Popcorn yang Laris di Market Day

Tanggal 22 September 2017 ini, sekolah anak saya menyelenggarakan Market Day sekaligus aneka lomba dalam memperingati tahun baru Hijriyah. Setiap kelas dibagi antara anak-anak yang ikut lomba dan yang diberi tugas berjualan. Nah khusus yang jualan, orangtuanya diminta untuk membuatkan atau menyiapkan apa saja yang bisa dijual dan disenangi anak-anak. Karena pembelinya ya teman-temannya juga, jadi itemsnya mesti yang disukai mereka. Items ini bisa berupa jualan alat tulis, snack, minuman, dan lain-lain.

Peraturan di Market Day ini: orangtua tidak boleh ikut membantu anak jualan di stand. Hanya boleh dibantu oleh ibu guru. Hal ini agar anak mandiri. Kalaupun anak-anak level kelas bawah seperti anak saya yang baru kelas dua, belum mengerti uang, sudah tentu didampingi terus oleh walikelas saat berjualan. Harga barang-barangnya pun gak boleh mahal, hanya berkisar antara Rp2,000-Rp10,000.

Awalnya terpikir jualan puding aja. Karena puding itu gampil banget nyiapinnya. Terus berhubung teman sekelas sudah ada yang keburu memilih puding sebagai item jualan, walikelas menyarankan jualan jus buah saja. Karena pengalaman tahun kemarin, jus buah itu laris manis. Hmmm….kayaknya saya skip banget secara kuatir gagal dan gak enak pas bikin jusnya. Lalu saya bilang ke Alun supaya jualan kue bolu/brownies aja. Browniesnya bisa beli yang Amanda atau merk lainnya, tinggal potong2 dan dijual deh.

Di tengah jalan planning berubah. Gara-gara sepele. Bapaknya iseng pengen bikin popcorn pas ngeliat ada jual jagung popcorn di Superindo. Trus beli dan emang dibikin buat camilan anak-anak di rumah. Pas lagi asik nyamil, bapaknya kepikiran: kenapa gak jualan popcorn aja di sekolah? Bikinnya juga gampang kok.
Akhirnya sejak itu, dibulatkan niat jualan popcorn dan kebetulan anaknya pun mau.

Satu minggu menjelang Market Day, ortunya persiapan segala macam. Apa saja itu?

1. Tes pasar. Alun dibuatkan popcorn dan dibawa ke sekolah sebagai bekal. Pulang dari sekolah, dia cerita kalo semua temannya minta popcornnya, karena emang jarang ada yang bawa popcorn ke sekolah. Rata-rata bawa makanan berat (nasi+lauk), roti, biskuit, sebagai bekal. Katanya begitu kotak bekal dibuka, semua mengerubungi dan minta popcornnya. Ludes.
Tes pasar berhasil.

2. Planning untuk membuat branding popcorn. Bapaknya gak setengah-setengah. Jangan cuma jualan popcorn polosan. Tapi kudu dikasih brand. Ada design logo plus taglinenya. Buat tagline, bapaknya survey ke Alun: apa yang teman-teman bilang pas makan popcorn? Alun menjawab kalau teman-temannya ada yang bilang mau lagi dong, enak, bagi dong, dan lain-lain. Dari survey itu, bapaknya menetapkan “Lagi dong” sebagai tagline. Brand popcornnya sendiri disesuaikan dengan nama anak.
Selesai tagline dilanjut dengan design. Apa saja items design yang harus dibuat? Display wall kecil, stiker untuk ditempel, plus topi kertas untuk Alun sebagai penjualnya.
Semua material itu diprint digital di atas bahan stiker. Alhamdulilah bapak Alun wiraswasta di bidang design grafis dan kantornya punya mesin digital print sendiri. Jadi tinggal ngeprint aja deh cuss langsung.

IMG-20170920-WA0113

Di belakang Alun itu mesin digital printing sedang proses mencetak branding. Alunnya mah nonton Youtube men, wkwkwkw…kesannya deshe yang mengoperasikan tu mesin yee

P_20170921_175240-800x450

P_20170920_201903-800x450

stiker untuk di kemasan

3. Mempersiapkan packaging popcorn. Sempat galau karena packaging popcorn bukan items standar yang bisa kita temukan di aneka toko plastik dan packaging. Sempat kepikir ya sudahlah pakai aja sealed plastic macam plastik obat gitu sebagai kemasan. Atau pakai gelas plastik ukuran terbesar yang biasanya buat orang jual minuman Pop Ice gitu. Bapak Alun bilang kalau pake gelas plastik gak bisa jualan banyak popcornnya. Kasian anak-anak yang beli, baru makan udah langsung abis. Tau sendiri kan popcorn itu makanan super duper ringan.
Di tengah semakin dekatnya deadline Market Day, kita berdua (saya+suami) browsing nyari di mana bisa bikin packaging popcorn. Sayang seribu sayang, semua toko online menjual packaging dengan minimal order 1,000 pcs. Padahal kami cuma butuh 25 pcs saja. Lalu iseng browsing ke satu toko online khusus bikin kemasan custom, eh bisa dong order minimum 20 pcs. Sayangnya harga per pcs nya mahal banget yaitu Rp7,000.
Bapak Alun lalu mencoba alternatif lain. Dia menghubungi percetakan langganannya, dan alhamdulilah percetakan itu bisa membantu membuatkan, karena mereka punya master dan pisau pond sesuai kemasan popcorn pada umumnya. Malam-malam pulang dari kantor, kami berdua datang ke workshop percetakan untuk mengambil pesanan kami. Bayar berapa? Gratis pemirsa! Karena itu langganan trus katanya pembuatannya memanfaatkan sisa karton yang ada, dan udahlah karena hubungan sudah sangat baik, maka digratiskan. Toh percetakan itu banyak banget dapet orderan cetak dari kantor suami untuk pekerjaan-pekerjaan lain. Jadi ini semacam compliment aja. Malah dikasih 80 pcs, wahahahah banyak banget yaaa….

P_20170922_050501-600x1067

4. Mempersiapkan supporting items untuk kemasan popcorn. Beli plastik bening ukuran 2 kg, pita kawat untuk pengikat plastik, dan selotip. Lalu untuk display popcorn, menggunakan container kecil yang bisa mendisplay enam popcorn. Containernya gak lupa ditempel stiker brandingnya.

P_20170921_153003-800x450

 
P_20170921_213706-600x1067

5. Menyiapkan 4 plastik jagung popcorn dan 4 sachet besar mentega. Yang terpakai cuma 3 plastik jagungnya.

P_20170920_202931-800x450

saya pake mentega sachet isi ulang. Kemasan Blueband di sini cuma contoh untuk ngeliatin bahan-bahan apa aja yang dipakai buat bikin popcorn

6. Memasak popcorn di malam hari. Starting jam 19.00 WIB dan kelar jam 23.00 WIB. What? Kok bisa segitu lamanya? Ya iyalaaaah….saya masaknya pake panci teflon standar, dan popcorn itu saya googling, gak bisa masak langsung banyak. Dengan ukuran panci kecil kayak gitu setiap kali masak cuma bisa ngisi satu packaging popcorn. Jadi saya 25 kali memasak sampe kaki saya gempor pengen copot. Ya Allah…..demi anak yee booo…..

P_20170922_045032-800x450

 
7. Mengajarkan anak tentang harga dan kembalian uang. Jadi misalnya ada yang beli satu tapi ngasih uangnya Rp10,000 berarti Alun mesti ngembaliin Rp5,000 dan seterusnya.

Di hari H, dengan diantar ibu dan bapaknya naik motor, Alun ke sekolah dan siap berjualan popcorn. Serah terima semua items buat jualan ke walikelasnya, dan sisanya tinggal berdoa agar popcornnya laris.

Kemudian di hari itu mulai pagi sampe menjelang siang saya mantengin WA grup kelas sambil harap-harap cemas. Foto-foto kiriman walikelas tentang yang berjualan membuat saya deg-degan. Duh ternyata Alun gak mau pake topinya, karena teman-teman lainnya dia liat pada enggak pake. Yah gak papalah.

PicsArt_09-22-12.18.41_wm

Sampai akhirnya di jam pulang walikelas mengirimkan pesan bahwa hari ini kelas Alun sukses laris manis menjual aneka dagangan. Yang bertugas jualan hanya 4 anak. Empat-empatnya dagangannya laris. Alhamdulilah. Lega saya.

Begitu anaknya nyampe rumah, saya langsung video call dari kantor. Kata Alun yang beli macam-macam, ada anak dari kelas 3, anak kelas 1, dan teman-teman sekelasnya sendiri. Yang lebih bikin bahagia, pas bapak Alun cerita: waktu bapak jemput, beberapa ibu-ibu memuji display dan niatnya Alun dalam membranding jualan. Karena rata-rata yang lain biasa aja. Trus di grup WA kelas, ada ibu-ibu temannya Alun bilang kalau anaknya kehabisan popcorn Alun, kalah cepat dia sama pembeli lain. Akhirnya gak kebagian deh.

Sekali lagi karena jualan ini emang buat partisipasi di Market Day aja, jadi bukan dagang buat nyari untung banget. Bahkan kalau mau dihitung, seluruh total pengeluaran yang sudah kami habiskan mulai dari bikin material design, beli bahan popcornnya, dan lain-lain ….bisa 3x lipat habisnya dibanding hasil penjualan itu sendiri. Gak papa…sekali lagi yang penting anak-anak senang, anak-anak belajar menjadi pedagang, dan bergembira di hari tersebut.

Rasanya semua capek terbayar sudah dengan ludesnya popcorn Alun. Pelajaran utama adalah kerjasama tim, mulai dari proses riset sampai produksi dan delivery popcorn ke sekolah. Kalau ditanya pengen lagi gak jualan, asli masih mikir-mikir dulu. Ternyata capek ye boook dagang itu hahahaha……

Itulah postingan hari ini. Menutup minggu ini dengan sebuah cerita ceria yang semoga bisa menginspirasi.

Have a nice weekend temans 🙂
signature

 

Advertisements

13 thoughts on “Popcorn yang Laris di Market Day

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s