Yang Tersisa Dari Gempa 23 Januari 2018

Tanggal 23 Januari 2018. Hari yang seharusnya hepi-hepi. Emaknya cuti, khusus buat anterin Lintang fieldtrip ke Kidzania. Lokasi Kidzania sendiri seperti yang semua tau, di lantai 6 mal Pacific Place di kawasan SCBD.

Bangun subuh, anaknya gak cranky karena tau hari ini mau senang-senang sama semua temannya. Jam 06.30 WIB bis rombongan menempuh kemacetan Jakarta, dan sampai di Kidzania jam 08.55 WIB kurang.

Di dalam langsung main-main. Jadi pembersih kaca gedung, tukang semir sepatu, dandan-dandanan di salon, jadi dokter gigi, dibacakan dongeng, jadi petugas SPBU, cek kesehatan, naik bis BlueBird keliling-keliling. Serunya. Makan siang pake ayam goreng tepung kesukaannya.

Sampai ketakutan itu tiba. Awalnya saya merasa ada gerakan tumbukan vertikal. Persis dan mirip kalo kita lagi ada di pinggir jalan dan ada banyak truk container gandeng gede-gede lewat ngebut di jalanan. Rasanya seperti itu gerakannya. Tanah yang dipijak berasa bergerak vertikal. Ditambah di dalam Kidzania seliweran mobil pemadam kebakaran, mobil taxi dan bis kecil. Jadi saya mikirnya…oh gerakan ini berasal dari mobil-mobil itu.

Gerakan vertikal selesai, datanglah gempa yang cukup menakutkan itu. Oleng sekali rasanya tubuh ini. Lalu berserulah saya ke ibu guru dan orang tua murid lainnya bahwa ini gempa. Karena panik, Lintang yang tengah asyik jadi petugas SPBU saya suruh cepat-cepat keluar area permainan, melepas baju petugas SPBU. Ibu guru terus mengucap doa sambil berpegangan pada pagar pembatas area permainan SPBU.

Gempa selesai. Lupa menghitung berapa detik. Sudah terlalu panik. Kami ini di lantai 6.

Menit selanjutnya yang terjadi adalah ketakutan hampir semua pengunjung. Kemarin itu rombongan sekolah Lintang saja sudah 150-an orang. Di saat yang bersamaan dengan rombongan kami, ada 7 sekolah TK dan SD lainnya yang bermain di Kidzania. Let’s say per sekolah ada 100-an orang. Berarti hampir 800 orang pengunjung dalam Kidzania saat itu. Hanya kurang lebih saja ya ini.

Karena kami ketakutan, maka semua orang tua, guru dan anak-anak yang kami gandeng berjalan menuju ke pintu keluar. Berdesak-desakan. Semua ingin buru-buru segera keluar dari gedung. Baru kali itu saya merasakan desak-desakan dalam kepanikan. Anak-anak ada yang menangis, karena terjepit-jepit antara orang tua dan pengunjung lain. Desak-desakan ini karena pintu keluar Kidzania yang kami tau memang hanya satu. Dan itupun…..kami diharuskan mencopot gelang terlebih dulu saat keluar. Sudah tentu keluar pun tidak bisa lancar, karena harus spend beberapa detik untuk mencopot gelang di petugas.
Oiya, untuk yang belum mengetahui tentang gelang, jadi begini: tiap pengunjung yang masuk area Kidzania wajib memakai gelang seperti pada gambar di bawah ini. Fungsi gelang adalah sebagai penanda bagi tiap orang. Setiap kali masuk satu area permainan, maka gelang pengunjung akan discan dan data langsung diinput dalam komputer. Jadi mungkin semacam alat hitung juga, berapa banyak pengunjung yang masuk di satu area permainan selama satu hari. Ketika keluar pintu masuk, gelang wajib dilepas dengan alat khusus, dan jika tidak maka metal detector gate akan berbunyi.

gelan-1 (ok) (sumber-rhymeecartel.blogspot.com)

Gambar dari kelana-tambora.blogspot.co.id

Karena baru pertama kali mengalami keadaan seperti itu, cukup shock juga. Petugas Kidzania terus menerus menenangkan kami sembari mencopot gelang. Bagaimana bisa tenang? Ini gempa, force majeure. Dan tidak ada satupun yang tau apakah akan ada gempa susulan atau tidak. Itulah sebabnya kami berdesak-desakan berusaha menjadi yang paling dulu bisa keluar dari area itu. Sudah gak peduli sama antrian.

Selesai gelang dicopot akhirnya rombongan buru-buru keluar gedung menggunakan eskalator. Harusnya tidak boleh memakai eskalator kalau kondisi gempa. Tetapi kami bismillah saja. Sampai di luar gedung, manusia sudah menyemut memenuhi seluruh area jalanan seputaran SCBD. Videonya saya share di instagram saya. Semua pekerja di gedung kantoran dievakuasi. Suasana lumayan crowded.

Berdiri di area depan lobby Pacific Place juga sebetulnya belum tentu 100% aman karena masih dekat dengan gedung dan atap lobby. Kami lalu diarahkan petugas ke jalanan mobil samping lobby yang sudah ditutup, dan dikhususkan untuk evakuasi manusia. Di situ otomatis lebih terbuka dan aman. Sebagian anak-anak yang sudah kecapean bermain dari pagi di Kidzania akhirnya tertidur di pangkuan ibu masing-masing sembari menunggu bis rombongan menjemput kami semua.

Ada dua points yang pengen saya highlight:

1. Ketika kami turun eskalator, mata saya jelalatan ke seluruh penjuru lantai dan saya melihat masih banyak orang yang begitu tenangnya tetap nongki-nongki cantik di cafe-cafe, chit chat dan tertawa tertiwi bersama rekan-rekannya. Ada pula yang asik keluar masuk outlet-outlet untuk sekedar belanja. Seperti tidak ada kejadian apapun. Sementara kami semua bergegas menyelamatkan diri, karena khawatir ada gempa susulan atau apapun yang buruk yang akan terjadi, mereka terlihat begitu tenang. Mungkin karena merasa gempanya sudah lewat ya. Entahlah……. tapi deep down inside my heart saya speechless.

2. Bicara tentang risk management sebuah tempat wisata tentang kondisi force majeure. Saya yakin dan percaya bahwa semua tempat umum, baik itu gedung, mal, tempat wisata, punya standar operasional prosedur tentang menghadapi bencana alam. Harapan saya sebagai konsumen, alangkah baiknya jika tempat sekelas Kidzania memberikan briefing singkat ke setiap konsumen yang masuk, mengenai prosedur keamanan ketika terjadi bencana alam. Jika briefing dirasa terlalu lama, mungkin bisa diberikan dalam bentuk flyer yang wajib dibaca tiap pengunjung misalnya. Keluar berdesak-desakan dari satu pintu keluar seperti kemarin, cukup membuat kepanikan semua pengunjung apalagi yang awam seperti saya, bertambah. Kami semua tidak ada yang tau apakah mungkin di situ ada tangga darurat yang bisa digunakan untuk menyelamatkan diri dan mengurangi keluarnya semua orang hanya dari satu pintu yang sama.

disaster-clipart-emergency-preparedness-20

Gambar dari moziru.com

Saya teringat pernah menghadiri sebuah acara talk show di salah satu gedung bernama D-Labs. Waktu itu sesudah MC membuka acara, perwakilan building management maju ke depan, memperkenalkan diri, dan langsung menjelaskan mana area pintu masuk, keluar, dan apa yang harus kami lakukan ketika terjadi keadaan darurat, terutama menunjukkan di mana lokasi tangga darurat. Padahal gedung itu hanya gedung kecil.

Lalu saya juga teringat bagaimana lifeguard di kolam renang Senayan, tempat yang dulu sering kami kunjungi untuk sekedar berenang dan berkumpul bersama teman-teman klub scuba divingnya pak suami, meniup peluit dan menghalau semua orang yang masih saja berenang ketika hujan begitu deras dan kilat silih berganti menyambar-nyambar. Masih terngiang teriakan sang lifeguard kurang lebih 5 tahun lalu “Naik…naik! Semua naik, tidak ada yang boleh berenang!” Ia menjalankan prosedur standar keselamatan untuk meminimalkan risiko jatuh korban akibat tersambar petir.

Kejadian gempa kemarin, membuat saya semakin berharap di tempat manapun yang kita datangi, selalu ada briefing atau petunjuk tertulis tentang bagaimana menghadapi bencana di tempat tersebut.
Tidak hanya naik pesawat atau kapal laut saja saja yang membutuhkan briefing detail tentang how to save our lives if something wrong happen during our travel. Berada di darat pun membutuhkan prosedur yang sama pentingnya.

Alhamdulilah Allah masih menyelamatkan kami semua. Walau permainan harus terpotong dengan gempa, yang penting kami semua sore itu kembali ke keluarga masing-masing dengan tidak kekurangan suatu apapun. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran untuk kita semua ya.

Kalau kamu ada pengalaman tentang risk management sebuah tempat yang pernah dikunjungi gak?
Share di komen yuks….
signature

Advertisements

13 thoughts on “Yang Tersisa Dari Gempa 23 Januari 2018

  1. giftalvina says:

    Ya Alloh Mba, kebayang itu paniknya gimana. Mana banyak anak pula. Setuju banget soal penjelasan apa yang harus dilakukan saat keadaan darurat.

    Dan duh, sekelas Kidzania masa ngga ada SOP soal force majeur seperti ini? Atau SOPnya tetep begitu ya? Ngumpul di satu titik dan harus lepas gelang? 😲😭.

    Terpenting sih semoga dede dedenya ngga ada yang trauma ya Mba.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      halo Gifta, terima kasih sudah berkunjung ke sini ya. Mungkin ada SOP tapi entahlah saya juga kurang tau kemarin itu gimana…apa jangan2 petugas juga ada beberapa yang panik jadi gak sempat menjalankan SOP?
      Dede2nya pada gak seberapa ngeh tentang gempa, mereka taunya ya digeret2 terburu2 keluar gedung aja, dan mereka rata2 udah ngantuk (jam tidur siang). Jadi ketimbang trauma gempa, mereka fokus pengen bobok siang hehehehe….

      Like

  2. kunu says:

    Alhmdulillah klo gak papa 🙏🙏, tapi pas baca berita gempa aku jadi takut sendiri, gak bayangin lagi di suatu gedung ada gempa 😥😥
    Mbak mau tanya, karna aku ga tau dan blm pernah ke kidzania, itu gelang model gimana ya? Kok dlm kndsi darurat hrus kudu dilepas dulu? Mksih

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      makanya kunu…makanya aku bersyukur ngantor di rumahan spt kantorku yg skr, engga di gedung2 tinggi gitu. Btw postingannya udah ku update tentang gelang dan penampakannya ya. Monggo dibaca 🙂

      Like

  3. shintadaniel says:

    Di kantorku tiap akhir tahun latohan firedrill dan saat gempa kemarin otomatis semua pegawai uda tau apa yg hrs dilakukan sesuai prosedur firedrill etapiii ternyata prosedur evakuasi gempa itu beda… baru baca juga dr infographis yg dishare sesaat setelah gampe bersama meme2 gempa lainnya

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s