Belajar Positive Thinking dari Wiyung dan Magelang

Beberapa waktu lalu, di awal Januari 2018, kita mendengar dan membaca di media tentang berita sepasang lansia yang ditemukan sudah meninggal dalam kondisi mengenaskan di Magelang-Jawa Tengah. 
Belum lama peristiwa itu terjadi, tiba-tiba kita dikejutkan dengan berita yang mirip, yaitu seorang lansia meninggal sendirian di kost-kostan di Wiyung, Surabaya .

Lalu hampir semua pembaca pun mungkin berkomentar sama: duh itu anaknya gimana sih? Kok gak merawat ortunya, sampai harus berakhir mengenaskan kayak gitu?
Iya sama, saya juga langsung ngebatin seperti itu kok. Intinya ya nyalahin keluarga dan anak-anaknya, seolah-olah mereka bener-bener dinobatkan sebagai oknum utama penyebab kematian sang orang tua.

Tapi apa iya seperti itu kondisi yang sebetulnya terjadi di lapangan? Kita ini cuma orang di luar keluarga mereka, yang cuma tau dari modal mbaca berita dan sosmed doang. Kita gak pernah tau jeroannya keluarga mereka seperti apa.

Baca juga: Two is Better Than One

Alih-alih terus menjudge anak-anaknya, coba kita tarik nafas dulu dan berusaha positive thinking atas apa yang terjadi. Lepaskanlah dulu cap anak durhaka, anak gak tau diri, etc dll kepada anak-anak mereka. Bisa saja, kondisi semacam penelantaran lansia di masa tuanya terjadi karena dua faktor:

1. Orang tua keukeuh tidak mau merepotkan anak.
Real storiesnya banyak saya temui sehari-hari, even dalam keluarga saya sendiri meskipun tergolong keluarga jauh. Jadi, ada orang tua yang keukeuh memilih tidak mau merepotkan anak-anaknya. Inginnya semua anaknya hidup berbahagia bersama suami/istri dan anak masing-masing, tanpa perlu dibebani sama kehadiran orang tuanya yang sudah lansia dan sudah pasti akan butuh extra care baik secara fisik maupun psikologis. Anak sudah berusaha keras memaksa agar ortu ikut tinggal bersama mereka sejak anak-anak tersebut sudah menikah, tapi ortu gak mau. Atau sebaliknya anak mengalah dengan tinggal bersama di rumah ortu, tapi ortunya malah nyuruh anak untuk keluar dari situ dan hidup mandiri bersama suami/istrinya. Imbasnya, terkadang saat sakit pun orang tua gak mau mengeluh dan meminta bantuan anak, saking gak pengen ngerepotin anak-anaknya.

2. Orang tua tidak mau pindah ke kota/lokasi rumah anak.
Ini juga kejadian di keluarga jauh saya. Sejak mulai bekerja sampai akhirnya menikah, anak-anaknya tidak bisa lagi berada di kota yang sama dengan lokasi kerja/tinggal anak. Let’s say orang tuanya tinggal di Medan, anaknya sudah berkeluarga dan mapan bekerja di Jakarta. Mau banget ngeboyong ortu ke Jakarta, apa daya yang bersangkutan menolak. Alasannya bisa bermacam-macam. Mulai dari: akan selalu rindu dengan rumah inti dan kampung halaman, sampai rasa takut meninggalkan rumah inti dalam kondisi kosong dan tidak terurus, bahkan jika rumah itu dikontrakkan ke orang lain. Namanya orang tua ya, apalagi sudah tinggal di rumah tersebut puluhan tahun, pasti ada keinginan untuk gak keluar lagi selama-lamanya dari rumah tersebut.
Nah ini jadi dilema. Karena secara realita gak semudah membalik telapak tangan tiba-tiba si anak yang sudah mapan di Jakarta yang harus banting stir pindah ke Medan. Ada banyak kok pekerjaan di Medan, pindah dong demi ortu! Iya itu kan statement yang dengan mudah bisa keluar dari mulut kita. Tapi faktanya banyak juga faktor yang mengiringi di belakang yang kita mungkin enggak tau. Misalnya: pindah ke Medan berarti ngurus kepindahan sekolah anak yang sudah pasti ribet, apalagi kalau anaknya tinggal setahun lagi mau lulus sekolah trus mesti tiba-tiba pindah.
Pindah kota sudah pasti memindahkan seluruh barang-barang yang dipunya, perkakas, termasuk kendaraan mobil dan motor ke rumah ortu. Dana pindahannya ada gak? Jeng…jeeeng…mikir lagi deh ah 🙂

Udah cuma dua aja? Sejauh ini yang saya alami berdasarkan pengalaman di lapangan baru dua ini saja. Intinya mencoba terus berpikir yang jauh dari kenyinyiran, karena sekali lagi we’re not even on their shoes. Sembari terus berdoa terutama untuk diri saya sendiri, semoga mulut dan pikiran ini selalu dihindarkan dari cepat-cepat suuzon dan menghujat jika next time membaca berita-berita tentang mirisnya nasib orang di usia lansia-nya.
Mohon maaf kalau postingannya lagi-lagi cuma berdasar pada pengalaman sendiri ya.
signature

Advertisements

2 thoughts on “Belajar Positive Thinking dari Wiyung dan Magelang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s