Tentang rapat dan mukena

Masih dalam edisi Ramadhan. Gak kerasa udah masuk hari ke-12. Mbak ART udah mengumumkan tanggal mudiknya. Sudah tentu harap-harap cemas. Akankah ia kembali lagi ke Jakarta sesudah mudik dan menghabiskan tahun kelimanya bersama kami? Ah saya gak mau terlalu menggantungkan ekspektasi yang tinggi. Nanti sakit rasanya kalo terlalu ngarep dan ternyata semua buyar gak sesuai rencana.

Ngomongin soal Ramadhan, sudah tentu gak lepas dari aktivitas sholat tarawih. Saya baru aja nulis di From Where I Sit-Musholla tentang apa aja yang saya lihat selama berada dalam rumah ibadah tersebut.

Nah sebetulnya ada dua hal lagi yang mengganjal di hati selama ini. Kaitannya masih soal shalat di masjid. Dan melalui bloglah akhirnya kuungkapkan semuanya *iki uopo yo bahasane?*

Pertama soal sahnya shalat berjamaah.
Ilmu agama saya cetek. Miskin banget. Ditambah saya gak jilbaban. Double banget sudah. Tapi hati saya selalu resah, saban kali datang ke mesjid. Dan mendapati kita semua harus shalat dalam deretan yang renggang.

Padahal sejatinya, yang saya baca dari berbagai sumber, shalat jamaah itu akan afdol jika bahu ketemu bahu di dalam satu deretan jamaah. Rapat gitu istilahnya. Sementara yang terjadi selama ini………sajadah di pasaran diproduksi dengan lebar yang bagaikan karpet terbangnya Aladdin. Lebar bok.

Dan pemahaman kita termasuk saya adalah: ketika menggelar sajadah di mesjid, maka satu sajadah itu ya untuk satu orang. Mau lebarnya sealaihim, ya untuk satu orang. Pemahaman ini ditambah dengan karpet mesjid yang sama. Lihatlah karpet mesjid standar berwarna hijau. Satu blok untuk satu orang itu lebar sekali. Bisa muat dua orang dempet-dempetan mestinya. Tapi logika kita begitu liat satu blok begitu ya lagi-lagi…..untuk satu orang.

Jasa-Cuci-Karpet-Sajadah-Masjid

Karpet masjid nan legend itu. Gambar dari jasacucisofabekasi.com

Akibat yang terjadi, puluhan sajadah lebar digelar (sudah mencari sajadah sempit di pasaran) dan jamaah shalat dalam kondisi renggang-renggang. Padahal menurut sumber yang saya baca, sebaiknya tidak renggang karena renggang adalah jalan masuknya syaitan.

Nah itu dari sisi agama. Tetapi dari sisi realita apa yang sering terjadi? Saling merapatkan diri terkadang menghilangkan kekhusyukan. Terutama saat harus duduk di antara dua sujud, terasa berdesakan. Saya pernah mencoba, tidak rapat seratus persen namun hanya dekat sekali dengan jamaah di sebelah saya, mungkin jarak antar bahu hanya sekitar 5 cm. Yang dirasakan, saat duduk di antara dua sujud, harus pandai-pandai mengatur karena desak-desakan rasanya. Hal yang sama dirasakan jamaah sebelah saya, yang terlihat bergerak-gerak mengatur posisi duduknya agak tidak mengambil jatah saya. Sejujurnya saya belum pernah berada dalam situasi saf yang sangat rapat, bahu ketemu bahu.

Lalu saya yang awam ini perhatikan video di Youtube, shalat tarawih di Istiqlal. Acuan saya ini, karena Istiqlal adalah masjid terbesar di Indonesia. Yang saya lihat sama saja….masih banyak yang safnya renggang.

Kedua, masalah bau mukena. Mohon maaf sekali ini nampaknya case yang cukup sensitif, namun di sisi lain ya mengganggu kekhusyukan jamaah lain. Kita tidak pernah bisa memilih siapa yang akan berdiri shalat di samping kita. Pun kita tidak bisa menasihati setiap orang agar membawa mukena yang super wangi harum berseri ke masjid. Yang ada kita dipelototin orang lain kali karena sok sok nasihatin.

Tapi sejujurnya persoalan bau mukena ini cukup mengganggu. Bisa jadi di mata orang lain pun saya ini sama, alias dianggap bermukena bau. Menurut saya masih layak pakai, bau asemnya baru dikit (hahahaha jangan dicontoh ya) tapi bagi orang lain itu udah membuyarkan konsentrasinya di detik pertama saya berdiri di sampingnya.
Dan begitu pula sebaliknya.

Huhuhuhu….ku sungguh galau. Mungkin memang ada baiknya cek ricek mukena kita dulu sebelum pergi ke masjid, apakah masih layak pakai? Apakah masih bersih tidak bau apek, keringat dll. Ini juga pengingat untuk diri saya sendiri.

Itulah dua hal yang mengganjal ketika Ramadhan datang. Untuk point yang pertama, sekali lagi mohon maaf jika pemahaman agama saya masih acak adul, gak mendalam.
Kalau kamu pernah juga gak mengalami dua hal seperti saya itu? Yuk cerita-cerita di komen.
signature

Advertisements

5 thoughts on “Tentang rapat dan mukena

  1. mayang koto says:

    poin pertama, emang jadi buah simalakama mbak. kalo terlalu rapet ntar pas duduk antara 2 sujud sama duduk terakhir susah narok kaki ;D
    kalo gak dirapetin malah terlalu renggang. sajadah orang jaman sekarang memang luar biasa lebarnya ^^’
    terus lagi pada gak mau ngalah pas menuhin saf shalat. yg udah pewe di ujung kanan gak mau ngegeser ke tengah. begitupun sebaliknya. alhasil safnya bolong di tengah ^^’ (ini kejadina di hari biasa yg mana masjid sepi)

    Liked by 1 person

  2. ndu.t.yke says:

    Klo di Masjid Al Falah Surabaya, pake karpet polos biasa warna hijau. Jd gak bermotif gambar masjid gitu. Cm dikasih bentangan kain panjang warna putih sebagai penanda area untuk sujud. Sehingga shafnya pun rapat luar biasa, hahaha. Pernah sholat taraweh disana dan merasakan kerapatannya yg bikin tahiyat akhir jd agak sulit. Saking rapatnya. Masyaalloh.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s