Edisi Dibuang Sayang Part 5

Hai semuaaa….kali ini as usual mau nulis Edisi Dibuang Sayang lagi. Ada apa saja di part kelima ini?

1. Terhenyaque karena keterbukaannya.
Jadi, dari sederetan komen yang masuk ke tiap postingan blog saya, pastilah ada satu dua yang kategorinya spam. Bisa karena komennya gak jelas, gak nyambung, dan juga malah promosiin link hidupnya dia sendiri. Nah dari beberapa komen spam yang masuk, ada satu yang iseng saya buka blog/link nya dia. Di halaman HOMEnya, saya terhenyak. Blogger cowok muda ini (saya bilang muda karena usianya mungkin baru sekitar 25 tahunan) menampilkan nomor hape, alamat rumah lengkap, dan aneka link sosmednya. Untuk link sosmed mah wajar kita tampilkan di blog ya. Tapi untuk alamat rumah lengkap? Asli baru kali ini saya ngeliat yang open banget kayak gini. Seterbuka-terbukanya kita di dunia maya, akan jauh lebih elok jika alamat rumah tidak dipublish begitu saja. Jutaan orang bisa membaca, dan di antara jutaan itu kita gak pernah tau apakah semuanya punya niatan baik. Yah kalian artikan sendirilah kalimat saya ini 🙂

2. Makan minum sembari telanjang
Baru kemarin iseng baca berita di media online, kalau di Inggris dan Perancis, ada restoran di mana pengunjungnya kudu wajib totally naked tanpa selembar benang pun. Konsep ini sudah tentu karena restorannya mendukung paham nudis atau dengan kata lain naturist ya guys. Masuk ke resto kayak gini juga aturannya ketat gak sembarangan, kayak misalnya gak boleh saling memfoto dan gak boleh bawa hape. Saya samasekali gak mau nge-judge gimana para penganut paham ini menampilkan dirinya di depan umum. Udahlah itu urusan masing-masing. Saya cuma lagi ngebayangin, para pengunjung  resto Bunyadi  di Inggris dan O’Naturel di Perancis, kan pada gak pake baju ya. Trus kalo pas makan apa enggak pada masuk angin ya? Lalu kalo misalnya ada semut yang mampir di area-area vital gitu gimana ya? Wahahahaha amit-amit banget ya ini pemikirannya? Masa resto spesifik dan punya kelas begini pake ada acara semut segala? Lu kate warung nasi pinggir jalan?

3. Beberes rumah tanpa sehelai benang pun
Masih nyambung sama yang nomor dua. Nah kalo itu kan resto ya. Selain resto, Inggris juga punya konsep telanjang yang lain. Yaitu jasa pembersihan rumah tanpa busana. Namanya Naturist Cleaners. Jadi perusahaan ini khusus memberikan servis bersih-bersih rumah, tapi tenaga kebersihannya gak pake baju samasekali. Lagi-lagi servis seperti ini ditujukan untuk para kaum naturist/nudis. Dan lagi-lagi peraturannya ketat. Yang paling utama, si pengguna jasa enggak boleh pegang-pegang tubuh yang lagi bebersih, enggak boleh terlibat sexual relation juga. Itu cuma peraturan salah duanya. Masih ada beberapa lagi. Nanti coba search di situsnya aja ya. Oiya biaya bebersih per jamnya Rp800,000 aja.
Kalau di Indonesia, layanan ini kan mirip Go Clean-nya Gojek ya. Nah lagi-lagi kebayangnya apa coba? Keliatannya malah asoy ya, karena biasanya kita kalo beberes rumah kan pasti keringatan. Entah ngepel, ngosek kamar mandi, apalagi nyetrika baju. Dengan kondisi tanpa busana harusnya meminimalisir keringat banget kan ya? Enggak gerah gitu bawaannya. Hehehehe……

4. Rubrik itu masih ada
Kalo zaman dulu, orang baca koran ya dalam bentuk fisik. Zaman sekarang kan apa-apa serba digital. Baca berita pun ya cukup di internet aja. Hampir semua media cetak sekarang punya versi digitalnya. Tak terkecuali Pos Kota. Buat anak 80-an, kalo disebut Pos Kota, apa yang terbayang di benak kalian? Ali Oncom, Doyok, berita kriminal? Yes…semuanya. Dulu Pos Kota hadir sebagai korannya rakyat terutama golongan bawah. Karena berita-beritanya hampir semua didominasi berita kriminal, dengan judul/headline yang terkadang bikin ngikik bacanya padahal jelas-jelas itu berita pembunuhan. Emang pihak redaksi sengaja bikin headline bombastis gitu, supaya makin banyak yang tertarik dan korannya laku. Nah, iseng hari ini saya mbuka situsnya Pos Kota. Rupanya Pos Kota juga udah lama “move on”. Gak melulu menyajikan aneka berita kriminal, tapi hampir semua berita mulai dari olahraga, wisata, gaya hidup, internasional, semua tersedia.
Yang bikin kenangan mbalik lagi ke zaman kecil dulu adalah ketika iseng membuka salah satu menu di webnya. Menu “Nah Ini Dia”. Ternyata rubrik ini masih dipertahankan.
Zaman Pos Kota masih bentuk koran fisik, rubrik ini juga lumayan populer. Isinya gak jauh-jauh dari berita seputar kriminal yang lagi-lagi headlinenya dibikin norak dan bombastis. Hahahahahaha. Coba deh liat screencap saya dari webnya Pos Kota berikut ini. Yang punya kenangan sama kayak saya dulu, pasti pada senyums bacanya:

Screenshot_2018-04-17-14-25-37-600x1067

Itu dulu ya untuk part 5. Masih ngumpul-ngumpulin cerita untuk bikin part selanjutnya.
Have a nice day everyone 🙂
signature

Advertisements

4 thoughts on “Edisi Dibuang Sayang Part 5

  1. geraldinetitarina says:

    Alamat di publish, mungkin rumah dia Ruko, jadi sekalian promosi lokasi tokonya. hehe.
    Untuk bersih2 tanpa pakaian itu kok aku mikirnya malah kemana2 ya. Haha. Ga kebayang aja gitu dianya melenggak lenggok bersih2 tanpa pakaian.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s