Cerita Susi

Namanya Susi. Ia sudah berkeluarga, dan baru punya 1 anak. Usia anaknya sekitar kelas 3 SD saat ini. Sebagai working mom, sudah tentu Susi harus multitasking dan membagi waktunya antara kerja kantor dan mengurus anak. Untunglah teknologi sudah canggih. Sehingga hampir setiap hari Susi bisa bervideo call ria dengan sang anak yang sehari-hari selama Susi bekerja, diasuh mbak Asisten Rumah Tangga (ART).

Bekerja di ruang kubikal di kantor, membuat apapun yang kita obrolin di telepon kedengeran oleh sesama rekan kerja. Untuk terima telepon urusan pekerjaan entah dari vendor, klien, atasan yang lagi di luar kantor, it’s ok. Adakah yang tidak OK? Ada.

Ketika Susi menelepon anaknya, memarahi anaknya entah via video call atau voice call WA, karena si anak emoh ngerjain pe-er padahal emaknya udah mau bantuin lewat telepon. Belum lagi di lain hari menelepon sang anak untuk ngebrief nanti harus makan apa yang dimasakin si mbak, karena sayur bayam dan ikan goreng itu jauh lebih bergizi ketimbang permintaan si anak yg cuma mau mie instant.

Di hari berikutnya, ada masalah juga sama suami di rumah, soal kekacauan transfer cicilan KPR, diselesaikan dengan nada tinggi via telepon.

Semua dilakukan di kubikalnya, di mana rekan kiri kanannya tengah khusyuk bekerja.
Rekan Susi mau menegur tapi sayang mereka levelnya adalah junior, sementara Susi sudah senior. Gak ada yang berani. Sungkan euy.
Ah, masih ditambah pula ada persoalan di mana mama mertua masuk RS, lalu Susi yang belum bisa ke RS karena masih ada pekerjaan deadline super urgent, ngebrief suaminya yang posisinya lagi di RS, untuk mengurus daftar rawat inap BPJS di lantai X kemudian balik lagi ke bag.admin dll, karena Susi sudah pernah berobat ke RS yang sama. Semua dilakukan di kubikalnya.

Semua manusia punya problem dalam hidup. Untuk yang sudah berkeluarga seperti Susi, atau saya, problem terbanyak adalah soal rumah tangga termasuk anak, suami, orang tua. Seringkali kami memanfaatkan teknologi untuk mempermudah problem itu.
Namun betapa eloknya jika working mom seperti Susi mencari tempat sepi untuk sekedar membalas semua telepon-telepon itu. Kecuali dia memiliki ruang kerja sendiri seperti Direktur.

Menerima telepon problem rumah tangga bisa di tangga darurat (jika kantornya gedung) atau di ruang kosong manapun yang kebetulan sepi. Kalau di kantor, saya biasanya lari ke ruang meeting yang lagi kosong untuk menelepon anak/suami terutama jika ada masalah yang butuh kata-kata tegas atau intonasi agak tinggi. Kalau ruang meeting dipakai, ya sekalian ke halaman belakang (kebetulan kantor saya rumah dan ada halaman cukup luas di belakangnya). Atau di manapun yang memang sepi dan jauh dari posisi orang sedang bekerja. Rikuh rasanya menerima telepon dan rekan sekelilingnya mau gak mau ikutan mendengarkan.

Karena sejatinya di ruangan tersebut bukan hanya ada Susi yang bekerja. Bukan hanya dia yang perlu dimaklumi bahwa ia tengah ada masalah yang urgent untuk diselesaikan. Seandainya Susi bisa menempatkan diri di posisi rekan-rekan kerjanya yang lain yang saat itu mungkin juga tengah mumet ngejar deadline.

Yang sering terjadi, satu per rekan kerjanya pelan-pelan memasang headset dan mendengarkan musik dari laptop masing-masing. Nampaknya hal itu jauh lebih baik ketimbang terus menerus mendengarkan suara yang cukup annoying dan membuyarkan konsentrasi bekerja.

Semoga teman-teman semua belum pernah mengalami ilustrasi seperti Susi ya. Amiiin…..
signature

Advertisements

12 thoughts on “Cerita Susi

  1. Audrie says:

    Emang kalo modelnya kubikal gitu baiknya sih saling tenggang rasa lah sama rekan kerja sekitarnya yang sama2 berbagi kubikal tsb. Andai posisi kita terbalik sama mereka yang terganggu kerjanya gara2 ‘nada tinggi’ yg ga ada hubungannya sama kerjaan, tentu kita ngga mau juga kan.. Bicara di telepon terkait kerjaan dengan suara keras aja bisa mengganggu loh, apalagi yang gak ada hubungannya sama kerjaan.
    Tapi emang selalu ada aja orang macam ini sih 😣

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      hiks hiks…iya…itulah. Risih banget sebenernya tapi mau negur juga nanti dikira sok kerja banget, somse dll dll. Palingan ya denger musik pake headset solusi tercepatnya πŸ™‚

      Like

  2. naniknara says:

    ada mbak teman kantorku yang begitu.
    Saya yang mendengar kadang risih juga, kalau pas dia nelpon suaminya kasih instruksi ini itu, sebentar-sebentar telpon lagi buat ngecek suaminya udah melakukan instruksinya atau belum. Kadang saya membatin “suaminya kan udah dewasa, masa harus sebentar-sebentar di cek kayak anak kecil gitu”

    Kalau saya, biasanya kalau terima telpon atau mau nelpon, memilih keluar ruangan, pergi ke toilet yang sepi, atau di selasar gedung.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      nah betul, seharusnya kitanya sungkan dan nyari tempat sepi ya buat teleponan urusan keluarga. Untungnya cerita Susi itu adanya di tempat temenku mbak, bukan di kantorku πŸ™‚

      Like

  3. Miss Mae says:

    Wah kalau di pekerjaanku, sering telpal-telponan masalah personal seperti ngasuh anak yang lagi di rumah…pas jam kerja … itu sangat tidak profesional (kecuali kalau cuma untuk beberapa menit saja, itu masih tidak masalah). Siapapun bisa melaporkan karena kita punya sistem work performance feedback.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      wah asik juga ya mbak ada sistem WPF gitu di kantormu. Seandainya di Indonesia juga ada, pasti suasana kantor aman damai tenteram hehe. Terima kasih sudah membaca posting ini mbak πŸ™‚

      Like

  4. Snopi says:

    Tiap kantor punya keunikan masing-masing ya, hehehe. Di kantor saya, dalam satu ruangan ada orang-orang (justru para petinggi) yang saling telpon membicarakan kerjaan dengan suara keras. Jadi, sebenarnya ga usah pake telponpun semua orang di ruangan denger mereka bicara apa, dari berdebat sampe teguran keras semuanya kami dengar. Hahaha.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Halo Snopi, makasih sudah mampir sini. Wah blognya terkunci ya?
      Gak kebayang suasana di kantormu yang para petinggi saling berbicara dengan suara keras, termasuk yang confidential matters ya? hehehe

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s