(masih tentang) Jalan-jalan Malam Di Ancol

Malam minggu kemarin, kami sekeluarga lagi-lagi pergi ke Ancol. Dibilang “lagi-lagi” karena memang sudah beberapa kali menghabiskan malam minggu di sana. Dan di dalam Ancol pun kami cuma main-main di pinggir pantai sambil liat-liat aja. Gak ada special plan tiap kali ke sana. Justru yang dimaksud special plan mungkin adalah membawa anak-anak main di taman pinggir pantai yang dipenuhi aneka alat fitness seperti cerita saya di sini.

Iya, anak-anak memang suka main di aneka alat fitness itu, karena ya permainan gratis di pinggir pantai kalo gak ayunan ya alat-alat ini. Ahahahaha nyarinya gratisan melulu yeeee.  Maklum, emak-emak medit jaman now ya begini.
Ya lagian, kami selalu masuk ke Ancol malam mingguan itu di atas jam 20.30 WIB. Wahana-wahana di dalamnya kan udin tutup pastinya. Mulai dari Atlantis, Dufan sampe Sea World #NgelesSangatMaksimal.

Nah, jika biasanya kami langsung ke area alat fitness, maka kali ini pak suami iseng ngajak berkunjung ke Pasar Seni.

P_20171202_210222_LL-800x450

Sejujurnya kalo nyebut Pasar Seni saya suka rada miris sendiri. Kenapa? Karena sejak saya kecil dan sampe setua bangka gini berkunjung ke Ancol, Pasar Seni ini adalah area yang paling sepi poll pengunjungnya. Iya…kalo udah menyangkut seni budaya mah rata-rata orang kita enggak seberapa tertarik ya. Termasuk saya, yang enggak paham nilai seni saban ngeliat sebuah lukisan atau sebuah patung sekalipun.
Dan itulah pemandangan yang sama yang saya lihat kemarin. Stand-stand lukisan, patung, tembikar dan aneka kerajinan super sepi dari pengunjung. Entah karena hari sudah malam, atau alasan lain. Yang rame apanya? Yang rame adalah aneka stand jajanan/kulineran di pintu masuk Pasar Seni. Bahkan band yang menghibur pengunjung dengan lagu yang asik-asik pun tetap sepi pengunjung. Eh padahal pas kami ke sana, bandnya lumayan euy. Mereka mainin lagunya Muse yang Hysteria dengan buagus (vokalisnya suaranya top menurut saya mah), dan deretan lagu top fourty Indonesia. Dan tetep yang nonton sepi.
Akhirnya ya kami cuma bawa anak-anak keliling-keliling ke spot-spot yang mungkin menarik perhatian mereka.
Inilah spot-spot tersebut:

1. Lampion, payung dan lampu gantung. Ini menghiasi jalan-jalan di seputaran Pasar Seni.

P_20171202_213209_LL-800x450

P_20171202_212155-600x800

anak kecil itu bingung, apakah emaknya sehat? apakah emaknya sudah minum obat siang tadi?

P_20171202_212511-800x600

2. Berfoto di lukisan sayap di dinding.

P_20171202_212808-800x600

3. Berfoto di patung singa dan kuda

P_20171202_211117_LL-800x450

P_20171202_211701-800x600

P_20171202_211151_LL-800x450

Selesai muter di Pasar Seni, kami lanjut ke alat fitness. Anak-anak kegirangan, apalagi tiap ke sini walau tengah malam, masih banyak keluarga-keluarga yang sama seperti kami, full team, datang dan bermain. Waktu sudah mau menunjukkan pukul 00.00, dan anak-anak tersebut masih fully charged euy baterenya. Seperti biasa, anak lanang langsung klik dengan teman sebaya yang baru dia ketemu di situ. Langsung ajak main bareng dan kenalan.

P_20171202_225753_LL-600x1067

Langsung akrab sama anak lain

Sayang sekali, alat-alat fitness ini mulai mengalami kerusakan. Yang Alun naiki itu pedal injakan kakinya sudah gak ada, tinggal besi penahannya saja. Demikian pula alat lain, ada yang sudah kendor bautnya.

P_20171202_233110_NT-800x600

pedal alat ini sudah lepas

Setelah main di sini, kami muter pakai mobil keliling Ancol. Sampai ujung yaitu Ancol Beach City Mall, lalu muter lagi ke arah keluar. Nah ketika melewati kuburan Ereveld, pas jam 00.00 WIB. Ada dentang lonceng sebanyak 12 kali dari dalam kuburan. Saya rasa memang ada penjaga yang sengaja membunyikan lonceng setiap jam. Atau jam menggunakan tenaga baterai/mesin ya? Saya kurang tau, tapi yang pasti kami semua mendengar dentang lonceng jam itu dengan lumayan keras. Karena saat keliling Ancol kaca mobil kami buka, jadi dentang lonceng benar-benar terdengar jelas banget.

Pas mau ke arah pintu keluar, di bunderan utama Ancol kami menjumpai ornamen-ornamen yang diberi lampu sehingga menjadi objek foto yang menarik bagi pengunjung. Tak ketinggalan kami pun foto-foto di situ.

P_20171203_002258_LL-600x1067

 

P_20171203_002609_LL-600x1067

P_20171203_001452_LL-800x450

Kami keluar dari Ancol sekitar pukul 00.30 WIB. Anak-anak udah pada teler, tidur dalam mobil. Tapi karena malam minggu jadi gak ada yang perlu dikuatirkan hehe.

Oh ya, saya masih penasaran dengan dentang lonceng Ereveld itu. Adakah yang pernah mengalaminya? Yuk berbagi cerita di komen 🙂
signature

Advertisements

16 thoughts on “(masih tentang) Jalan-jalan Malam Di Ancol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s