Hari yang Kacau

Di postingan sebelumnya saya bercerita tentang bad day versi mbak Mawar. Bukan berarti saya gak punya loh. It’s start in the morning, May 13, 2018.
Hari Minggu ini terakhir Alun les berenang sebelum bulan puasa nanti stop total dan baru mulai lagi sesudah Lebaran. Saya yang bertugas mengantarnya.

Pak suami sudah ada jadwal kerja bakti pagi hari di RT. Otomatis kami harus naik transportasi umum. Kami memilih taxi online saja.

Saya memesan. Apes dan KZL. Drivernya semula menjawab chat saya dengan menginfokan posisinya yang seharusnya tak jauh dari rumah saya. Lalu saya perhatikan di map ia bergerak dan anehnya semakin menjauh dari titik GPS rumah saya. Ditambah mood PMS, lengkap sudah semua ke-KZL-an saya hari ini.

Saya cancel. Kemudian mencoba order taxi online dari aplikasi yang berbeda. Anehnya aplikasi seperti hang di mana tarif tidak bisa keluar di layar, dan hape seperti loading terus. Padahal waktu untuk mulai les renang tinggal sekitar 15 menit lagi. Lokasi kolam renangnya pun tak bisa dibilang dekat, yah sekitar 30-45 menit dari rumah. Duh duh duh…..

Karena nampak seperti hang, refleks tangan ini menyentuh teks RESTART. Bukannya masuk kembali ke sistem, layar hanya menunjukkan tongkat neptunus alias logo USB…..

Cara Mengatasi Zenfone Stuck di Logo USB dan Tidak Masuk DroidbootRecovery

Gambar dari trikandroidsaya.blogspot.co.id

Aaaaaarghhhh…..kuingin makan aspal rasanya. Karena kejadian stuck di logo USB ini sungguhlah horor buat saya. Ini kejadian kedua. Satu tahun lalu pernah seperti ini, dan saya sudah mengikuti seluruh tutorial manual mengatasi logo USB ini, namun hasilnya nihil. Endingnya ya ke tukang servis hape di Mal Ambasador, dan kerusakan dompet saat itu mencapai 350 ribu. Entah memang harga untuk perbaikan segitu besar atau sebetulnya saya ketipu, saya waktu itu ga peduli. Yang penting hape saya bener kembali. Berhubung bukan programmer apalagi spesialisasi di android, saya ho oh aja ketika tukang servis bilang bahwa kerusakan ini adalah pada sistem apalah gitu.

Dengan munculnya kembali nightmare tongkat neptunus ini….maka semakin kacaulah rencana mau ke kolam renang. Waktu terus berlalu. Saya bilang ke anak kalau kita benar-benar tidak bisa pesan taxi online dan mau tidak mau harus jalan ke arah jalan besar untuk naik angkot atau taxi. Atau…les renang hari ini batal samasekali karena saya udah bad mood banget.

Tapi anak saya tetap mohon biarin aja telat yang penting datang. Ya ya ya….ibu tau banget nak, kamu mah gila air anaknya a.k.a demen banget main segala sesuatu yang berbau air. Misalnya ada empang deket rumah juga kayaknya mah dia bakalan mau aja tuh nyemplung di situ saking addictnya sama main air.

Lalu bagaimana dengan device untuk komunikasi? Alhamdulilah masih diberi jalan sama Allah. Saya masih punya device cadangan yang meskipun spesifikasinya jauh lebih rendah dari hape utama, namun sungguhlah bermanfaat. Buru-buru saya memindahkan SIM CARD ke hape cadangan. Yang penting bisa buat terima telepon dan sms-an. Urusan WA dan lain-lain nanti dululah.

Lalu terburu-buru saya berdua anak jalan ke arah pinggir jalan besar.

Penyelamat bisa hadir dalam bentuk apa saja. Termasuk seorang abang ojek pangkalan yang tampilannya juga bersih dengan motor bebek yang layak. Beliau mangkal di tempat yang sama saya menunggu taxi yang tak kunjung lewat. Alhamdulilah beliau tukang ojek yang paham daerah Duren Sawit Pondok Kelapa dan sekitarnya. Sekali sebut nama kolam renang yang kami tuju, dia udah paham. Akhirnya setelah tawar-tawaran harga, kami pun cuss dengan deg-degan. Gimana gak deg-deg an, yang pake helm si abang doang. Saya sama anak gak pake. Yah begitulah salah satu suka duka naik ojek pangkalan.

Singkat cerita kami sampai di kolam dengan terlambat 15 menitan. Anak kemudian tetap les dengan gurunya.  Saya lalu mengutak atik hape cadangan, yang ternyata minta diupdate ini itu. Akhirnya terinstal-lah WA dan setting-an e-mail kantor. Alhamdulilah.

Usai les, dijemput pak suami, dan makan siang di warung sop ayam Klaten, kami tiba kembali di rumah sudah pukul 12.00 WIB. Karena capek plus terik matahari, saya langsung duduk di depan TV dan tangan spontan memencet remote. Pengen leha-leha sembari nonton TV.

Kaget bukan kepalang. Ternyata selama saya mengalami kekacauan dari pagi, sampai akhirnya tiba di kolam renang, nungguin anak les sambil berpanas terik ria, dan bisa pulang dengan selamat sampai rumah……di Surabaya ada 3 gereja dibom. Saya gak tau samasekali karena gak browsing inet selama les berlangsung.

Kekacauan hari saya gak ada apa-apanya dibanding apa yang dialami para korban di Surabaya. Malu saya. Dan kehancuran hati semakin menjadi ketika tau ada 4 anak tak berdosa diajak bunuh diri bareng ortunya. Saya pandang Alun anak saya. Usianya hampir sama persis seperti gadis cilik yang diajak bunuh diri oleh ibunya di GKI Jalan Diponegoro.
Ya Allah, ini sudah di luar nalar manusia….semua orang normal kehabisan kata-kata.

Dan seketika tugas menjadi orang tua menjadi bertambah satu lagi. Bagaimana terus mendampingi dan mengasihi anak agar mereka terhindar dari paham radikalisme yang berujung seperti para bomber di Surabaya. Bukan tugas yang mudah, terutama di tengah zaman serba mudah serba digital ini. Mari bismillah bersama, kuatkan hati, kuatkan niat demi anak-anak kita. Semoga Allah memudahkan jalan untuk membimbing anak-anak kita terhindar dari semua pengaruh negatif dan berbahaya.

Maaf nulisnya ngalor ngidul gak beraturan….sampai nulis postingan ini hati dan pikiran saya masih muter di anak-anak tak berdosa yang diajak bunuh diri itu. I feel screwed up
😦

Jakarta, 14 Mei 2018
signature

Advertisements

3 thoughts on “Hari yang Kacau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s