Anak Ikut Les Renang, Yay or Nay?

Sudah satu setengah bulan ini Alun ikut les berenang di sekolahnya. Yang jadi guru lesnya adalah guru olahraganya sendiri. Kegiatannya dilakukan setiap Kamis di kolam renang dekat rumah. Satu sesi les diikuti oleh 4 anak. Bisa sih daftar yang private cuma biayanya ya lumayan besar juga hehe.

Pak suami bilang sebetulnya dia agak 50:50 Alun ikutan les renang. Karena tiap pertemuan cuma 1 jam, guru harus ajar 4 anak, dan setiap bulan ortu harus membayar biaya Rp250,000 itu di luar bayar karcis masuk kolam renang ya. Buat pak suami rada gak efektif. Dalam satu jam tiap anak bisa dapat apaan? Sampe berapa kali pertemuan nih anak bakal bisa beneran renang lha wong saban pertemuan waktunya singkat banget plus belajarnya kan bertahap banget dari nol, dari cara ambil nafas gitu sampai nanti at the end dia mahir berenang 4 gaya.
Pak suami bilang kalo sebetulnya dia bisa kok ngajarin anaknya renang, ya karena pada dasarnya pak suami emang bisa renang. Lalu buat apa masih ambil les juga?

Exhale inhale dulu lah cuy…biar gak sesek nafas kita haha…. Berenang itu sendiri memiliki begitu banyak manfaat. Nah di sini saya hanya ingin menekankan pada “les renang” itu sendiri.Β  Yuks lah mendingan langsung kita bedah ((BEDAH)) plus minus dari mengikutsertakan anak pada les renang ini, biar gak berpanjang lebar:

PLUS
1. Anak lebih bersemangat untuk selalu hadir saban les, karena di situ juga ada teman-teman sekelasnya. Anak saya kebetulan emang tipe yang senang banget kalo udah main di luar atau ke rumah teman-temannya. Dia rada gak betah kalo cuma diam di rumah tiap hari (kecuali kalo keadaan terpaksa yaitu hari sekolah, di mana saya dan pak suami mengharuskan dia stay at home mulai dari pulang sekolah sampai akhirnya kami berdua pulang dari kantor. Alias kalo main ya dalam rumah aja, ga ke mana-mana)
Dengan les renang bersama teman begini otomatis dia selalu gembira dan selalu gak mau absen hadir. Suka misuh-misuh kalo misalnya cuaca gak bersahabat dan les renang dibatalkan oleh gurunya sendiri by WA. Hahahaha…..

2. Anak jadi punya jiwa kompetitif. Dengan berenang bersama-sama gini, sedikit banyak dia akan punya perasaan harus bisa lebih baik dibanding temannya. Namanya pun anak-anak, kalau mereka bisa lebih jago ketimbang temannya dalam hal apapun, kan rasanya udah kayak raja apaan tau, hehehehe….. Nah hal ini menurut saya bagus banget untuk memicu semangatnya biar lebih giat berusaha supaya menjadi yang terbaik di antara temannya. Eits enggak memaksa ya, hanya berharap. Sisanya ya serahkan kepada kemampuan anaknya dong.

3. Anak lebih disiplin :

disiplin tentang kehadiran. Karena guru lesnya orang lain, bukan bapaknya sendiri, jadi lebih disiplin. Kalau Kamis harus les renang ya les, gak pake males-malesan. Ditambah lagi karena les ini berbayar, giliran emaknya yang ikut-ikutan mendisiplinkan anak wajib datang kecuali bener-bener ada keadaan gawat darurat yang membuatnya harus absen. Duit cyiiiin…lah lu kate tu duit metik doangan di po’on? Rugi pan udah bayar bulanan trus masih pake acara males dateng juga?

disiplin untuk patuh pada perintah guru les. Jika belum giliran Alun dan dia diminta menunggu di pinggir kolam, maka ia harus patuh, supaya guru bisa fokus sebentar mengajar anak yang lain. Coba bayangin kalo langsung dilatih pak suami. Waduh boro-boro bisa patuh, yang ada anak malah bertindak suka-suka hahahahaha…..

disiplin untuk tepat waktu. Berhubung lesnya terbatas cuma satu jam, maka Alun selalu mengusahakan datang on time, agar tidak banyak waktu yang terbuang percuma. Bandingkan jika belajar renangnya sama bapak sendiri. Ngaret pun bisa dianggap biasa aja.

IMG-20180111-WA0002-800x450

4.
Rasa malu lebih meningkat
.
Malu kalau ditegur guru di depan teman-temannya, karena gak disiplin (kalo yang ngajar renang bapaknya boro-boro deh hehe….). Malu kalau gak bisa mandi sendiri. Ini biasanya untuk anak yang usianya lebih kecil ya, seperti anak saya misalnya. Selesai berenang dan giliran semuanya membersihkan diri, mau tidak mau dia akan jaim di depan teman-temannya dengan menunjukkan bahwa ia sudah besar dan sanggup mandi sendiri (padahal di rumah atau di kolam renang pas renang bareng bapak ibunya, biasanya masih minta dimandiin). Dengan adanya rasa malu, anak akan lebih terpicu untuk lebih mandiri.

MINUS
1. Durasi terbatas.
Les renang pada umumnya memang dibatasi hanya satu atau dua jam. Kebetulan Alun ini hanya satu jam. Makanya pak suami suka ngerasa kurang banget kalo saban pertemuan hanya satu jam karena gak maksimal banget untuk 4 anak sekaligus diajar dalam 1 jam pertemuan.

2. Mengeluarkan biaya.
Kalau belajar sama bapak sendiri kan paling cuma bayar masuk kolam renangnya aja, selebihnya free πŸ™‚

3. Les diadakan di hari sekolah.
Ini yang agak pe-er. Karena saya dan bapaknya bekerja, walau bapaknya lebih fleksibel dalam hal waktu (karena kantornya punya sendiri). Kalau les dilakukan hari libur sudah tentu saya bisa ikutan mendampingi anak.

4. Pendamping wajib fokus pada anak masing-masing.
Lho kan ada gurunya, kenapa kita yang cuma nungguin wajib ngawasin juga? Guru les itu harus menghandle 4 anak bergantian. Ketika dia fokus pada 1 anak, otomatis anak lain tidak berada dalam jangkauan perhatiannya. Sehingga pendamping sebaiknya mengawasi anaknya, supaya tidak terjadi insiden yang tidak diinginkan. Ingat ini di kolam renang yang risiko utamanya adalah tenggelam. Dua minggu lalu sempat ada kejadian anak dalam kelompok les renangnya Alun tiba-tiba udah berduaan aja rada ke tengah kolam walau bermodal pelampung mereka sendiri. Berbahaya bukan? Nah, hal ini terjadi karena guru sedang fokus mengajari anak yang lain.
Lain cerita kalo les privat ya (ah jangan dibahas di sinilah, biayanya lebih mahal soalnya *meditDetected*)
Kalau yang ngajarin langsung bapaknya Alun sudah tentu hal ini tidak akan terjadi karena yang diajari ya cuma satu orang saja, tidak perlu berbagi fokus ke yang lain.

Wah ternyata setelah dibahas, pointnya sama-sama empat. “Plus”nya empat, “minus”nya pun sama. Jadi yay or nay nih mengikutsertakan anak pada les renang? Kalau saya sih terserah mas AnangΒ  yay…. karena alhamdulilah yang minus-minus masih bisa kehandle kok.
“Plus” yang empat point itu buat saya sangat penting untuk perkembangan anak even dia berada di luar situasi les renang sekalipun. Harapan ortunya kan, empat point yang ia pelajari dan dapatkan di les renang, juga bisa diterapkan di luar kondisi les alias dalam menghadapi kehidupan sehari-hari.
Kalau kalian tim yay or nay? Yuk share di kolom komen?
signature

Advertisements

16 thoughts on “Anak Ikut Les Renang, Yay or Nay?

  1. denaldd says:

    Kalau di Belanda, bisa berenang itu adalah kewajiban. Ya bagaimana tidak, negaranya terletak dibawah laut gini. Jadi anak usia sekolah awal, sudah mulai wajib renang di sekolah (maksudnya dari sekolah diwajibkan). Dan renang pun bukan sekedar renang, harus lulus tes juga sampai diploma C kalo ga salah. Kelas bayi pun ada di sini. Bisa dimulai dari umur 6 bulan. Ini pun bukan buat gaya2an, tapi buat perkenalan awal ke anak sebelum nanti terjun beneran ke kelas renang yang sesungguhnya. Oh iya, usia sekolah di sini mulai umur 4 tahun. Nah, Indonesia kan negara kepulauan ya di mana banyak banget pantai, laut atau bahkan sungai. Kenapa ga dijadikan wajib juga ya renang di Indonesia. Kan lebih butuhnya. Aku bisa renang, tapi ya cuma level ngambang dan putar bolak balik gaya punggung dengan suka2ku sendiri ngaturnya hahaha. Rencananya tahun depan aku pengen ambil les renang trus diploma renang juga.

    Liked by 1 person

  2. gabriella says:

    Aku sih pilih les. Karena kl sama bapaknya si bocah banyak nawar. Akibatnya gak bisa2. Pas udah bisa satu gaya kupindahin lesnya dari privat ke klub renang. Biar lebih muraaah dan ternyata anaknya suka karena banyak teman dan seru kalau latihan ada lomba2annya.

    Liked by 1 person

  3. Monika Oktora says:

    yay dong mbak, penting bisa berenang itu dari kecil. Asal biayanya masuk akal dan anaknya juga seneng. Kalau yg ngajarin bisa ortunya kadang suka gak fokus haha

    Liked by 1 person

  4. Audrie says:

    Postinganmu ini bermanfaat bgt 😊. Bisa dibilang aku setuju dengan poin2 plusnya, dan kalo dilihat poin minusnya pun bukan yang merugikan gimana gitu, lebih kepada penyeimbang aja (mana ada sih segala sesuatu yg cuma memiliki sisi plus, pasti ada sisi minusnya juga)

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s