Cerita dari Erna (it’s about empathy)

Dua minggu lalu saya bertemu teman lama. Namanya Erna. Seperti biasa, kami ngobrol ngalor ngidul sambil nyemil-nyemil ceria. Singkat cerita dari sekian banyak cerita ngalor ngidul kami, Erna bilang kalo seminggu lalu dia datang ke acara ultah salah satu sepupunya. Ultah yang ke 41 gitu. Sepupunya ini let’s say namanya mbak Ulfa *yang bukan Dwiyanti*.

Di hari ultahnya mbak Ulfa mengundang semua om, tante, sepupu dan keponakan-keponakan dekatnya untuk datang ke rumahnya dan syukuran ultah kecil-kecilan. Itung-itung sembari silaturahmi gitu. Mbak Ulfa sendiri kedua ortunya sudah tiada. Dan beliau punya suami dan 2 anak yang sudah pada dewasa. Usia anaknya masing-masing 16 tahun dan 14 tahun, kebetulan dua-duanya cowok.

Di hari ultah tersebut, rumah mbak Ulfa rame. Banyak keponakan yang usianya masih pada SD dan SMP, ditambah ortu mereka masing-masing. Lumayan bikin repot karena urusan masak makanan dan nyiapin semua-semuanya mbak Ulfa handle sendiri, alias gak pesen ke catering dan kebetulan gak punya ART buat bantu-bantu. Oiya mbak Ulfa ini adalah seorang ibu rumah tangga.

Erna pas di acara tentunya ikutan sibuk bantu-bantu, mulai nyiapin kue-kue snack, buah, bantu-bantu nyiapin piring dan perkakas untuk acara makan-makannya. Karena yang datang kan om dan tante yang usianya lebih tua dari Erna dan Mbak Ulfa sekeluarga, jadi wajib dong kita layani sebaik mungkin sama halnya perlakuan ke orang tua kita sendiri. Apalagi om dan tante ini sudah pada sepuh semua, bahkan beberapa yang datang ada yang sudah duduk di kursi roda.

Lalu apa yang dilakukan kedua anak mbak Ulfa? Mereka asik sendiri main game di kamar masing-masing. Erna sebetulnya gemes, tapi dia liat mbak Ulfa dan suaminya sendiri gak teriak-teriak komplain atau gimana gitu ke anak-anaknya. Bahkan mbak Ulfa cuma sedikit memaksa kedua anaknya untuk keluar kamar dan salaman sama eyang-eyang yang pada datang (om dan tantenya mbak Ulfa). Sesudah itu, kedua anak tersebut juga enggak mingle sama sepupu-sepupu yang datang. Mereka memilih melipir kembali ke kamar, tenggelam dalam kesibukan via internet masing-masing.

Bahkan (lagi) setelah acara selesai, sebagian besar sepupu mbak Ulfa plus Erna membantu membereskan tempat yang berantakan habis acara. Mulai dari menggulung karpet yang dipakai buat lesehan, gotong royong membersihkan sisa sampah acara, mencuci piring, dan aneka kegiatan beres-beres lainnya. Kedua anak mbak Ulfa tetap di kamarnya, khusyuk di depan layar komputer masing-masing. Semacam gak peduli om tantenya pada gotong royong beresin rumah.

Mbak Ulfa tiba-tiba mengucap ke Erna…atau lebih tepatnya mengeluh, bahwa kedua anaknya susah nge-blend sama keluarga dan terkesan gak punya sopan santun. Hanya sebatas itu. Padahal dalam hati Erna ada rentetan pertanyaan: Kok elo cuma bisa ngeluh sih? Kok elo gak ngajarin anak-anak lo tentang menghargai orang yang datang namu ke rumah lo sih? Kok anak lo gak kasian ya liat ortunya mondar mandir sibuk beresin ini itu, ngelayanin eyang-eyang yang pada dateng? Kok anak lo kayak gak punya rasa empati?ย 

Saya pas ngedenger cerita dari Erna agak-agak nganga. Ya Allah, itu anak-anak kan usianya udah pada dewasa ya. Lain halnya kalo masih bocah banget misalnya baru usia 5 tahun atau bahkan batita, wajar kalo otaknya mungkin belum sampe soal beginian. Tapi ini kan….udah remaja loh.

Nah Erna lalu melanjutkan ceritanya. Ia ngobrol lebih dalam dengan mbak Ulfa dan menurut mbak Ulfa memang sehari-harinya sejak kecil hingga mereka remaja, kedua anak ini lebih banyak dilayani sama kedua orang tuanya. Even hanya bikin segelas susu aja, terkadang mbak Ulfa turun tangan, si anak tinggal minum dengan kondisi usia mereka udah segede gini ya.

Dan mbak Ulfa sendiri mengakui ia menyenangi aktivitas memanjakan keluarganya seperti itu. Jarang ia malah seperti keluarga lain yang ketika sang anak remaja minta dibuatkan segelas susu atau teh, malah balik ditegur keras : bikin sendiri dong, kan sudah besar masa masih mama yang ngurus juga?

Pun ketika anak-anak remajanya lebih banyak berada dalam kamar ketika keluarga besar sebagian besar hadir di rumah mereka, mbak Ulfa dan suami gak marah besar kepada keduanya. Menurut Erna, setelah semua tamu plang keduanya hanya diajak ngobrol lemah lembut dan hasilnya ya nihil alias anak-anak tersebut dengan gaya khas remaja cuma ngeles dan lebih ngerasa pertemuan-pertemuan kayak gituan cuma punyanya orang tua-tua aja.

Saya pas Erna khatam bercerita langsung berdoa dalam hati : Ya Allah Ya Rabb…jalan saya masih panjang, anak saya masih kecil-kecil. Berilah kekuatan pada saya dan suami untuk bisa terus mengajarkan ke anak-anak kami makna menghargai, empati dan kasih sayang terhadap keluarga. Sudah cukup contoh seperti anak mbak Ulfa, semoga anak-anakku dijauhkan dari perilaku seperti anak mbak Ulfa ya Allah. Aamiin….

Dua hal yang saya tangkap dari cerita Erna: soal pola asuh yang mungkin kurang tepat dan sosok seorang mbak Ulfa yang menyalurkan dan mendedikasikan energinya sebagai seorang ibu rumah tangga untuk menyayangi semua anggota keluarga intinya. Sudahlah saya gak mau ngyinggung ada third party bernama internet yang bisa bikin siapapun jadi gak peduli sama apapun di sekelilingnya. Karena sejatinya internet ini kan cuma sarana, benda mati yang tergantung sama manusia sebagai pengguna utamanya. Kalo digunakan dengan bijak ya hasilnya bisa bagus dan positif, demikian pula sebaliknya.

Mbak Ulfa gak jualan online, gak ngantor juga kayak ibu-ibu lainnya di luar sana. Aktivitas, energi dan hidupnya setiap hari dengan tulus ia dedikasikan hanya untuk mengurus suami dan anak-anaknya. Namun mungkin mbak Ulfa missed, bahwa sesayang-sayangnya kepada anak, kita gak boleh terlena dan berakibat anak menjadi tidak mandiri, tidak dewasa, dan memiliki perilaku yang hilang empati. Karena sudah terlalu sering dilayani dalam hal apapun, kedua anak remaja ini merasa lempeng aja kalo gak bantuin mama papanya sekedar nyapu dan nyuci piring sehabis acara. Mereka merasa itu bukan tugas mereka, toh selama ini mama kok yang ngerjain di rumah? Lalu hal lain adalah hilangnya rasa hormat dan menghargai orang lain. Ini juga imbas dari pola asuh serba dibolehkan/permisif serba dilayani. Mbak Ulfa gak marah anak-anaknya berlaku kurang sopan terhadap tamu, boleh jadi anak-anaknya menganggap “ya udah, mama gak marah berarti boleh-boleh aja dong gue gak beramah tamah sama eyang-eyang dan sepupu-sepupu gue.”

Saya nulis ini cuma berdasarkan pengamatan pribadi ya, gak pake ilmu psikologi blas, hehe. Maklum, masih miskin ilmu. Intinya cerita dari Erna ini bisa jadi sarana pembelajaran buat semua keluarga yang memiliki anak. Yuk sama-sama kita didik anak kita untuk menjadi anak yang rendah hati, berjiwa sosial tinggi dan terutama memiliki rasa empati.

Karena sejatinya kita dilahirkan ke dunia ini bukan untuk hidup sendiri dan seenak hati. Tetapi untuk saling menyayangi dan terus memupuk tali silaturahmi.

Mohon maaf jika postingan ini kurang berkenan ๐Ÿ™‚
signature

Advertisements

15 thoughts on “Cerita dari Erna (it’s about empathy)

  1. kunu says:

    Klo ngomongin soal didik mendidik bisa panjang ya mbak, terkadang juga salah dikit akibatnya panjang, pdahal juga niatnya baik kan kasih cinta dan semua energi yg dipunya..
    Entahlah… doaku semoga diberikan yg terbaik untuk kita semua ๐Ÿ˜Š

    Liked by 1 person

  2. sinyonyanyablak says:

    Aku juga punya tuh sodara ky gitu yg susah lepas dr gadget, tapi mungkin krn sodara aku cowok jd ga dibiarin sama ibunya bantu2 kerjaan rumah, untungnya tu anak pinter&juara terus di sekolah. Cuma ya emang dy jd susah bersosialisasi sama orang lain, bahkan keluarga.

    Liked by 1 person

  3. Seaใƒž says:

    model parenting helikopter ya….kalau menurutku sih yang kasian nanti istri2 para anak laki2 itu (kalau mereka tdk sadar2 untuk mandiri)….nanti pasti akan menuntut pelayanan yang sama seperti dulu mereka dilayani ibunya…

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      iya mbak dan rada keterlaluan kalau menurutku. Mungkin karena selama ini helicopter parenting yang kuliat lebih kepada ortu jadi shield buat anak pas anak kena masalah entah di sekolah, di lingkungan rumah dll. sementara ini? Bikin minum aja mesti nyokapnya euy…huhuhuhu
      Ah iya, efek jangka panjangnya bisa jadi seperti itu ya jika mereka punya istri nanti

      Like

  4. Crossing Borders says:

    Spoiled brats kata suamiku mah.. Anak-anak yg (sengaja atau tidak sengaja) dimanja.. Di keluarga suami ada juga yg kayak gini, anak cowok 3 orang pula dalam 1 keluarga. Makanya dia hati-hati banget dalam mendidik Bear, tetap sayang tanpa memanjakan. Demi masa depan si anak sendiri..

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      oh ya? Kukira model begini cuma terjadi di negara kita Emm, ternyata di luar negeri pun ada yang seperti ini ya? Hmmm….
      Yuk kita sama2 berdoa dan berusaha supaya anak kita nanti besarnya mandiri

      Like

      • Crossing Borders says:

        Yuk mari..๐Ÿ˜„
        Keluarga yg aku ceritakan ini beda versi sih, misalnya kalo si anak gak mau mandi atau cukur selama berminggu-minggu ya dibiarin aja (2 anaknya udah remaja), atau anaknya merusak barang-barang (sengaja/tdk sengaja, di rumah sendiri/di rumah orang lain) dibiarin aja, anaknya saat makan gak mau pake aturan table manner dibiarin aja.. Alasan ortunya cuma satu: โ€œnamanya juga anak cowokโ€, gitu katanya..๐Ÿ˜ฌ

        Liked by 1 person

  5. denaldd says:

    Aku baca cerita ini kok kayak dejavu ya. Pernah mengalami juga dikeluarga besar, tapi kok dari tadi mengingat2 pas kejadian kapan, ga ingat. Lupa haha. Tapi beberapa kali pernah mengalami.
    Mbak Imelda boleh saran kah? Tentang penggunaan kata Autis, bisakah diganti dengan kata yang lain Mbak? Lebih nyaman dibacanya karena Autis itu kan suatu keadaan yg khusus, bukan ditujukan kepada orang yang tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

    Liked by 1 person

  6. inlycampbell says:

    Gua belum jadi orangtua, tapi kadang emang gemes lihat anak2 kayak gitu. 6 tahun lalu, pernah bantuin temen urusin kumpul keluarga besar di Bali. Ada 2 keponakan dia yang kalau ngomong kudu bahasa inggris lho.. Mereka ngerti bahasa indonesia padahal. Katanya kalau diajakin ngobrol bahasa indonesia sama org, gak perlu ditanggepin.. Busyet banget dehh..

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s