Talking About Their Attitude…. ah, Let It Go Ajalah

Sehari-hari kita gak luput sama yang namanya mengunjungi swalayan. Entah itu minimarket, supermarket, hypermarket, apapunlah namanya. Apalagi zaman sekarang, minimarket menjamur di mana-mana ya. Di sekitar rumah kita aja terkadang bisa ada 3 sekaligus minimarket dengan jarak berdekatan, yang akhirnya sangat memudahkan kita untuk belanja aneka kebutuhan pokok mulai dari beli beras sampe deodorant.

Salah satu hal utama yang ada dalam swalayan adalah petugas, baik kasir maupun sales assistant yang fungsinya bisa mbantu pembeli yang mungkin bingung dan mau tanya-tanya.
Banyak pengalaman seputar petugas toko ini. 

Pengalaman 1:
Di supermarket Tiptop deket rumah. Sesampainya saya di kasir yang saat itu memang sepi, pemandangan yang terlihat adalah si kasir ngobrol asik sama salah seorang sales assistant yang nongkrong deket meja si kasir. Memang kondisi pembeli di lantai 2 bagian baju-baju gitu, sepi pembeli. Mereka cuek ngobrol sementara saya/customer sudah menyodorkan barang belanjaan. Sambil terus mengetik-ngetik dan scan barang-barang saya, mbak kasir ngobrol soal rencana mereka berdua untuk jalan-jalan outing gitu, menentukan tanggal yang tepat. Kehadiran saya blas tidak menjadikan mereka sungkan samasekali. Mbak kasir bahkan tidak melihat ke mata saya, tetapi semua barang yang saya beli dengan teliti dan tepat dihitungnya. Hanya ketika keluar angka total belanjaan ia melihat ke saya sembari menyebut nominal yang harus saya bayar. Selebihnya, setelah saya menyerahkan sejumlah uang, ia kembali asik dengan temannya namun dengan cermat meyerahkan struk dan uang kembalian plus barang belanjaan saya yang sudah terbungkus rapi. Saya langsung….wow! Dan tentunya terselip sedikit kurang dihargai sebetulnya, karena di tengah-tengah melayani orang mereka malah cuek ngobrol.

Pengalaman 2:
Belanja di pasar Tebet Barat-Jakarta Selatan. Di salah satu toko pakaian saya hendak membeli celana training olahraga untuk anak. Kebetulan trainingnya digelar di box gitu. Saya pilih-pilih, sementara 3 orang sales assistant di situ asik ngobrol soal status FB salah satu teman mereka atau apalah gitu. Lalu karena pas saya gak dapat ukuran yang saya mau, saya spontan tanya : “mbak ini ada yang ukuran L gak ya yang warna biru ini?” Mereka bertiga tidak ada satupun yang menggubris saya. Terus ngobrol seolah-olah di situ gak ada pembeli. Saya gak sabar, sontak berseru dengan nada tinggi: “Halooooo…mbaaaak!”. Barulah salah satu dari mereka akhirnya menatap saya dan kemudian melayani pertanyaan saya. Agak kesal sejujurnya saat itu walaupun pada akhirnya saya beli juga kok karena ya butuh hehe.

Pengalaman 3:
Suami belanja di sebuah toko peralatan sepeda. Kebetulan memang posisi pak suami lagi ngeliat-liat barang di etalase yang letaknya sama dengan posisi kasir. Di situ ada satu sales assistant wanita ditemani 3 sales assistant pria. Mereka asik ngobrol, seperti saling adu argumen tapi dalam nada bercanda gitu. Suara yang paling toa ya yang wanita. Saya yang lagi duduk di kursi yang tersedia di toko itu sebetulnya udah rada gak respek sama mereka. Sama seperti pengalaman-pengalaman sebelumnya di mana petugas toko acuh terhadap kehadiran customer. Sampai suami akhirnya bertanya-tanya soal spesifikasi barang yang mau dibeli, barulah keempatnya berhenti ngobrol. Kirain udah beneran berhenti. Rupanya selesai suami bertanya dan diakhiri transaksi, eh si mbak mulai toa again, memulai obrolan bahkan bernyanyi lagu kesukaannya di saat suami saya lagi masukin uang kembalian ke dompetnya. Pak suami bahkan belum beranjak dari meja kasir samasekali. Hmmm….. kejadian again ya hehe.

Mungkin banyak dari kita yang mengalami pengalaman seperti yang saya tulis di atas. Tapi gak semua petugas toko seperti itu. Masih banyak pula yang sopan, ramah dan respek terhadap customer kok. Buktinya dari ratusan pengalaman sehari-hari keluar masuk minimarket swalayan dll sebagai pembeli, cuma tiga ini yang berhasil saya tulis sebagai pengalaman “spesial”.
Saya gak tahu persis bagaimana ya yang terjadi behind the scene sebelum mereka ditugaskan sebagai petugas toko. Tetapi beberapa kemungkinan yang bisa saja terjadi adalah:

1. Mungkin kurang training. saat mereka diterima menjadi pegawai, training dilakukan seadanya oleh supervisor, tanpa ada reward and punishment. Punishment itu misalnya: kalo ketauan lebih banyak abai dan bersikap seadanya apalagi ketus terhadap customer, akan di SP, atau malah diberi tindakan tegas lainnya. Hal ini akhirnya memicu petugas toko tidak memiliki rasa takut. Flat aja gitu.

2. Mungkin tidak ada waktu senggang untuk sekedar ngobrol dengan teman. Kasir yang di Tiptop itu sudah lumayan mature, mungkin sekitar 30 tahunan lah usianya. Bisa jadi sehari-hari dia hanya fokus pada urus suami, anak dan dalam waktu yang sempit juga harus segera berangkat ke toko untuk bekerja sesuai shiftnya. Belum lagi kalau misalnya di rumah dia punya usaha sampingan buat nambah-nambah bayar sekolah anaknya. Akibatnya waktunya bener-bener cuma: kerja di toko-urus keluarga-urus bisnis sampingan. Fokusnya nyari uang sama keluarga aja. Jarang ada waktu senggang dan santai untuk chit chat hepi-hepi sama teman. Jadi mungkin dengan cara ngobrol sembari ngelayanin customer dinilai menjadi salah satu solusinya.

3. Mungkin pendidikan di rumahnya kurang menekankan pada pendidikan etika, terutama etika bersosialisasi dengan orang lain. Tiap keluarga kan beda-beda ya cara mendidik anaknya. Ada yang tipikalnya cuek yang penting prtu cukup kasih makan, biaya pendidikan dan uang jajan sama anak. Ada yang tipikal helicopter parenting. Ada pula yang lebih menekankan pada akhlak dan adab yang baik sesuai agama. Macam-macamlah. Ini juga yang kita gak pernah tau ya, tapi ujung-ujungnya kita (customer) kena sedikit banyak imbasnya.

4. Mungkin kurang perhatian entah di rumah atau di lingkungan manapun ia berada. Imbasnya, sebagai person in charge di area tersebut, yang bersangkutan berupaya menunjukkan eksistensi dirinya via attitude yang ternyata buat sebagian orang malah geng to the ges a.k.a gengges. Dengan asik ngobrol, mungkin mereka berharap orang lain yang melihat bahwa mereka memang memiliki sesuatu yang maha penting, mereka terlihat keren dan lain sebagainya.
Saya pernah belanja di Alfamidi dekat kantor, dan langsung tune in apa yang terjadi, ketika mbak kasir yang masih management trainee (masih pakai seragam kemeja putih celana panjang hitam) menanggapi salah satu senior cowoknya yang sedari saya mulai ngantri kasir berdiri di sebelah dia. Awalnya saya pikir si senior ini supervisi pekerjaan si mbak baru. Rupanya, at the end si mbak baru memberi uang kembalian ke saya sembari mengucapkan terima kasih, detik berikutnya si senior yang rupanya memang tidak mempedulikan kehadiran customer apapun, berucap ke si mbak: “kalo nanti dia gak jemput, aku yang anterin kamu pulang ya.” Lalu si senior ngeloyor pergi sambil melempar senyum only to the mbak. Si mbak senyum mesem sambil bilang iya dengan nada pelan. Ahahahaha…..si senior pedekate ke mbak baru yang emang wajahnya manis itu. Kan pertanyaannya: ngapain sih si senior ngomongnya mesti di depan kita-kita para pembeli? Gak ada waktu lain atau jam istirahat gitu? Nah ini yang saya maksud. Bisa jadi dia ngerasa hal itu keren  dan berani, jadi dia “menampilkannya” di depan orang lain yang tidak ia kenal. *Teori macam uopoooo iki?*

5. Mungkin mereka lelah. Eh kok yo macam becandaan jaman now ya? Haha, tapi beneran lah. Dalam realitanya ngelayanin customer yang datang silih berganti dengan shift kerja selama beberapa jam, sudah tentu tidak luput dari rasa lelah. Lelah harus pasang wajah manis terus dan sikap melayani all day long.
Kita aja yang tiap hari kerja kantoran enak, dikasih duduk dan fasilitas yang mumpuni plus waktu istirahat yang terkadang dikorup (lebih dari 1 jam maksudnya. Ehm pengalaman pribadi euy) aja, masih gak lepas dari perasaan lelah ya?
Nah, rasa lelah ini lantas butuh pelampiasan, entah dengan cara ngobrol, nyanyi, ketawa-ketawa yang gak inget waktu dan tempat. Kita yang kerja kantoran juga, kadang rasanya kalo udah stress/lelah pengen deh teriak-teriak di kantor, pasang musik kenceng, padahal at the same time di sudut ruangan bos lagi ada klien yang visit ke kantor kita. Hahahaha….. again, pengalaman pribadi cuy.

Ah jadi panjang kan tulisannya…plus penuh teori mungkin yang unfaedah ((UNFAEDAH)). Pada akhirnya sekarang, saya berusaha untuk gak terlalu ambil pusing dengan attitude para petugas toko yang gengges selama: total belanjaan dihitung dengan tepat, uang kembaliannya juga benar hitungannya, dan barang belanjaan saya dibungkus dengan selayaknya. Selebihnya ya udah terima sajalah. Kalau misalnya petugas tokonya gak ngebantu banget pas kita nanya ini itu, malah ketus dan jawabannya samasekali gak memuaskan, ya udah kita ngalah ajalah dengan pindah ke toko lain.
Demikianlah posting rada-rada hari ini. Mohon maaf, udah panjang, gak penting pula. Maqlum….efek weekend guys. Siapa yang weekendnya diisi dengan jadwal pergi ke kondangan? Sayaaaaa… *ngacung duluan
Have a nice weekend ya, kalo makan di kondangan jangan lupa baca bismillah, okeh? *gak nyambung*
signature

Advertisements

11 thoughts on “Talking About Their Attitude…. ah, Let It Go Ajalah

  1. Crossing Borders says:

    Pernah ngalamin semua, selain itu kalo belanja sama suami, aku suka dicuekin, suami langsung diperhatikan, sampai pas giliran bayar, baru mbak/mas gengges itu ngeh bahwa “I am the boss” (aku yg bayar maksudnya, meski duitnya duit suami juga😄) Begitu lihat kartu debit/kredit dgn namaku jelas terpampang di situ (bukan nama suami) baru deh aku dilirik..😬

    Liked by 1 person

  2. Abdul Jalil says:

    Wah, kalo belanja ke tempat saya. Mungkin mba dapet pengalaman yang lebih spesial lagi. Wkaka

    Dari poin yang mba uraikan ada benernya juga loh, saya selaku pelayan toko kadang lelah juga harus terus bersikap ramah. Sementara di sisi lain, kadang ada masalah yang juga dipikirkan..wah, gak profesional banget sih karena kadang melayani konsumen dengan agak cuek atau malah bisa2 culas kala mood nya benar-benar jelek.
    Tapi ya kadang sebisa mungkin dikendalikan.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      betul Abdul, namanya manusia sudah pasti ada rasa bete, lelah. Aku juga bisa mbayangin kok kalo di posisimu, melayani seharian harus full senyum walaupun misalnya kondisi hati lagi bete plus lelah banget karena liat mantan udah jalan ama cowok lain *eh?
      Makanya kan di point terakhir aku bilang “mungkin mereka lelah.” Semangat terus ya Abdul, semoga terus bisa memberikan yg terbaik untuk konsumen2mu…amiiiin….

      Like

  3. mrs muhandoko says:

    aku dulu malah pernah lho mbak, pas beli sepatu trus minta nomer lain yg pas di kaki, eh dimarah marahin sama SPG nya. mgkn penampilanku yg gembel kali ya 😀

    ada temenku, yg beli sepatu di salah satu gerai besar si ‘sun’, dicuekin sama SPG nya. langsung dia laporan ke spv nya. dan si mbak SPG ini lsg dimutasi ke cabang lain yg jaaauuhh.

    kalo kayak gini, antara ngasi ‘pelajaran’ sama kdg aku jadi ga tega udah ngerusuh rejeki orang 😦

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      itu yang dimarahin sama SPG kayaknya perlu dibuat postingan sendiri Na…karena aku bener2 speechles dan pengen tau ceritanya, kok bisa ya malah kita yang beli dan kita yang dimarah2in hahahaha.
      Ending komenmu bikin aku mikir juga, iya ya dilema berat antara ngehalangin rezekinya dia sama KZL hehe

      Like

  4. Miss Mae says:

    Mba, aku udah lelah dicuekin begitu. Apalagi kalau ke toko make-up kelas atas seperti M*FE atau M*C, tapi wajah sendiri engga dirias (ya iya lah kalau aku mau beli make-up, aku sengaja engga pake make-up dong, orang mau nyocokin warna foundation/lipstick/etc. ke kulit asli), itu sering *banget* engga digubris sama pegawai. Padahal toko macam begini, kita engga bisa ambil produk sendiri trus langsung beli… harus diambilin produknya sama pegawai.

    Staffnya ada tiga-empat orang, tapi satu doang yang sibuk ngurusin customer. Yang lainnya ngrumpi sama DANDAN! Itu yang bikin aku risih mba, ada customer tapi ini pegawai malah DANDAN SENDIRI *emosi jiwa*. Begitu aku dilayani sama si mbak pegawai yang paling rajin sendiri ini, langsung aku borong banyak barang dan kasi dia tips gede. Biar nangis tuh temen-temennya.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s