Cerita Dua Pelamar

Saya bingung mau memulai cerita ini dari mana. Masih ingatkah temans saya pernah menulis tentang salah satu kandidat karyawan yang punya masalah kesehatan? Saya menulisnya di sini point 2.

Intinya kandidat tersebut nampak hanya menggantungkan diri ke satu perusahaan saja. Padahal sejatinya orang melamar pekerjaan, pastilah melempar CV ke puluhan bahkan ratusan perusahaan. Mana yang manggil duluan, mana yang ngasih kesempatan besar duluan, itulah yang diambil. Tidak menggantungkan hanya pada satu perusahaan, even itu perusahaan memang super duper bonafid sekelas Google atau Microsoft misalnya.

Nah karena kandidat tersebut memang secara kompetensi tidak cocok, ya tidak diambil sama kantor saya. Dua hari lalu, saya menerima sms darinya. Dia bilang bahwa dia sudah bekerja di perusahaan lain, tapi apabila di kantor saya masih buka kesempatan dia tetap mau ke kantor saya. Hmmmm…..rada speechless sih. Asli baru pertama kali bertemu yang model begini. Super ngarep maksimal abis-abisan.

Itu satu cerita. Cerita berikutnya adalah tentang seorang eks karyawan di perusahaan saya. Dulu karyawan ini direkrut dengan kondisi sudah cukup berumur, yaitu sekitar 35 tahun. Secara skill dan portofolio memang standar saja, namun tetap direkrut karena secara salary beliau masih bisa menyesuaikan dengan tawaran kantor saya. dan tentunya kami berharap ia bisa lebih berkembang di siini.
Lalu setelah bekerja, terlihat bahwa beliau pasif. Entah karena faktor umur makanya ga mingle sama karyawan lain yang jauh lebih muda, atau karena memang pembawaan dari oroknya pasif.
Secara skill, ia pun masih tetap standar walau sudah mendapat “suntikan” ilmu dari para senior di sini. Akhirnya dengan berat hati, waktu itu kontraknya tidak diteruskan, lebih kepada persoalan skillnya yang gak improve samasekali.

Lepas dari kantor ini, sekitar satu tahun berikutnya beliau mengontak saya lagi, bertanya apakah ia boleh melamar kembali di kantor saya? Beliau merasa lebih pede karena selepas dari kantor saya ia bekerja di perusahaan lain yang otomatis memperkaya portofolionya. Jujur saya bingung mau jawab apa sama beliau. Sembari ia bertanya, ia kembali menge-mail CV dan portonya ke saya. Tidak ada kemajuan, kalau pakai ukuran perusahaan saya. Portonya masih standar dari kacamata kami.

Empat tahun berlalu, sampai kemarin saya mendapati orang yang sama menge-mail saya. Mengirimkan CVnya dan porto yang sama. Ada penambahan sedikit visual-visual yang ia kirim, namun tetap masih jauh dari standar kantor saya. Dengan demikian,…..ya tetap tidak bisa direkrut.

Dua cerita di atas.

Satu sisi membuat saya berpikir dan bingung. Satu sisi merasa kasihan. Sebagai catatan, bisa jadi cerita ini terjadi di perusahaan lain juga, di mana ada orang-orang yang super berharap hanya pada satu perusahaan tersebut.
Mengapa ada orang-orang seperti ini? Bukankah rezeki tidak hanya bergantung pada satu pintu saja? Mengapa tidak mencoba jadi oportunis saja? Mengapa seperti menutup diri dari kemungkinan dan kesempatan di luar sana? Mohon kesampingkan pikiran bahwa “mungkin perusahaan/kantormu memang OK banget makanya banyak banget yang berharap bisa bekerja di situ.” Wah perusahaan saya mah gak ada seujung kukunya perusahaan kelas dunia macam Amazon sekalipun.

Mengapa tidak belajar dari kisah hidup Jak Ma-nya Alibaba, yang melamar ke 30 perusahaan dan ditolak semua. Yang melamar kerja di KFC di kota tempat tinggalnya, dan dari 24 karyawan hanya dia yang tidak diterima? Bukan berarti harus jadi sukses jadi wiraswasta mirip Jack Ma ya, tapi intinya ya “tebar pesona” lah ke manapun kau bisa. Sekali lagi, rezeki itu kita gak pernah tau datang dari pintu yang mana. Yang penting yuk kita usaha dulu, jangan menutup diri dan bergantung hanya pada satu tempat saja.

Ah sampai saat ini saya masih speechless deh….
signature

Advertisements

10 thoughts on “Cerita Dua Pelamar

  1. Blog Sabda says:

    tampaknya mereka memang ngarep banget kali ya mbak atau mungkin belun ketemu perusahaan lain yang harapannya sesuai dengan perusahaannya mbak, makanya dia kekeh apply terus, padahal kalau mau usaha lebih dia bisa aja menemukan tempat lain,

    itu tadi, lempar cv ke banyak tempat

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Kalau belum bertemu perusahaan sesuai harapan sebaiknya ya nyari lagi yang lain ya, lempar lagi CV ke ratusan perusahaan yang masih butuh SDM di luar sana 🙂 Terima kasih Sabda sudah mampir di sini ya

      Like

  2. Crossing Borders says:

    Mel, aku mantan orang personnel/HR, tapi aku juga mantan “kutu loncat”, dalam 12 tahun aku kerja di 6 perusahaan yg berbeda..hahaha.. Jadi intinya aku sering banget “tebar pesona” trus pindah ke “lain hati”.. Jadinya suka kagum dan heran sendiri sama orang yg bisa kerja di satu perusahaan sampe berpuluh-puluh tahun gitu..

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      iya memang seharusnya gitu. Namanya nyari peluang kerja ya mesti ke mana-mana ya Emm, jangan mandeg di satu tempat aja.
      Soal kerja di satu perusahaan sampe berpuluh2 tahun biasanya karena udah berada di comfort zone abis dan udah males move on hehe 🙂

      Like

  3. Audrie says:

    kebetulan banget ada temen yang casenya ‘bergantung pada satu pintu’ (macem PTSP dong ya). beberapa bulan lalu memang aku kasih info lowker di salah satu perusahaan ke temenku ini, kebetulan posisi yg dibutuhkan adalah admin. setelah temenku ngirim CV dll ke perusahaan tsb, rupanya temenku dinilai kualifikasinya agak ketinggian oleh si perusahaan, jadi perusahaan tsb rada jiper kalo ntar temenku ini minta gaji ketinggian. yasud aku sampaikan apa adanya. tapi rupanya si temenku ngarep buanget sama perusahaan ini dengan alasan kantor deket dari rumahnya, dia minta aku sampein aja dia bersedia kok nego gaji. udahlah aku sampein lagi ttg rekuesnya si temen (penyambung lidah banget ye), dan cuma dijawab bahwa akan dipertimbangkan.
    tapi ya bok… ini si temen rajin nanyain perkembangannya gimana, dia jadi bisa diterima apa enggak, posisinya masih avail apa enggak, kok dia belum dipanggil2 juga?? di satu sisi aku paham si temen ini emang uda rada berumur dan dia bilang ‘tersiksa banget’ di kantor yang sekarang, cuma yaa ngga enak juga dicecarin gini keless. haisshh

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Nah another sample ya Drie. Ternyata banyak juga yang model seperti ini. Sampe mau banting harga/turun gaji demi mendapatkan pekerjaan di satu perusahaan impiannya saja.
      Duh kebayang jadi perantara begitu, nyesek ya ditanya-tanya melulu. Gak tenang makan dan tidur padahal bukan urusan kita karena kita cuma messenger dan bukan pengambil keputusan ya Drie. Terima kasih sudah berbagi pengalaman di sini 🙂

      Like

  4. jessmite says:

    Kasian juga sama si pelamar di cerita mbak, tapi serba salah nggak enak ya… Saya juga akhir-akhir ini ngelamar pekerjaan di beberapa tempat, awalnya sih masukin lamaran dan ikut testing dengan perasaan “nothing to loose” tapi lama-kelamaan kok jadi ngarep juga hehehe…

    Liked by 1 person

    • imeldasutarno says:

      Hehehe….mudah2an perasaan ngarepnya terus terkikis ya Ntan..karena kita enggak pernah tau dari perusahaan yang mana rezeki kita akan mengucur. Semoga cepat dapat pekerjaan ya, amiin….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s