Background Check via Socmed

Kali ini ingin nulis tentang sisi rekrutmen karyawan. Saya di blog ini memang beberapa kali bikin posting yang berkaitan dengan aneka rupa kisah seputar merekrut employee terutama untuk kantor saya sendiri.

Kalau zaman baheula, mengirim lamaran masih pake amplop tertutup yang dikirimkan via pos. Lalu HRD pun hanya bisa melakukan seleksi dan cek background kandidat via psikotest dan wawancara tatap muka dengan kandidat yang bersangkutan.

Zaman semakin maju. Teknologi menghapus jarak antara manusia, di belahan dunia manapun kita berada. Teknologi menghapus jarak antara orang-orang yang kita kenal dan orang-orang yang sama sekali tidak kita kenal.

Lalu apa kaitannya dengan inti postingan ini? Yes, soal social media milik kandidat pegawai tentunya. Hampir sebagian besar manusia di dunia ini memiliki social media, apapun platformnya. Mulai dari Facebook, Twitter, Path, etc etc……
Dengan semakin mudahnya terkoneksi dengan aneka platform socmed, terutama via HP, tak dipungkiri item ini pun menjadi salah satu faktor penentu untuk mempertimbangkan kandidat yang bersangkutan mau dipanggil interview atau tidak.

Pro kontra terjadi dalam hal ini. Ada yang tidak menjadikan socmed sebagai salah satu faktor penentu kelulusan seorang kandidat. Namun ada pula yang justru sebaliknya.
Mengutip dari website jobsdb Indonesia: Sebuah penelitian yang dilakukan oleh CareerBuilder.com menunjukkan bahwa semakin banyak perusahaan merambah ke social media untuk melakukan background check terhadap calon karyawan mereka. Sebesar 45% dari perusahaan ‘melongok’ social media sebagai salah satu cara bahan pertimbangan atau screening terhadap calon karyawan. Sebuah peningkatan sebesar 100% setelah setahun sebelumnya hanya 22% dari perusahaan yang melakukan hal ini.
Nah sekarang kan sudah zamannya social media di mana-mana ya. Tak dipungkiri buat sebagian tim rekrutmen, mengintip sosial media (source lengkap bisa baca di sini)

Termasuk saya. Sejak 8 tahun lalu, saya selalu melakukan background check via socmed terhadap semua kandidat yang memiliki chance untuk dipanggil interview. Aktivitas ini saya jadikan pelengkap selain melakukan test kepribadian terhadap kandidat.
Dan saya merasa bersyukur karena telah mengecek socmed mereka. Mengapa? Mari saya ceritakan beberapa pengalaman saya ya:

1. Polos mengumbar rahasia perusahaan sebelumnya.
Sebut saja kandidat itu bernama Yuni (nama samaran banget tentunya). Di CVnya, Yuni terlihat OK dan menarik untuk dipanggil interview. Saya cek Facebooknya, cukup aktif dan tidak ada yang negatif (entah kalau status yang tidak disetting Public ya, hehe). Eh ndilalah di CV dia menyebutkan bahwa iapun memiliki blog. OK let’s check.
Blognya pun lumayan aktif. Satu bulan minimal 1-2 tulisanlah. Saya baca beberapa tulisan terupdatenya. Dan saya freeze.

Jadi Yuni ini pernah bekerja di kompetitor kantor saya, sebut saja perusahaan X. Sebagai karyawan internship. Mungkin karena anaknya kategori fresh grad sehingga polos apa adanya. Dengan gamblang Yuni berusaha memberi info positif kepada pembaca blognya tentang apa saja yg ia lakukan selama bekerja di PT X. Namun saking polosnya Yuni men-jembreng-kan (duh apa bahasanya ya?) beberapa data confidential perusahaan, seperti misalnya sistem perhitungan (bukan perhitungan uang ya) dalam social media campaign yg diadakan perusahaannya untuk klien. Saya gak bisa jelaskan detil, namun sebagai orang agency pasti paham apa yang dipaparkan Yuni itu. Lengkap banget ada grafik dan bagan. Huhuhuhuhu….aku ngeri kakaaaa….. Mungkin Yuni tidak tahu bahwa itu seharusnya confidential…atau Yuni sudah diizinkan oleh yang punya perusahaan untuk menuliskan itu dalam blognya. Entahlah, saya tidak tau. Yang pasti menurut saya jeroan detil perusahaan sebaiknya tidak diumbar untuk publik.

Kebayang gak kalo misalnya saya gak cek ricek dulu socmednya? Kebayang gak kalo suatu hari dia keterima di perusahaan saya, dan dengan gamblangnya dia bercerita di blog tentang data-data yang seharusnya tidak boleh diumbar ke khalayak luas? Aku tak berani membayangkan………

2. Pas foto tak seindah aslinya.
Di CV orangnya terlihat cakep. Setelah dicek di socmednya, foto terkininya sudah tak seindah di CV. Rupanya foto di CV foto jaman lampau hehe. Bukan diskriminatif dan mengabaikan skill, namun sejujurnya untuk beberapa posisi tertentu memang membutuhkan penampilan yang menarik. Sama halnya kalau kita mencari SPG untuk pameran, sudah tentu kita memprioritaskan yang berpenampilan ciamik ya guys?

3. Katanya single, aslinya sudah menikah.
Lagi-lagi, seringkali kandidat mengirimkan CV lama, yang lupa diupdate. Dengan cek ricek ke socmed, kita jadi tau aslinya seperti apa. Di CV ditulis single, eeeh pas cek socmednya rupanya sudah beranak satu. Pernah saya menemukan kandidat seperti ini, dan begitu saya mengirim e-mail notifikasi ke dia untuk mengonfirmasi statusnya, kandidat nampak terkejut karena saya mengetahui status pernikahannya. Lagi-lagi bukan mengabaikan skill, tapi memang lowongan kerja yang kami buka mencari kandidat berstatus single dengan berbagai pertimbangan.

4. Bermasalah dengan kesehatan.
Maksudnya apa? Mencari kandidat yang 100% sehat wal afiat? Ya mane ade mpooook….Lu mimpi? Iya memanglah yang namanya sehat atau sakit yang punya dan berhak menentukan hanya Sang Maha Pencipta. Tetapi kalau boleh memilih, perusahan juga menginginkan karyawan yang sakit langganannya ringan-ringan aja, model batuk pilek. Ilustrasinya kurang lebih kayak gitu ya. Nah pernah ada satu kandidat melamar dan setelah dibantu teman-teman kantor, saya akhirnya menemukan socmednya. Karena di socmed itu dia tidak menggunakan nama asli. Dari postingan foto, dan statusnya rupanya kandidat ini sedang menderita kanker, entah kanker apa, dan sedang dalam masa pengobatan. Terbayang jika ia diterima dan mesti bentar-bentar izin untuk ke dokter sementara posisi dia adalah anak baru di perusahaan….hmmm…..akan kurang baik untuk image dirinya sendiri ya.

5. Suka dengan kata-kata kebun binatang.
Nah ini juga pernah nemu kandidat kayak gini. Di CV baik-baik saja dan terlihat skillful, namun acapkali mengupload status di socmed, sering kali menghujat, nyinyir dan menggunakan kata-kata mutiara ala kebun binatang. Bisa jadi status tersebut hanya ia tujukan ke teman-teman di luar lingkup pekerjaan ya, dan secara profesional dia bukanlah seperti yang tergambar di socmednya. Bisa jadi ia tetap orang yang bertanggung jawab terhadap pekerjaannya jika sudah diterima bekerja, dan penuh loyalitas tinggi. Tapi….ah sudahlah, lebih baik kandidat seperti ini dihindari saja 🙂

Itu adalah 5 pengalaman saya selama melakukan background check terhadap kandidat pegawai. Dan keuntungan lainnya dari background check ini adalah: sangat membantu mengefisienkan waktu untuk menyeleksi kandidat. Jika sudah terlihat bagaimana attitude yang bersangkutan via socmed dan memang kurang cocok dengan yang dicari, tidak buang waktu untuk dipanggil interview dan test.
Saya berharap ke depannya tidak akan pernah menambah list pengalaman, cukup 5 yang di atas. Alias gak nemu kandidat yang aneh-aneh lagi. Semoga selalu bertemu kandidat yang “baik-baik saja:”(langsung nyanyi lagunya Ratu). Amiin…..

Maaf jika tulisan ini kurang berkenan ya guys 🙏
signature

 

Advertisements

24 thoughts on “Background Check via Socmed

  1. mrs muhandoko says:

    di tempatku pun begini kok mbak. ada salah satu rekanan yg suka banget umbar umbar soal kerjaan semisal : perhitungan harga, alamat proyek, sampe bukti transferan, juga kesehariannya yg big no no ke medsosnya. akhirnya ya jadi bahan pertimbangan kalo mau dikasi kerjaan lagi 😛

    Liked by 1 person

  2. Ikha says:

    Ah, syukurlah gapernah nulis apa-apa tentang kantor kecuali hal-hal yang umum banget. Karena memang rahasia perusahaan.
    Bahkan sampe ada yg suatu ketika penasaran sama pekerjaan saya apa sebenarnya.

    Terima kasih sharingnya mbak. Hehe

    Liked by 1 person

  3. maureenmoz says:

    sy juga melakukan background check via socmed.. karena nyarinya guru untuk pre-school.. ada kandidat yg bagus di CV, tapi kata2 di sosmed seperti yg no.5.. lah kalu yg kepoin ortunya nanti kan gimanaaa.. trus gampang feel down dan menuliskan akan suicide gitu.. hadeuh.. ya bye dulu deh..

    Liked by 1 person

  4. Marya says:

    sesungguhnya, hrd atau bukan.. jaman sekarang background check via sosmed dilakukan oleh semua orang. kalo aku, biasanya klo misalnya lagi deket sama orang. 😛

    Liked by 1 person

  5. Bunda Erysha says:

    Bukan cuma menerima pasangan lewat taaruf aja ya yang harus lihat sosmed, nerima karyawan juga perlu lihat sosmed juga menurutku itu penting dan itu kalau kita punya banyak waktu juga untuk melakukannya. Karena alasan yang udah disebutin di atas. Saya setuju ☺️

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      halo mbak Yeni, terima kasih sudah mampir sini ya. Iyaaa…untuk banyak hal zaman sekarang background check via sosmed itu menurutku penting banget. Dan mau gak mau mesti diluangkan waktu sih mbak di antara 8 jam kerja sehari, karena efeknya akan jauh lebih baik ketimbang males cek karena efisiensi waktu eeeh ga taunya malah dapat kandidat karyawan yang gak sesuai kriteria, hehe….

      Like

  6. inlycampbell says:

    Waduhh.. moga2 ga ada jeroan2 perusahaan yg confidential pernah gua tulis yah, Mel.. so far ada tapi mesti ringan2 aja yg konyol2 aja. Dulu juga diinfo sama mantan bos kalau sebaiknya ga pasang foto2 dugem di Fb, apalagi kalau FB kita di add sama calon klien hihihi.. untung wa bukan anak dugem wkwkwk

    Liked by 1 person

  7. Reisha says:

    Baca No. 2 jadi merasa tertohok, karena pas foto terbaru adanya pas foto buat buku nikah, 4 tahun yang lalu, wkwk.

    Kalau dari cara mengirim/merespon email masuk pertimbangan juga ga mbak? Sering denger kids jaman now ini kadang ngirim email blank gitu aja, cuma attach CV. Atau udah dikirim email panjang lebar, balasnya 1 kata doank, wkwk.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      halo mba Reisha, makasih sudah mampir sini ya. Hayooo…bikin pas foto terupdate dulu yuks.
      Nah tentang pertanyaan soal merespon e-mail masuk sudah pernah beberapa kali kubahas di beberapa postinganku mbak. Coba cari pake keyword “BIAR CV KITA DIBACA HRD, MAKA KITA HARUS……” atau search pake keyword CV, nanti keluar semua artikelku yg mbahas hal-hal spt pertanyaan mbak hehe. Duh kenapa jadi promo gini yaaa?

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s