiliki HP kembali.

Sibuk? Beli online aja dulu di internet via nomor dan HP anaknya.

Oh ternyata kalaupun mau beli lagi, pengennya langsung yang fiturnya  sekalian ciamik. Iya gpp, tapi selalu ada prioritas. Pilih mana, beli HP biasa aja cepet-cepetan via online tetapi hasilnya masih bisa kontak dengan banyak orang? Atau belinya nanti aja pilih yang fiturnya oke dan harganya juga lumayan mahal tapi akhirnya mengorbankan orang lain seperti mbak Cempaka?

Setelah menulis ini, saya mikir. Mungkin saya yang salah. Karena saya gak ngalamin langsung kejadiannya tetapi cuma asik-asikan ngejudge. Asik-asikan sok menganalisa.
Seharusnya saya cuma jadi pendengar yang baik atas cerita Cempaka yang disampaikan via mbak ART saya. Huhuhuhu…buat bosnya Cempaka, maafin daku yah yang sudah lancang ikut ngejudge sana sini. Tapi di balik semua itu, asli deh saya pengen HP Cempaka buru-buru dibalikin ke yang punya. Biar dia bisa dikontak lagi bukan cuma sama temannya, tunangannya, tapi juga sama keluarga intinya di kampung nun jauh di luar pulau Jawa sana. Karunya euy (kasian euy)  😦
signature

 

Advertisements

11 thoughts on “Ketika HP Dipinjam….

    • imeldasutarno says:

      nah makanya nel, akupun emejing lah pas denger ceritanya. Soal pulsa, bosnya beli kartu baru lagi/SIM Card baru. Jadi bener2 gak pake simcard ARTnya. That’s why ARTnya ga bisa dikontak blas sama keluarganya karena simcardnya dicabut dari hp 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s