Edisi Dibuang Sayang Part 6- sedih

Hai semua. Gimana kabarnya hari ini? Di kantor saya hujan dan gloomy banget suasananya. Feeling gloomy ini mempengaruhi isi postingan kali ini. Postingan rada berbau sedih-sedih gimana gitu. Seperti biasa, masih dalam edisi dibuang sayang gitu. Karena ya ceritanya hanya singkat-singkat belaka:

1. Tradisi menceburkan ke kotoran sapi.
Saya baca di National Geographic Indonesia. Mendengar kata kotoran sapi saja kadang sudah mau bikin muntah pas ngebayanginnya ya. Namun beda halnya dengan sebuah daerah di negara India, tepatnya di daerah Madhya Pradesh. Masyarakat di sana masih percaya pada sebuah ritual menceburkan anak ke kotoran sapi. Dipercaya ritual ini akan melindungi anak-anak mereka dari berbagai jenis penyakit dan bisa membawa keberuntungan. Sebelum ritual sudah pasti diawali dengan doa-doa yang dipanjatkan untuk para dewa, memohon keselamatan dan keberkahan. Lalu para anak-anak yang usianya minimal 1 tahun diceburkan ke dalam kotoran sapi. Mereka percaya kotoran dan kencing sapi juga dianggap sebagai desinfektan pada masa India kuno dan digunakan untuk membersihkan rumah. Dan ritual ini sudah berlangsung ratusan tahun.

Lepas dari kepercayaan orang India, khususnya Hindu, terhadap sapi yang memang dianggap makhluk suci, saya pas baca artikel itu rada sedih sih. Secara logika manusia biasa, yang namanya kotoran secara harfiah ya kotor. Kalo gak kotor gak mungkin dinamai kotoran kan? Duh gak kebayang anak-anak bayi kecil gitu badannya bermandikan kotoran sapi, udah pasti pada nangis bombay kali ya? Kadang-kadang bayi dimandiin air anget aja masih pada suka rewel, ini gimana kalo mandinya pake kotoran? Gatel-gatel banget kali ya? Ah…gak kuat lagi saya membayangkannya 😦

2. Seasal-asalnya memberi nama sebaiknya dipikirkan yang baik-baik saja.
Dulu saya sering ketawa sendiri karena di sosmed rame diviralkan aneka nama orang Indonesia yang real dan lucu-lucu. Ada sopir taxi yang diberi nama Royal Jelly oleh orang tuanya. Ada pula yang di KTP aslinya bernama Adzan Maghrib. Masih banyak lagilah. Sudah pasti orang tua mereka masing-masing punya maksud tertentu sampai memberi nama anaknya seunik itu.

Nah hari ini, saya mbaca media online. Ini beritanya masih hangat. Ada pria di daerah Tangerang yang diberi nama oleh ortunya: Kentut. Memang beliau dan paman beliau mengakui bahwa ortu Kentut ini orang kampung dan asal aja ngasih nama waktu anak tersebut lahir. Benar-benar gak mikir panjang dan nggak ngerti gimana dampaknya ke kehidupan anak itu kelak. Gak perlu nunggu lama, begitu Kentut usia 5 tahun ya langsung berasa lah bully-an kencang dari seluruh jagat raya.

Ndilalah beliau menurut saya super duper sabar loh. Terbukti setelah hampir 28 tahun, barulah beliau berganti nama menjadi Ihsan Hadi. Ya ya ya…saat ingin mengganti nama secara hukum, sebagai orang desa beliau tidak paham syarat administratif yang harus ditempuh. Makanya jadi lama. Alhamdulilah Pengadilan Negeri Tangerang akhirnya mensahkan nama baru beliau. Yang kasihan bukan hanya Ihsan Hadi, tapi juga anaknya yang saat ini sudah bersekolah. Sudah kenyang makan bully-an sehari-hari di sekolah “woooi bapakmu namanya Kentut hahahaha…”

Pilu sih mbaca berita ini di media. Yang lebih miris, pak Ihsan Hadi ini di lingkungan sekitarnya terkenal sebagai ustad euy.
Sekurang-kurangnya kita sebagai manusia, selayaknya memberi nama ke anak yang artinya positif saja, bukan? Dan tentunya dengan kata-kata yang kita paham artinya saja. Semoga kejadian ini hanya berhenti di pak Ihsan Hadi ya guys…duh jangan sampe ada lagi deh…..

3. Menyambung hidup
Kemarin saya sudah bikin postingan tentang seorang member komunitas yang saya ikuti, yang berusaha gigih mencari pekerjaan di bidang design walaupun tidak memiliki kompetensi yang diharapkan.

Bisa baca di Kisah Bapak Ali. Intinya beliau terus mencari pekerjaan agar bisa menyambung hidup, karena masih ada keluarga yang harus terus diberi makan sehari-hari. Nah hari ini, kembali saya membuka grup komunitas pekerja creative agency yang saya ikuti, dan mendapati seorang member baru yang tengah mempromosikan skillnya dan berharap ada order baginya untuk….menyambung hidup.

Seperti kita semua tau, di seluruh dunia, termasuk kamu, saya….bekerja adalah kebutuhan agar bisa mendapatkan uang. Lalu uang digunakan untuk membeli makan dan aneka kebutuhan hidup lainnya. Semua orang bekerja, semua orang butuh pekerjaan. Namun jika sudah memberikan penekanan “untuk menyambung hidup” di situ saya terkadang suka mellow sendiri. Karena itu artinya kebutuhannya super mendesak. Kalo bahasa anak zaman sekarang BU berat (Butuh Uang Berat).

Banyak orang yang dalam kondisi belum diterima kerja atau masih mencari-cari kerja ke sana ke mari, atau wiraswasta namun belum dapat orderan, namun di sisi lain masih tetap bisa menopang hidup sehari-hari. Dengan beragam sebab. Misalnya: karena masih punya tabungan yang cukup, masih dibiayai orang tua, masih ada suami/istri yang bisa membantu menanggung beban biaya hidup harian, dan masih banyak yang lainnya.

Bersyukurlah jika kita berada pada posisi tersebut, jika dibandingkan mereka yang sampai harus memberi penekanan “untuk menyambung hidup” tadi. Ah jadi sedih. Semoga member baru tadi segera banjir job, karena saya lihat portofolionya keren dan rapi kok. Mudah-mudahan dilancarkan rezekinya, amiiin…..

Tuh kan isinya gloomy galau mellow sedih, campur aduk jadi satu. Mudah-mudahan edisi dibuang sayang selanjutnya bisa menampilkan cerita yang ceria-ceria aja ya. Selamat sore semuaaa….
signature

Advertisements

11 thoughts on “Edisi Dibuang Sayang Part 6- sedih

  1. Abdul Jalil says:

    1. Duh, bayangin baunya aja gak kuat. Itu orang yang nyeburin gitu pake masker pa gimana ya. Hiih. Tapi di salah satu suku di Indonesia di daerah Lombok kalo gak salah, ada juga sih yang melumuri lantainya dengan kotoran sapi buat. Alasannya apa saya lupa, tapi itu sudah jadi tradisi.

    2. Duh, ada nama yang aneh lagi. Gak cukup Tuhan dan Setan ya, ini malah Kentut. Semoga orang tua kini semakin berfikir matang sebelum kasih nama buat anaknya.

    3. Wah, ini yang kemarin ya mba. Saya juga berharap semoga beliau cepet dapet pekerjaan. Aamiin

    Liked by 1 person

  2. Emaknya Benjamin br. Silaen says:

    1. Di Rusia ada tradisi saat winter, menceburkan bayi ke kolam air es.Konon katanya spy anaknya kebal thd penyakit dan tahan dingin 😀 .
    2. Pernah kubaca juga ada ortu yg nama anaknya spt merek motor. Kasihan anak2 yg dikasih nama ga bagus, di bully melulu dia. Klo di Jerman ada peraturannya bikin nama, klo ga bagus artinya, melecehkan misalnya ga boleh ortu kasih nama begitu.

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Aduuuh ngilu ngebayangin anak diceburin ke air es, Nell, huhuhuhu….
      Seandainya peraturan di Indonesia soal nama anak mirip di Jerman ya, biar anak juga terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan dan ngeganggu psikologisnya dia 😦

      Liked by 1 person

  3. adelescarlet says:

    kalo di toraja pas lagi gotong mayat ke kubur biasa mereka akan main lempar2an lumpur atau kotoran kerbau tapi mereka lebih banyak menggunakan lumpur sih, nah tradisi apa di balik itu saya belum tauk.. hehe

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s